
Setelah menyelesaikan kewajibannya sebagai istri, Vale pun tidak bisa tidur seperti Farel yang terlihat kelelahan. Vale hanya bisa menatap Farel dan tidur dalam ekapan Farel.
"Uhhh ... Kenapa gak bisa bisa tidur sih? Rasanya begini banget," batin Vale di dalam hati.
Vale mentaap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Vale memilih untu membuat air panas untuk mandi setelah itu ia bisa melakukan sholat malam dan menunggu shubuh sambil membereskan rumah. Dari pada tidak bisa tidur seperti ini.
Vale terbangun dan duduk d tepi ranjang lalu mengambil dasternya dan memakainya kembali. Vale berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur dan memasak air panas untuk mandi.
Vale mulai membereskan rumah bekas tadi malam nonton bersama dengan Kia. Membereskan toples dan di rapikan kembali di dapur lalu memcuci perabotan rumah tangga ynag belum sempat tercuci tadi malam.
Setelah air panas itu matang, Vale langsung mandi dan bergegas sholat malam lalu melnjutkan kembali membereskan rumah sambil meracik bahan makanan untuk di masak nanti waktu sarapan pagi.
"Vale? Kamu sudah bangun?" tanya Ibu Maryam yang masuk dapur dan melihat Vale sedang memotong sayur Ibu Maryam mengulum sneyum melihat tubuh Vale yang segar dan rambut basah. Itu tandanya mereka sedang mengusahakan untuk cepat memilik bayi.
Vale menoleh ke asal suara dan menunduk malu saat melihat Ibu Maryam. Lihat sajarambut Vale yang biasa tertutup hijab, kini di biarkan tergerai karena masih basah.
"Ibu ... Maaf kalau mengganggu waktu istirahat Ibu. Vale terlalu berisik ya?" tanya Vale pelan.
"Gak kok, Sayang. Ibu memang biasa bangun jam segini karena mau wudhu, mau sholat malam," ucap Ibu Maryam lembut.
"Iya Bu. Vale sudah sholat malam. Dari pada gak bisa tidur, Vale mau racik bahan makanan untuk sarapan pagi," ucap Vale sambil memperlihatkan beberapa bahan yang sudah siap di masak.
"Iya sudah. Kalau mau masak, bikin saja seusuai selera kamu. Ibu pasti suka apapun makananya," ucap Ibu Maryam pelan lalu berjalan ke kamar mandi untuk wudhu dan kembali ke kamar untuk melaksanakan sholat malam.
***
Sudah jam enam pagi, semua sudah berkumpul di meja makan. Vale sudah menyiapkan beberapa menu makanan sejak shubuh.
"Mas ... Malu," bisik Vale pada Farel yang menunduk malu.
Ibu Maryam dan Kia menatap Vale lekat. Melihat kemesraan kedua kakaknya membuat Kia sedikit iri.
***
Hari ini sesuai janji Farel untuk mengajak Ibu Maryam, Vale, dan Kia mengunjungi makam Bapak.
Ibu Maryam terus mengusap nisan Bapak dan menahan tangisannya agar tidak jatuh.
"Ibu nampak sedih MAs," ucap Vale berbisik.
"Begitulah bertahun -tahun sellau meratapi kesedihannya karena Bapak telah meninggalkan Ibu sejak lama. Ada sesuatu hal yang mau aku bicarakan sama kamu, Sayang," ucap Farel yang menggandeng ytangan Vale menjauh dari tempat makam. Farel membiarkan Ibu dan Kia masih disana.
"Apa itu?" tanya Vale pelan.
"Ekhemmm ... Kalau kita pindah kampus gimana?" tanya Farel pelan. Apapun reaksi Vale, Farel harus terima.
"Pindah kampus? Kemana? Alasannya apa?" tanya Vale pelan.
"Ibu sakit. Ma singin selalu ada buat ibu, dan kita segera membuatkan Ibu cucu, agar Ibu bahagia," ucap Farel pelan.
"Sakit? Sakit apa?" tanya Vale penasaran.