
Di kediaman Ibu Maryam ...
Maryam, adalah Ibu Farel. Ia di tinggalakn suaminya sejak Zaskia masih berada di dalam kandungaannya. Suaminya meninggal saat sedang membetulkan genteng rumahnya yang bocorsaat hujan deras. Saat suaminya akan turun, petir menyambar tubuh lelaki kekar itu hingga tewas seketika dan jatuh ke bawah.
Zaskia dan Ibu maryam sejak kemarin sudah sibuk karena akan kedatangan tamu agung. Ibu Maryam sudah memasak berbagai makanan kesukaan Farel dan Vale. Kemarn Ibu Maryam sempat menelepon Farel dan menayakan apa makanan kesukaan Vale.
Meja makan sudah penuh sajaian makanan. Rencananya Ibu akan mengundang beberapa tetangga untuk mendoakan putra kesayangnnya yang telah menikah.
Jamuan kue kering, kue bolu dan beberapa buah serta cemilan lain sudah siap di meja tamu. Rumah Ibu Maryam memang tidak besar lebih minimalis dan begitu rapi. Rumah yang jauh dari keramaiana dan adem karena di depannya ada pohon mangga yang rindang.
Tugas Zaskia adalah merapikan kamar Farel. Mengganti sprei dengan warna yang lebih cerah. Tidak lupa, di beri pengharum ruangan dan pot bunga dengan bunga lily.
Zaskia menatap kamar Farel yang terlihat rapi dan indah, sera wangi. Zaskia berharap kedua kakaknya suka dengan dekorasinya yang sederhana ala anak SMP.
"Bu ... Ibu gak mandi sudah sore," pinta Zaskia yang semakin dewasa.
"Ini mau mandi. Mau sholat ashar sekalian dan nunggu Kakak kamu datang dengan istrinya. Kamu harus menyambut baik, kakak ipar kamu," titah Ibu Maryam pada Zaskia.
"Siap Ibu. Ibu jangan khawatir. Kalau soal itu. Kak Farel bilang, Kak Vale itu baik banget, dan satu frekuensi sama Kia. Sama -sama suka amkan seblak dan jajanan pasar. Pasti besok seneng kalau di ajak ke pasar pagi untuk beli cemilan," ucap Kia dengan sumringah.
"Ohh ya. Boleh ajak jalan -jalan yang penting bilang sama Kak Farel, jadi kalau ada apa -apa, Kak Farel tahu," titah Ibu Maryam pada anak gadisnya.
Ibu Maryam pun segera mandi dan sholat ashsar setelah mendengar suara adzan ashar berkumandang. Tinggal menunggu kedatanagn Putranya beserta istrinya.
Rumah sederhana itu sudah siap menerima kedatanagn tamu yang sejak kemarin di tunggu. Ibu Maryam begitu senang mendengar FArel sudah menikah. Paling tidak hidup Farel ada yang mengatur dan merawat anak lelakinya itu selama jauh dari Ibu dan adiknya.
Suasana Kota di Jawa Timur sangat berbeda dengan Kota kelahiran Valeria di Yogyakarta. Apalagi dengan Kota Cirebon, kota dimana Valeria sedang melanjutkan studi sarjana strata satu yang begitu panas terik dan gerah.
Farel dan Valeria menaiki becak dengan di depan beberapa barang yang di tumpuk tak menghalangi angin sore yang segar memasuki celah tenda becak yang sangat menyegarkan.
"Seger ya? Beda sama di Yogya atau di Cirebon," ucap Vale pelan.
"Iya dong. Nanti malam kita jalan sama Zaskia, kita jalan kaki aja, deket sama pecinan, lebih seru sambil cari makanan kaki lima yang murah meriah," ucap Farel pelan.
"Ohh ya. Seru dong," jawab Vale sangat senang sekali.
"Seru banget. Apalagi kalau bulan puasa pasti akan seru," ucap Farel pelan.
"Mas ... Puasa kan tiga hari lagi. Kneapa kita gak sahur bersama di sini baru kita pulang," pinta Vale pada Farel, suaminya.
"Gak apa -apa? Sahur bareng Ibu? Takutnya kamu iri kenapa gak sahur di rumah kamu," ucap farel yang ragu sejak kemarin ingin mengungkapkan permintaan ini. Untung saja Vale kepikiran untuk ini.
"Apaan sih. Ya gak lah. Gak mungkin iri, Ibu Maryam juga sama seperti Ibu, gak ada beda. Ibu mas Farel, Ibu Vale juga, Ibu Vale juga Ibu Mas Farel, sama aja kan?" cicit Vale menjelaskan.
"Iya sama. Makasih ya Sayang," ucap Farel pada istrinya.
Becak itu melaju dengan kecepatan santai hingga FArel dan Vale benar -benar menikmati perjalanan yang terasa lama. Padahal jaraknya gak jauh sekitar lima menit kala naik becak.