The Magic Of Love

The Magic Of Love
13



Sore itu, Valeria dan Farel beristirahat di kamar Farel yang sudah di dekorasi denagn indah. Langkah kaki Vale berjalan menuju kaca jendela yang di hias satu pot bunga tnggi dengan tiga buah bunga lily yang sangat cantik.


Farel duduk di tepi ranjang dan mulai menyandarkan setengah tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Sini sayang. Istirahat dulu. Habis maghrib, akan ada acara syukuran," titah Farel pada istrinya.


Vale pun menurut. Ia berjalan menuju ranjang pengantinnya dan duduk di samping Farel. Keduanya saling menggenggam tangan mereka dengan erat.


"Gimana pendapat kamu dengan rumah Mas? Ibu dan Kia?" tanay Farel pada Vale.


"Rumahnya enak Mas. Adem dan nyaman, bikin betah. Ibu baik dan lembut sekali, sama denagn Kia yang ramah dan sama sekali buat Vale suka dan merasa di terima di keluarga Mas farel. Tapi bagaimana dengan keleuarga besar kamu? Apakah mereka juga akan emnerima Vale?" tanya vale pelan dan ada sedikit kecemasan di raut wajahnya.


"Pasti sayang. Mereka smeua baik seperti Ibu, tentu mereka akan suka sama kamu dan merestui serta mendoakan agar pernikahan kita langgeng dan sakinah, mawadah serta warahmah," ucap Farel membuat tenang Vale yang masih saja gusar.


Baru kali ini Valeria datang ke rumah lelaki, dan langsung denagn status sebagai istri. Tentu ada kecemasan dalam hatinya, apakah dirinya bisa beradaptasi dengan kelurga barunya, keluarga besar Farel, suaminya.


"Jangan insecure ya. Mas tahu kamu sedang cemas dan gugup. Tapi percayalah, smeua akan baik -baik saja sesuai harapan kita," ucap Farel lembut di ikuti senyum manis dan tulusnya pada Vale dan di akhiri dengan kecupan di kening dan di bibir Vale.


***


Rumah Farel mulai ramai karena di hadiri oleh banyak orang. Ternyata bukan hanya saudara jauh saja yang datang tapi para tetangga dan kelompok pengajian Ibu Maryam turut hadir dalam acara tasyakuran atas eprnikahan Farel dan Valeria.


Acara tasyakuran pernikahan dengan mengundang majelis taklim pengajian Ibu Maryam membuat suasana jalannya acara malam itu terasa khidmat dan khusyuk.


Valeria duduk di antara Ibu -ibu pengajian di samping Ibu Maryam dan Kia, adiknya. Sedangkan Farel duduk bersama para ustad dan kiyai yang bertugas mendoakan pasangan pengantin baru itu.


Ibu Maryam ternyata sudah menyiapkan bingkisan syukuran untuk orang -orang yang hadir sebagai tanda syukur daan bahagia serta kenang -kenangan. Ada nasi kuningnya, ada makanan ringannya, dan ada gift berupa bros cantik bagi ibu -ibu pengajian.


Acara telah selesai tepat jam sembilan malam. Rencana malam ini akan jalan -jalan pun gagal. Mungkin besok seharian mereka akan menguasai dan mengukur jalan untuk mencari oleh -oleh juga.


Keempat anggota keluarga itu kini sedang menikmati makan malam yang tertunda karena acara syukuran tadi.


"Gimana? Enak gak?" tanya Ibu Maryam kepada Valeria.


"Enak banget Bu," ucap Valeria pelan.


"Kalian gak menunda momongan kan?" tanya Ibu MAryam pelan sambil melirik ke arah Farel yang berusaha menelan makanan yang sudah di kunyahnya. Tatapan Ibu kini ke arah Valeria yang menunduk dan menyendokkan makanannya lalu di amsukna ke dalam mulut.


Valeria dilema, tapi tak bisa menjawab pertanyaan Ibu Maryam karena hatinya masih memberontak. Valeria menganggap ia tidak bisa berkarir kalau sudah memiliki anak.


"Kok kalian diam saja? Gak ada yang jawab pertanyaan Ibu?" tanya Ibu pelan.


Farel menarik napas dalam dan mulaiangkat bicara.


"Kita tidak menunda Bu. Sama sekali tidak ingin menunda, kalau memang di kasih cepat, ya kita terima. Iya kan, sayanga?" tanay Farel pada Valeria dan menyentuh paha Valeria dari bawah meja.


Valeria melirik ke arah Farel yang mengangguk kecil memberi kodee untuk ikut bicara.


"Iya Bu, betul sekali. Masalah ini sudah kita bicarakan. Iya kan Mas? Kalau kita gak akan menunda rejeki yang di berikan sama Allah. Kalau memang sudah di berikan amanah tentu akan kita jaga dengan baik," ucap Valeria dengan bijak menjawab.