
Malam semakin larut, selesai acara pernikahan tersebut. Farel dan Vale sudah berada di dalam kamar pengantin mereka. Keduanya kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang SAH di mata agama dan negara. Semua rangkaian acara perniakhan itu berjalan dengan sangat lancar dan sukses.
Farel sudah berada di kasur dan sibuk dengan ponselnya yang sejak sore berdering nyaring. Karena Farel masish dalam acara genting, ponsel itu dibiarkan saja dan di matikan notofikasinya. Kini, ia sibuk memabalas dan sesekali menelepon orang yang sejak tadi meneleponnya sambil memberikan jadwal tanggal yang ia bisa. Sepertinya ada orang yang ingin memakai jasa fotografernya.
"Mas ... Mau kopi? Atau Teh, mungkin?" tanya Vale pelan.
"Ekemm ... Apa saja," jawab Farel lembut.
Vale hanya mengangguk dan keluar dari kamar tidurnya menuju dapur untuk membuat kopi.
"Belum tidur Kak?" tanya Ibu yang sedang merapikan sisa makanan yang masih ada dengan memasukkan ke dalam panci dan di tutup rapat agar besok bisa di hangatkan.
"Ehhh Ibu. Belum Bu, habis beres -beres. Lusa kayaknya ke Surabaya, di sana juga gak lama, Mas Farelnya sudah ada job foto, ini juga di telponin aja sama yang pesen jadwal," ucap Vale pada Ibunya.
"Ya Bagus dong, Kak. Setelah menikah rejekinya semakin lancar. Kamu harusnya seneng dan terus berdoa biar makin banyak job Farel," ucap Ibu pada Vale.
"Iya Bu. Vale ke dalam dulu ya, Bu," ucap Vale pelan.
Vale kembali ke kamar tidurnya dan mengunci kamar tidurnya lalu meletakkan kopi buatannya di atas meja belajar milik Vale. Vale melirik ke arah Farel dan menatap lelaki itu sudah tidak sesbuk tadi hanay bermain ponsel membalas beberapa chat saja yang mungkin smepat tertumpuk.
"Ini Mas kopinya," ucap Vale pelan. Vale berjalan ke arah tempat tidurnya dan tidur di sisi yang lain. Tubuhnya sudah terasa lelah dan kedua matanya mulai mengantuk.
Tubuh Vale sudah naik ke ranjang dan berbaring di bawah selimut bulu yang tebal. rasanya sungguh nikmnat saat punggungnya menyatu dengan kaur empuk miliknya.
"Kamu mau tidur?" tanya Farel lembut dan mematikan layar ponselnya allu di letakkan di atas nakas yang ada di seblah ranjang.
"Mas mau di temani dulu? Vale temani, gak apa?" ucap Vale lirih. Kedua matanya sudah terlihat sayu dan hanya bisa melihat dengan kekuatan lima watt saja.
"Gak usah. Sini, Mas peluk biar tidurnya nyaman," titah Farel pelan.
Vale mendadak panas dingin, kedua matanay yang semula sudah muali mengantuk tiba- tiba saja terbuka lebar dan tidak mengantuk lagi. rasanya masih canggung jika harus tidur berhimpitan dan berpelukan. Tidur dalam satu ranjang saja, Vale masih tak percaya kalau dirinya sudah menikah dan sudah menjadi istri Farel.
Vale terdiam dan hanya menatap Farel.
"Kenapa? Malu ya? Masih canggung? Makanya di mulai biar lama -lama terbiasa," ucap Farel pelan.
Benar kata Farel baru saja. Kalau tidak di mulai untuk di biasakan maka sampai kapan pun tidak akan terbiasa.
Vale pun beringsut mendekati Farel. Lelaki yang dulu adalah teman satu genknya, sahabatnya dan kini berubah status menjadi suami tanpa ada pacaran terlebih dahulu.
Tubuh mungil Vale sudah berada dalam dekapan Farel. Kepala Vale tidur di lengan kekar Farel dan keduanya berada dalam satu selimut berbulu yang hangat.
Farel hanya mendekap tubuh Vale dengan erat tanpa melakukan pergerakan apapun.
"Mas ... " panggil Vale dengan suara lirih.
"Ya ... Ada apa?" tanya Farel lembut sambil memejamkan kedua matanya.
"Aku mau selesaikan kuliah dulu, baru program untuk punya anak ya," ucap Vale ragu mengungkap keinginannya itu.
