The Magic Of Love

The Magic Of Love
18



Farel menghentikan ceritanya karena Ibu dan Kia sudah selesai dari makam dan menghampiri pasangan penganti itu. Farel hanya mengedipkan satu matanya pada Vale untuk diam dan tidak bertanya apapun.


Sepulang dari makam, Kia langsung lanjut ke sekolah karena ada acara ekstarkurikuler rohis. Farel dan Ibu maryam berpamitan untuk pergi sebentar, padahal Farel mengantarkan Ibu Maryam ke rumah sakit.


Sebelum berangkat ke rumah sakit Farel dan Vale sempat berada di dalam kamar tidurnya.


"Ada apa sih Mas, sebenarnya," tanya Vale yang merasa, Farel menutupi sesuatu.


Farel memeluk Vale yang sedang merapikan baju di lemari pakaiannya dan mencium pipi istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ibu itu sedang sakit. Beliau kena kanker payudara. Sebenarnya sudah sejak setahun lalu, tapi Ibu tidak mau berobat. Sekarang Ibu mau berobat asal Mas ada di samping Ibu untuk merawat Ibu, lalu memberikan cucu untuk Ibu. Kira -kira, kalau kita pindah Kampus, kamu setuju atau tidak? Kita memulai kehidupan rumah tangga kita disini," pinta Farel pada Valeria.


Valeria tak menjawab pertanyaan Farel denagn cepat. Pindah Kampus itu tidak semudah yang kita inginkan. Banyak prosedur yang kita lewati sampai kita juga akan kehilangan beasiswa kita.


"Mas, Vale itu baru semester lima, nanggung banget kalau pindah kampus. Kita akan dapat pemotongan mata kuliah dan malah bisa kembali ke semester tiga. Belum lagi biaya? Beasiswa Vale pasti hilang," ucap Vale memberikan masukan pada Farel.


"Tapi ... Ibu butuh Mas, Vale," ucap Farel mencoba membuat Vale bisa menerima keinginan Farel.


"Aku pikirkan dulu Mas. Pernikahan kita juga masih baru. Gakmungkin juga mau membuat Ibu semakin memikirkan kita kalau kita ada disini. Toh, disana Mas Farel sudah punya penghasilan," ucap Vale pelan. Hatinya sesak sekali. Kenapa di saat memutuskan menikah malah timbul masalah baru.


Farel menatap Vale yang tiba-tiba saja bersikap aneh. Apakah ini yang di namakan tidak sayang pada mertua.


"Kamu kenapa Sayang? Sikap kamu mendadak aneh begini? Kamu gak Sayang sama Ibu aku?" tanya Farel menuduh.


"Gak sayang gimana? Aku sayang, aku hormat dan aku menghargai Ibu Maryam karena beliau Ibu mertua aku, dan sudah aku anggap sebagai Ibu aku sendiri. Tapi, Vale juga punya kehidupan lain, Mas. Bukan perkara mau atau tidak mau. Ini masalah pendidikan Vale," tegas Vale mencoba tetap pada nada suara standart.


"Ya, Tapi ... Ibu butuh Mas, Vale. tolong ngerti sedikit. Kondisi Ibu itu lemah," ucap Farel pada Vale.


"Gini aja. Mas pindah aja kesini, Vale akan tetap menyelesaikan kuliah Vale disana. Vale sayang, tinggal beberapa semester lagi Vale lulus. Dua semester lagi Vale bisa ikut KKN dan skripsi, Vale akan kejar agar lulus denagn cepat," ucap Vale pada Farel.


"Satu tahun? Kamu yakin selesai? Tidak nambah? Tidak boleh menunda kehamilan juga," titah Farel pada Vale tegas.


"Tiga semester Mas. Ini kelas reguler, pasti KKN akan memakan waktu yang cukup banyak. paling tidak satu semester itu hanya fokus untuk KKN," ucap Vale pada Farel.


"Satu tahun. Mas tidak mau tahu. Mas hanya kasih kamu waktu satu tahun saja, atau kamu pindah kesini," tegas Farel pada Vale dan langsung keluar dari kamar tidur itu untuk menagntar Ibu Maryam yang sudah siap sejak tadi menunggu Farel dan duduk di ruang tamu.