
KKN di semester pendek ini telah selesai. Vale mulai fokus skripsi yang akan di ambil semester ganjil depan.
Vale sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Dari judul, metode yang akan di gunakan untuk analisis, sampai pembuatannya sudah selesai, mulai dari Bab satu sampai Bab lima. Mudah -mudahan saja lancar. Kalau pun ada kendala, Vale akan meminta waktu tersendiri pada dosen pembimbingnya nanti. Misalnya melalui email.
Rencananya Vale ingin pulang kembbali dengan Farel ke kota kelahiran Farel dan berkumpul denagn keluarga Farel.
"Sayang ... Minum dulu susunya," titah Farel pada Vale, istrinya.
Valeria Menerima satu gelas berisi susu hamil dan meneguk hingga habis. Tubuhnya lemas dan lelah setelah KKN kemarin.
"Mas Farel mau di sini lama kan?" tanya Vale pada suaminya.
Farel mengambil gelas kosong yang ada di tangan istrinya dan duduk di samping Vale. Farel mengambil atnagn Vale dan menggenggam erat.
"Mas gak bisa lama di sini. Besok sore MAs juga harus pulang. Ibu sakit keras, Vale. Malahan kalau bisa kamu pulang, Ibu mau ketemu kamu dan mengusap pelan perut kamu yang sdeang mengandung anak kita," tita Farel pada Vale.
"Mas ... Bukan Vale gak mau. Tapi, Vale akan sangat lelah kalau pulang pergi. Kecuali Vale udah dapat ijin dari dosen pembimbing untuk bimbingan tanpa tatap muka," ucap Vale penuh harap.
"Gak usah terlalu di paksakan. Fokus saja sama skripsi kamu. Ibu pasti paham. Seelsaikan smeuanya dulu, baru pulang ke rumah tanpa beban," titah Farel pelan.
"Yakin sayang. Kamu harus semangat ya. Mungkin setelah ini, Mas akan jarang datang, karena Ibu harus di perhatikan. Kia sibuk sekolah," ucap Farel pada Vale.
"Maaf ya MAs. Belum bisa nemenin Ibu. Maaf belum bisa jadi istri yang baik, belum jadi menantu yang baik juga," ucap Vale menunduk.
"Hei ... Kok sedih. Gak apa -apa. Kamu sanatai aja sayang. Kamu fokus saja sama skripsi kamu. Oke. Mas gak mau denger kamu gagal," titah Farel tegas.
Farel memeluk Vale dengan erat. Seolah memberikan energi positif agar Vale memiliki semangat tinggi untuk menyelesaikan skripsinya.
Vale juga membalas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tangannya ke belakang punggung Farel dan di usap lembut punggung itu.
Mereka memang saling rindu dan kini bisa meluapkan semua rasa rindu itu satu sama lain.
"Mas itu rindu sama kamu, Vale. Jujur, Mas itu dilema di posisi saat ini. Mas itu kan laki -laki, bukan hanya bertanggung jawab ata sdirimu secara lahir dan batin saja. tapi, sehari -hari, perhatian ke kamu dan anak kita, itu juga perlu. Tapi di sisi lain, Mas itu sdeang di uji kesabaran karena harus menjaga Ibu. Mas harap, kamu bisa ngerti posisi Mas saat ini. Kamu gak cemburu sama Ibu, dan janagn pernah berpikir Mas itu mengabaikan kamu dan tidak memperhatikan kamu," ucap Farel menasehati.
"Mas ... Mas Farel ayng jangan berpikir jelek tentang VAle. Vale itu seperti ini, biar kita maju. Smua itu harus ada perjuangan dan pengorbanannya kan? Mungkin ini salah satunya. Asal kita tidak saling melupakan dan berniat untuk mengabaikan. Kita masih bisa komunikasi, bertemu walaupun sebentar," ucap Vale dengan bijak.
Tidak mudah ternyata menikah muda di saat keduanya belum mapan. Di tambah lagi, masalah keluarga dan ujian kecil bagai kerikil yang di angkut dan tak pernah habis. Selalu ada dan selalu berusaha mengganggu kenyamanan. tapi itulah prosesnya, jadi harus di nikmati dengan penuh rasa syukur.