The Magic Of Love

The Magic Of Love
24



Liburan semester ganjil sudah selesai. Besok adalah awal perkuliahan di semester genap. Hubungan Valeria dan Farel baik -baik saja. Mereka hanya berkomunikasi melalui pesan singkat tanpa mau menerima telepon.


Sudah satu bulan ini Valeria menjalani kesendirian tanpa Farel. Kulaihnya baik -baik saja, bahkan Valeria juga sedang memepersiapkan tema untuk skripsinya. Minimal ia mau cicil agar tidak kelabakan nantinya.


Jujur, Valeria masih kecewa dengan sikap Farel. Valeria sendiri sudah sibuk bekerja part time di malam hari. Valeria sengaja mengambil shift malam agar tak mengganggu kuliahnya dan tugas kuliah yang di lakukan secara berkelompok.


Malam ini seperti biasa, Valeria pulang malam sekitar pukul dua belas malam. Jaerak warnet itu tidak jauh karena berada dalam kompleks yang sama.


"Valeria ...." panggil Farel yang sudah berdiri di belakang Valesia saat emngunci pintu rolling door ruko tersebut.


Valeria menoleh ke belakang dan menyimpan kunci itu di tas slempangnya.


"Mas Farel?" ucap valeria terkejut dengan kedatangan farel yang tiba -tiba. Farel tidak tahu kalau Valeria sedang bekerja part time.


"Ini kerjaan kamu setiap malam? Kamu sulit Mas telepon, kamu susah Mas hubungi dengan berbagai alasan?" tanya Farel pelan. Nada suaranya masih tenang dan belum emnampakkan marah karena kecewa.


"Kenapa? Ada yang salah? Valeria bertanggung jawab sama kuliah sama tugas kulaih juga. Bukankah yang penting bisa membagi waktu?" ucap Valeria beralasan.


"Ohhh sudah pinter alasan?" tanay Farel pada Vale.


"Ngomong apa sih Mas?" tanya Valeria yang kemudian pergi begitu saja. Kedua matanya muali mengantuk. Tubuhnya juga lemas.


Farel berjalan di belakang Valeria. tiba -tiba saja, Valeria muntah -muntah. Valeria segera minggir ke dekan gorong -gorong dan memuntahkan isi perutnya ke luar. Farel langsung berlari menghampiri Valeria dan memijit tengkuk lehernya.


"Kamu kenapa? PAsti kamu kelelahan Vale. Sudahlah, Mas amsih sanggup membiayai kamu. Memangnya uang di dalam ATM itu sudah habis?" tanya Farel pada Valeria.


Valeria menagkat wajahnya. dan tersenyum kecut.


"Aku gak pakai uang itu Mas. KAu mau usaha sendiri, membiayai hidupku sendiir. Lagi pula ATM itu tak bisa di gunakan," ucap Valeria ketus.


"Hah? Masa sih? Gak mungkin, itu ATM baru," ucap Farel yang tidak percaya.


"Astagfirullah ... Maaf sayang. No pinnya ulang tahun kamu. Maaf aklau MAs lupa ngasih tahu pada kamu," ucap Farel pada Valeria.


Valeria menatap lekat wajah farel. Ia rindu sosok Farel. Ia rindu pelukan Farel. Ia rindu sentuhan Farel. Ia rindu semuanya yang ada di Farel.


VAleria langsung emmeluk Farel. Ia tidak bisa memendam arasa rindunya.


"Aku hamil Mas," ucap Valeria lirih.


Farel ikut memeluk tubuh Valeria dan menatap istrinya tidak percaya.


"Yakin? Kamu sedang hamil? Kamu sudah periksa, Sayang?" tanya Farel pelan.


Valeria mnegangguk kecil dan etrsenyum.


"Sudah pakai test pack. WAktu itu Vale curiga kenapa mual -mual terus. ini yang Vale takutkan Mas. Vale hamil tapi Mas Farel gak ada di sini," ucap Valetria pelan.


"Sayang ... Mas juga gak bisa lama -lama di sini. Hanya mau urus pindah Kampus saja," ucap farel pelan.


Vale hanya mengangguk pasrah. Ini sudah menjadi resiko keduanya. Valeria yang tetap pada pendiriannya tidak mau pindah kampus.


"Ibu gimana kabarnya?" tanya Valeria pelan.


"Ibu baik. Operasinya lancar. Sekarang sudah mulai kemoterapi. Ibu pasti senang denagr berita baik ini. Kalau menantunya sedang hamil," ucap Farel bahagia sekali.


"Mas ... Aku semester pendek KKN. Mungkin saat itu aku lagi hamil besar," ucap Valeria membuat Farel makin bingung.


Kalau di hitung secara waktu. Saat semester pendek perkiraan kehamilan Valeria berusia tujuh bulan. Saat skripsi barulah Valeria melahirkan.


Jadi saat wisuda nanti, Valeria suda memiliki anak yang ikut berfoto dengan toga kebanggaannya.