The Magic Of Love

The Magic Of Love
30



Farel sudah kembali ke Surabaya. Vale kemblai menjalani kehidupan di kostnya seorang diri dengan perut yang sudah besar.


Hari ini adalah hari pertama Vale mengikuti bimbingan skripsi. Vale berharap apa yang sudah ia persiapkan jauh -jauh hari tidak sia -sia. Vale harus bisa mengejar cepat selesai skripsi kemudian sidang pendadaran. Masalah wisuda kan menunggu jadwal serentak. Kalau sudah di naytakan lulus, Valeria bisa kembali berkumpul dengan suaminya. Tidak itu juga, aleria juga bisa cari pekerjaan yang baik dan layak sesuai dengan pendidikannya.


Tok ... Tok ... Tok .


ceklek ...


Pintu ruangan dosen itu telah di buka oleh Valeria. Di depan sudah ada petunjuk untuk ketuk dulu lalu masuk karena dosen pembimbing sedang ada di tempat.


"Permisi Pak. Saya Vale, mahasiswi bimbingan Bapak," ucap Vale pelan.


Dosen pembimbing itu mengangkat wajahnya dan menatap Valeria lekat dan fokus pada perutnya yang besar.


"Masuk. Valeria mahasiswi semester tujuh?" tanay dosen itu pada Valeria.


"Iya Pak. Saya semeseter tujuh," jawab Valeria santai.


"Ambil KKN sama skripsi semester ini?" tanya dosen itu kembali pada Valeria.


"Hanya skripsi Pak. Kebetulan KKN sudah saya ambil di semester pendek kemarin," ucap Valeria dengan jujur.


Valeria duduk dan membuka satu bendel print out bab satu, bab dua, bab tiga, bab empat dan bab lima secara terpisah. Valeria akan mengajukan satu per satu terlebih dahulu. Kalau dosen pembimbingnya


"Oke. Jadi kamu mau mengajukan judul apa? Analisisnya pakai metode apa?" tanya dosen pembimbing itu pada Valeria.


Dosen pembimbing itu mulai membuka print out itu dan membaca isinya. Tak lama kemudian dosen itu mengangguk dan mengangkat wajahnya dengan senyum.


"Saya suka dengan pola pikir kamu tentang pembahasan masalah di sini lalu mau di uji dengan metode analisis yang menurut saya kamu luar biasa sekali. Saya terima bab satunya, silahkan lanjut di bab dua," ucap dosen pembimbing itu denagn bola mata yang berbinar senang.


Ya, Dosen pembimbing itu sangat menyukai mahasiswi yang pintar dan kreatif. Cukup peka dengan permasalahan di dunia modernisasi seperti saat ini.


"Bapak serius? Menerima judul saya, dan bab satu saya, lolos acc?" tanya Vale masih tidak percaya.


"Benar sekali. Saya suka pola pikir kamu dan cara pandang kamu tentang satu pembahasan. Ini sangat berbeda dengan yang lainnya. Kamu berani mencobanya," ucap dosen pembimbing itu memuji.


"Kalau begitu, saya langsung serahkan bab duanya ya, Pak," ucap Valeria dengan kedua mata yang emmancarkan kebahagiaan dan vale kembali membuka tas mikanya untuk mengeluarkan print out bab dua yang sudah di kerjakannya juga.


"Ini Pak, bab duanya. Bisa sekalian di periksa," pinta Valeria bahagia.


Kini giliran dosen pembimbing itu yang melongo. Biasanya tidak ada mahasiswi yang se -gercep Valeria.


"Kamu sudah buat bab duanya?" tanay dosen pembimbing itu bingung.


"Sudah Pak. Awal semester lima saat saya ambil mata kuliah Bapak. Saya menemukan ide ini dan saya banyak belajar otodidak dari buku -buku yang ada di perpusatakaan. Tidak hanya bab dua yang saya buat, bab tiga, bab empat dan ba lima juga sudah siap. Kalau Bapak mau cek silahkan. Saya memang kejar biar cepat selesai karena saya sudah mau melahirkan," ucap Valeria memberikan alasan.


Dosen pembimbing itu hanya melongo dan emnggelengkan kepalanya pelan. Semesdter lima sudah bisa membuat skripsi sebaik ini.


"Baiklah, saya akan lihat sekarang. Kalau memang semua bagus dan sesuai keinginan saya. Kamu bisa sidang pendadaran minggu depan," ucap dosen pembimbing itu memberikan kemudahan untuk Valeria.