
Setelah makan malam, keluarga kecil itu berkumpul di depan ruang tengah untuk menonton televisi bersama. Farel sengaja menyambungkan sinyal internet pada televisinya untuk menonton film yang khusus mengharuskan menggunakan data internet.
"Kalian mau nonton apa?" tanya Farel mulai memncet tombol remote untu memilih film yang akan di tonton.
"Mau film disney Mas. Bagus -bagus, yang drama romantis gitu? Tapi, Kia suka film apa?" tanya Vale lembut. Valeria tidak bisa egois agar Farel mengabulkan keinginannya, disini ada Kia, adik perempuannya yang manja, dan ada Ibu yang juga harus di hormati permintaannya.
"Kia suka film romantis dan kartun. Boleh drama romantis juga, pasti seru banget," ucap Kia sumringah.
"Oke kita nonton film drama komedi romantis. Persiapkan diri kalia, bisokop akan di mulai. Kita pilih dulu filmnya ya," ucap Farel semangat.
"Siap. Kia mau ambil cemilan dulu," ucap Kia antusias.
"Yuk. Kak Vale mau buatin kopi buat Mas Farel sekalian," pinta Vale pelan.
Dua kakak adik bukan sekandung itu sudah akrab dan mudah beradaptasi satu sama lain. Sejak Valeria datang suasanannya makin lebih seru, Kia juga makin cocok punya Kakak perempuan seperti Valeria, yang bisa menjaga, bercerita bebas, serta sayang pada Kia.
Saat berada di dapur, Vale membuat kopi untuk Farel, suaminya, lalu susu putih untuk dirinya sendiri.
"Kamu mau susu juga Kia? Biar Kak Vale buatkan sekalian?" tanya Vale yang sudah emnyedeh air panas ke dalam dua cangkir yang sudah berisi serbuk minuman.
"Boleh Kak," jawab Kia santai.
Vale pun membuat satu minuman susu putih lagi untuk Kia.
Kia juga sudah menyiapkan beberapa toples cemilan kering dan keripik serta beberapa jenis bolu sisa pengajian tadi di dalam piring besar.
Vale dan Kia sudah kembali ke ruang tengah. Terlihat Ibu maryam sedang bercakap serius dengan Farel, putranya. Entah apa yang sedang di bicarakan keduanya. Tiba vale dan Kia datang keduanya langsung teerdiam seolah tidak sedang membicarakan hal penting. Vale tahu itu. Seharusnya Ibu Maryam bicara saja tidak masalah, ada atau tidak ada Valeria. Tidak perlu di tutupi atau sembunyi -sembunyi, lebih baik terbuka dan transparan. Toh, Valeria juga kan sudah menjadi bagian keluarga ini, Ibu Maryam juga sudah di anggap Ibunya sendiri, Vale sendiri sudah SAH menjadi istri Farel, tentu tidak masalah dong.
Kia menggelar karpet bulu kesukaannya dan mletakkan beberapa boneka bantal yang besar dan meletakkan beberapa cemilan di lantai yang sudah di pasang karpet.
"Ibu tidur duluan saja ya. Besok pagi Ibu harus jualan di pasar, takut kesiangan," ucap Ibu Maryam pelan.
"Iya Bu. Mau Farel pijit?" tanya Farel dengan sopan.
Ibu Maryam hanya tersenyum mengangguk lalu pergi ke kamar tidurnya.
"Sayang, Mas pijit Ibu dulu ya? Kasihan Ibu. Kamu nonton saja sama Kia," titah Farel pada Valeria.
"Iya Mas. Minum dulu kopinya mumpung masih panas, enak gak?" ucap Vale pelan.
Farel mengangguk kecil dan mengambil satu cangkir kopi lalu di seruput dengan nikmat. Kopi buatan istrinya memang sangat berbeda. racikannya selalu pas dan mantap. Sepertinya Valeria memang tahu selera Farel seperti apa.
Farel mengecup kening Vale dan pergi ke kamar Ibu Maryam.
"Kita nonton sekarang yuk," ajak Vale sambil menekan tombol play pada remote TVnya.
Zaskia mengangguk senang. Sedikit iri sih, melihat kemesraan kedua kakaknya di depannya saat ini.Dulu Farel selalu memanjkan Kia, tapi sekarang tidak akan mungkin lagi, karena Farel pasti akan memilih Vale untuk di manjakan.
"Mas farel sayang banget sama Kak Vale ya?" ucap Kia dengan nada iri.
Vale menoleh ke arah Kia dan Kia juga menatap ke arah Vale.
"Mas Farel lebih sayang sama Ibu dan Kia. Kak VAle hanya orang baru, yang kebetulan kita cocok dan saling sayang," ucap VAle mncoba untuk tidak merebut posisi farel sebagai anak dan Kakak di rumah ini.
"Lagi pula, Kia kan udah ada Kak Vale, kita bisa jadi sahabat, kalau mau curhat," ucap vale pada Kia.
Kia cuma tersenyum dan memeluk Vale. Kia memang kurang kasih sayang. Ibunya memang baik dan perhatian, tapi selama ini Ibu Marym sibuk berjualan hingga sore, dan setelah maghrib ikut pengajian samapi malam lalu pulang untuk tidur. Kia merasa dirinya terabaikan. Memang jika meminta sesuatu pasti Ibu Maryamn belikan. Tapi bukan hanya itu yang di butuhkan Kia, Kia butuh kasih sayang.