The Magic Of Love

The Magic Of Love
27



Satu minggu persiapan KKN telah berlalu. Koching yang singkat juga sudah cukup memberikan inforamsi dan aturan yang jelas untuk setiap kelompok yang akan mengabdi.


Kemarin mereka sibuk mengurus pindahan dari kost membawa beberapa barang yang akan di pakai di desa kwilet.


Hari ini, Vale akan ikut di mobil Farel dan tidak ikut dalam roimbongan bis yang akan membawa mereka ke desa amsing -masing. Tentu, ini sudah persetujuan dari Ketua Paniatia KKN.


Selama dalam perjalanan menuju desa itu, tangan Farel terus menggenggam tangan Valeria dan tak mau lepas. Maklum satu minggu ini mereka hidup bersama layaknya suami istri secara normal dan itu akan membuat mereka sulit untuk melupakan semua ketergantungan mereka.


"Obat, vitamin dan susu? Gak lupa kan?" tanya Farel mulai posesif.


"Gak Mas. Sudah ada di tas khusus," jawab vale pelan.


"Mas itu hanya mengingatkan kamu agar gak lupa. Kamu tahu kan, di sana itu jauh dari mini market besar, dan kamu harus naik motor sekitar setengah jam," ucap Farel menasehati dan mencium punggung tangan Vale.


"Iya Mas Farel, Sayang. Habis ini Mas Farel pulang ke Madiun?" tanya Vale serius.


"Kalau boleh nemenin kamu di kamar sih, maunya meluk kamu terus, sayang," ucap Farel terkekeh.


"Ihhh bercanda mulu nih," ucap Vale kesal.


"Sayang ... Mas itu kan sudah punya segalanya. Alhamdulillah semua berkat doa kamu, doa ibu juga, doa anak kita. Studio foto Mas sudah cukup di kenal, dan sudah ada beberapa karyawan yang bisa menghandel dengan baik. Mas itu ikut kelas fotografi," ucap Farel pelan.


"Terus? Kelasnya gimana? Mas terlalu lama di cirebon hanay menemani Vale," ucap Vale pelan.


"Nemenin istrinya ya gak masalah dong," jawab Farel tegas.


"Ibu gimana?" tanya Vale sampai lupa menanyakan keadaan Ibu Maryam, mertuanya karena sibuk dengan urusannya sendiri.


"Sudah lebih baik, Sayang. Mobil Mas tinggal saja di kost kamu ya, Sayang. Mas mau naik kereta aja, biar nanti minta jemput Kia di Stasiun. Biar bulan depan ada mobil sekalian bisa bawa kamu pulang ke Madiun. Kamu mau mampir ke rumah Bapak dan Ibu?" tanay Farel pada istrinya.


"Mau Mas. Dua hari juga gak apa -apa. Sebentar saja, minimal Ibu dan Bapak tahu keadaan Vale dan kandungan Vale baik -baik saja, sehat juga," ucap Vale pelan.


"Siap Sayang. Kamu harus sehat, kuat, kalau ada sesuatu bilang ya? Jangan diam aja," ucap Vale pelan.


Valeria dan ketujuh temannya sudah berada di rumah kepala desa. Farel sendiri masih membantu Vale membereskan pakaian di lemari. Ketujuh temannya tidak masalh untuk itu. Toh, farel dan vale itu sudah suami istri tapi tidak pernah melakukan perbuatan mesum di depan mereka. Memang kondisi Vale yang sdenag hamil tujuh bulan membuat semua pergerakan vale agak lambat.


"Gue titip Vale. Kalian punay kontak gue kan? Tolong akalau aa apa -apa, lo bilang ke gue. Jangan lupa, bantu Vale di sini, kalau dia lambat, harap maklum, karena lihat aja perutnya sudah mulai memenuhi tubuhnya. Untuk megang jempol kakinya aja kayaknya dia sudah kesulitan," ucap Farel terkekeh sambil mengusap pucuk kepala Vale.


"Tenang aja Rel. Kita semua disini sudah kayak saudara. lo juga udah banyak bantu kelompok kita, tentu kita semua akan jagain Vale buat kamu," ucap ketua kelompok KKn itu di ikuti anggukan smeua anggota lainnya yang sudah menagnggap Farel seperti teman sendiri. Selama ini pekerjaan Vale yang mengerjakan Farel.


"Oke makasih. Untuk acar bazar, nanti gue yang akan jadi donaturnya. Kalian tunggu aja, gue yang siapin," titah Farel pada Vale dan semua anggota KKn lainnya.


"Serius Rel?" tanya Carlos pada Farel.


"Iya serius. Nnati gue yang belanjain semua, dan pakaian murahnya juga gue siapin yang bal -balan. Tenang aja," ucap Farel mantap dan meyakinkan semua teman -temannya.


Farel berpamitan untuk pulang ke Madiun. Farel memeluk Vale erat sekali.


"Jaga diri baik -baik. jaga anak kita," titah farel pada Vale.


"Iya Mas, pasti," ucap Vale yang masih nyaman memeluk tubuh Farel.


"Susunya di minum, cemilannya di makan. Jangan sampai anak Papah kelaparan, ya, Mamah cantik," ucap Farel pada Vale.


"Mas ...." bisik Vale pada Farel.


"Hemm ... Apa sayang?" tanya Farel pada Vale sambil mengendurkan pelukannya.


"Cium dong," ucap Vale pelan.


"Sayang banyak teman kamu," ucap Farel yang memandang ke sekeliling. memang tidak memeprhatikan kedua insan tersebut tapi kalau mereka melakukan hal aneh tentu pandangan mereka akan tertuju pada Vale dan Farel.


"Di mobil," cicit Vale manja.


Farel hanyha mengulum sneyum dan mengangguk kecil.