
Malam ini, Valeria tidur di kost Farel yang jaraknay sedikit lebih jauh. Farel akan tinggal di kota itu selama beberapa hari. Ibu Maryam menyuruh Farel untuk menjenguk Valeria dan jangan di biarkan terlalu lama sendiri.
Saat ini sudah pukul satu dini hari, Farel menyuruh Valeria duduk dan membuka makanan yang di beli di sepanjang jalan trotoar, warung tenda kaki lima. Valeria memilih ayam bakar begitu juga dengan Farel yang memilih menu bebek rica -rica.
"Mau makan sendiri apa di suapin?" tanya Farel pelan.
"Makan sendiri saja. Udah malam, Vale juga udah capek. Besok ada kuliah pagi," ucap Valeria pelan.
Farel hanya mengangguk pelan dan paham sekali dengan aktivitas Valeria yang membuat tubuh istriny terlihat kelelahan. Farel sudah membukakan makan amlam itu dan Vale mulai menikmati makanan itu.
"Besok pulang kuliah ke dokter kandungan ya? Kita bawa surat nikah kita, kalau kamu malu?" titah farel pada Vale.
"Iya," jawab Valeria singkat sambil mengunyah makanan di dalam mulut mungilnya.
Tubuh Valeria sudah tak karuan nyeri dan pegal di beberapa bagian sendinya. Untung saja malam ini ada Farel. Lelaki itu dengan tulus memijat tubuh Valeria yang sudah berbaring di kasur spring bed milik Farel. Setengah tubuhnya sudah tertutup selimut.
"Keluar aja dari kerjaan part time kamu," titah Farel pada Valeria yang masih terjaga menatap wajah Farel, walaupun kekuatannya hanya tinggal lima watt saja.
"Gak ah ... Baru juga sebulan kerja. Satu semester ini aja," pinta Valeria pada Farel.
"Kamu yakin? Perut kamu akan makin besar lho? Kamu gak malu?" tanya Farel pada Vale.
Valeria tak pernah kepikiran sampai sana. Benar kata Farel, perutnya tiap bulan akan sellau ada perubahan dan makin membuncit. Apalagi menunggu hingga satu semester, bisa -bisa orang berpikir macam -macam tentang Valeria.
"Mas ... Kalau banyak orang bakal membully Vale gimana? Hamil tanpa suami?" tanya Valeria mulai panik. Farel tahu kalau istrinya sedang cemas.
"Kamu tenang aja ya. Mulai besok, Mas akan antar kamu dan menunggu kamu di Kampus, biar orang tahu, kamu itu milik Mas, dan kita sudah meenikah," ucap Farel tegas. Sudah waktunya semua teman -teman satu angkatannya tahu soal hubungan mereka.
"Iya. Terus Mas Farel gak lanjutkan kuliahnya?" tanya Valeria pada Farel.
"Mas sudah dapat pekerjaan di salah satu studio foto. Mas juga akan lanjutkan kulaih di semester depan, menunggu Ibu selesai kemoterapi juga. Kalau bisa, kamu lahiran di tempat Mas. Biar Ibu dan Bapak yang datang ke rumah Mas. Kalau Ibu yang harus ke rumah kamu di Yogya, sepertinya kondisi Ibu kurang memungkinkan. Masalah skripsi, akmu bisa minta dosen pembimbing akmu di bimbing secara online melalui email, dan datang saat pendadaran dan wisuda saja," ucap Farel pada Valeria.
"Iya. Baik Mas," ucap Valeria pelan.
"Besok Mas mau ke Ibu kost kamu saja. Bilang kalau kamu sudah menikah dan Mas mau titipkan kamu pada Ibu kost kamu. Kost disini mau di selesaikan, barangnya mau Mas jual saja, kalau kamu gak mau," ucap Farel pelan.
***
Dua mangkuk bubur dan dua teh manis hangat serta satu gelas susu hamil. Valeria menatap sajian di lantai dengan tersenyum bahagia. Valeria mencari pakaian untuk ke Kampus sambil mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kecil.
Ceklek ...
Farel masuk kembali ke kamar dengan senyum merekah melihat Valeria yang terlihat cantik alami. Tadi shubuh mereka saling mengungkapkan rasa rindu mereka dengan berhubungan intim. Sudah satu bulan mereka terpisah dan saling berjauhan.
Farel duduk bersila di lantai dan mulai mengaduk buburnya menjadi satu. Berbeda dengan Valeria yang tidak pernah mengaduk buburnya menajdi satu.
"Ayo makan dulu, minum susunya, terus ke Kampus. Selama kamu kuliah, Mas mau ke Fakultas ke bagian pengajaran. Kalau Mas gak ada, kamu tunggu di Kantin, oke," titah Farel pada Valeria.
Valerai sudah rapi dan sudah memakai day cream agar tidak terlihat pucat, allu ikut duudk dan menikmati bubur ayam.
"Ini kapan beli susunya?" tanya Valeria menyeruput susu hamil rasa strawaberry itu. Hemmm rasanya sungguh enak dan manis.
"Tadi pas kamu mandi, Sayang. Kan mini market cuma di depan situ, deket," ucap Farel pelan.
"Ohhh ... Mas, uangnya Valeambil ya? Buat bayar modul di fotokopian Kampus. Nanti mau resign dari jaga warnet. Biar Vale gak lelah dan tetap jaga kandungan Vale," ucap Valeria mengalah sambil menikmati bubur ayam yang tinggal sedikit lagi habis.
"Nah gitu dong. Nurut sama Mas. Nanti Mas anter, Mas yang bilang, bahwa kamu sedang hamil, jadi gak bisa lanjutkan pekerjaan ini, takutnya kamu kelelahan dan malah berakibat fatal sama kandungannya," ucap Farel menasehati.
Valeria mengangguk paham dan melebarkan senyumnya. Farel memang baik dan perhatian. Ini yang Vale inginkan, selalu dekat dan tidak LDR -an seperti kemarin. Tapi, Farel hanya sementara di sini, tidak akan lama. Ia juga punya pekerjaan di sana, dan tidak mungkin selalu menemani Valeria.
"Sayang ... Kamu kuliah kan sampai hari kamis. Pulanglah sesekali ke rumah, nanti Mas jemput di Stasiun," titah Farel pada Valeria.
"Mas ... Bukan gak mau. Biasanya saat libur, Vale itu ke Perpustakaan buat cari bahan skripsi. Jadi saat ambil skripsi, Vale sudah kelar, tinggal ajukan sama dosen kalau acc langsung lanjut, terus ajukan lagi, jadi gak memakan waktu. Kalau pun ada revisi, pasti gak banyak, karena metodenya kan sudah jelas," ucap Valeria pelan.
"Jadi akhir tahun, Vale bisa wisuda dan kita tinggal bersama lagi. Vale akan cari kerja di sana," ucap Vale pelan.
"Kamu sudah memikirkan sampai sejauh itu? Kamu yakin bisa sendiri? Mas bakal jarang kesini? Karena memang sibuk," ucap Farel pelan.
"Gak apa -apa Mas. kalau bisa sih, tiap bulan, Mas itu datang kesini walau hanya semalam," pinta Valeria pada Farel.
"Oke. Siap," jawab Valeria denag suara lantang.
Setelah selesai sarapan pagi. Keduanya berangkat ke kampus.