"Kenapa? Bukankah, anak itu anugerah sekaligus amanah? Tapi kalau kamu memang belum ingin memiliki anak dan belum siap punya anak, gak masalah, Mas tunggun kamu siap. Mas tidak akan memaksa," ucap Farel pelan.
Farel tidak mau membuat suasana malam ini menjadi runyam. Lebih baik mengalah, dan menunggu Vale, istrinya siap untuk segalanya.
Masih banyak waktu dan masih banyak kesempatan untuk berubah pikiran. Farel tidak mau berdebat untuk hal kecil seperti itu.
"Mas Farel gak marah?" tanay Vale pelan.
"Gak. Buat apa marah," ucap farel pelan.
"Tapi ini kan malam pertama, biasanya, malam terindah dan spesial untuk pasangan pengantin baru," ucap Vale pelan.
"Mas gak mau memaksa kamu. Kalau kamu siap, Mas akan memulai, tapi kalau kamu tidak siap, ya sudah, gak perlu di paksa juga kan," ucap Farel pelan dan mendekatkan wajahnya pada wajah Valeria, istrinya.
Valeria masih menatap kedua mata Farel yang juga menatap dirinya lekat. Wajahnya semakin di dekatkan hingga bibir Farel menempel pada bibir mungil milik Vale. Farel sengaja hanya menempelkan saja, menunggu Vale bergerak dan merespon. Jika tidak ada respon, kemungkinan Valeria memang belum siap untuk melakukan hubungan yang lebih intim.
Farel mencoba mengecup dan mencium bibir mungil Vale agar kedua bibir itu membuka sedikit sehingga bibirnya memiliki celah untuk saling mengungkap perasaan mereka satu sama lain melalui ciuman mesra itu.
Valeria yang hanyut dalam suasan malam dan sunyi, mulai membuak bibirnya dan keduanya mulai berciuman dari ritme yang pelan hingga agak sedikit memanas. Vale tak keberatn, toh, pada kenyataannya memang mereka sudah menikah. Ibunya juga berepsan tadi untuk tidak nmenolak apa yang jadi keinginan Farel, suaminya.
Cukup lama mereka berciuman, tangan Farel yang semula berada di wajah Vale pun mulai turun mengikuti lekukan tubuh Valeria yang indah, hingga tangan itu terrhenti di pinggang Vale dan merapatkan tubuh Vale hingga menghimpit tubuhnya tanpa ada jarak.
Ciuman itu pun terelpas. Vale melepasnya, arsanya ia kekurangan oksigen dan sedikit kekurangan napas.
"Maaf ya. Kamu gak suka?" tanya Farel ragu. Takutnya Valeria merasa tidak nyaman dengan aktivitas mereka baru saja.
"Suka kok Mas, cuma agak sesak aja, gak bisa napas," ucap Vale pelan.
"Kamu cantik," ucap Farel memuji.
"Itu kata Mas," ucap vale terkekeh.
"Lho memang bagus kata suami. Jangan mau di puji sama lelaki lain, tentu itu setan yang berbicara," ucap Farel pada Vale.
Farel mulai candu dengan ciuman bibir yang baru pertama kali ia lakukan itu. Senikmat ini menikah itu. Merasakan sesuatu yang sudah halal itu ternyata nikmatnya di tambah, karena melakukan tanpa beban dan tanpa ada arsa takut.
Mereka saling memuji dan Farel sesekali mencium pipi Vale dan berakhir ciuman pada bibir mungil Vale. Farel yang masih bisa mengontrol nafsunya pun mulai hanyut dalam suasana dan kondisi yang sanagt memungkinkan itu. Farel membaringkan Vale, masih dalam posisi berciuman dan kini tangannya mulai bergerilya mengikuti nafsu dan naluri kelaki -lakiannya.
Bibir Farel pun mulai merambah ke bagian lain, bukan hanya bibir Vale tapi juga leher mulus Vale sudah di telusuri dengan bibirnya.
Valeria hana pasrah dan sesekali merasakan ada denyut aneh di bagian bawah serta sedikit merasakan basah. Ciuman yang diberikan Farel cukup membuat tubuhnya sedikit bergelinjang dan menginginkan lebih dan lebih lagi.
Farel mengangkat wajahnya dan mulai bertanya pada Vale.
"Kalau Mas ingin dan saat ini tidak bisa menahan syahwat Mas, apa kamu ingin menunda juga?" tanya Farel lirih.
Pertanyaan Farel cukup membuat Valeria dilema, hanya anggukan pasrah jawaban akhir dari Valeria.