
Siang ini, Farel mengantar Ibu Maryam ke rumah sakit menggunakan motor Farel yang senagja ia tinggal untuk di pakai Kia di rumah.
Saat menunggu antrian masuk ke dalam ruang periksa, Ibu Maryam mengajak Farel bicara.
"Kalau istrimu tidak mau pindah kesini, jangan dipaksa," ucap Ibu tiba -tiba membuat Farel menoleh kepada Ibu.
Farel memegang tangan Ibu Maryam dan mengusap pelan punggung tangan Ibu Maryam.
"Bukan tidak mau Bu. Vale itu masuk Kampus di Cirebon denagn beasiswa. Mungkin kalau dia pindah sebelum waktunya, tentu dia akan kena pinalti atau bahkan dia dianggap mengundurkan diri. Sia -sia kuliahnya Bu, padahal tinggalsatu tahun lagi," jawab Farel dengan bijak.
Farel berusaha untuk tidak menyakiti hati Ibunya dengan memberikan jawaban yang masuk akal.
"Terus? Buat apa Ibu berobat? Ibu sudah bilang kan? Ibu mau berobat jika kamu yang ada disini," ucap Ibu Maryam pelan. Ibu Maryam hendak berdiir dan pergi dari ruang tunggu itu untuk pulang. tapi Farel berhasil menahan tangan Ibu Maryam untuk duduk kembali dan tetap menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
"Farel akan tetap disini menemani Ibu. Biar Vale sendiri di sana. Itu pilihan Vale," ucap Farel pelan.
"Lho? Gak bisa gitu Rel. Kamu itu menikah baru beberapa hari saja, gak mungkin kalian berjauhan. Ini menikah lho!! Bukan pacaran," ucap Ibu Maryam pelan.
"Bu ... Bagi Farel, Ibu yang paling penting. Tidak ada yang lain," ucap farel meyakinkan Ibu Maryam.
"Tapi Valeria itu istri kamu. Dia juga penting buat kamu. Kalau Vale hamil? Terus gimana?" tanya Ibu Maryam pada Farel.
"Farel punya sahabat perempuan banayk yang juga sahabat Valeria Bu. Farelbisa minta tolong mereka untuk menjaga Valeria," ucap farel dengan yakin.
***
Ibu maryam dan Farel sudah berada di ruang periksa. Ibu Maryam di sarankan untuk melakukan kemoterapi setiap dua puluh hari sekali, tapi setelah operasi pengangkatan sel kanker di ***********.
Rencana jadwal operasi itu akan dilakukan minggu depan. Saat itu juga, peran Farel sangat penting untuk tetap berada di samping Ibu Maryam.
Farel dan Ibu Maryam sudah setuju untuk menjalankan operasi pengankatan sel kanker itu dan melakukan kemoterapi serta pengobatan rutin lainnya untuk kesembuhan Ibu Maryam.
***
Pada malam hari semua sudah berkumpul di meja makan. Valeria sudah memasak beberapa makanan. Suasana di meja makan begitu sunyi dan hening. Semua orang sibuk menikmati makan malam. Berbeda dengan hari kemarin yang terasa hangat dan begitu kental kekeluargaannya.
"Vale ... Kamu gak mau tinggal sama Ibu disini?" tanay Ibu Maryam pada Vale sambil memegang tanagn Vale dan menggenggam erat tangaan menantunya itu.
Vale yang sejak tadi menunduk, kini mendongakkan wajahnya menatap Ibu Maryam. Lalu tersenyum kecut yang sangat di paksakan.
"Bu ... Bukan Vale tidak mau, tapi Vale harus menyelesaiakn studi Vale dulu. Vale juga punya orang tua yang tidak ingin Vale kecewakan. Menikah muda memang tidak masalah, asal tidak mengganggu kuliah Vale dan karir Vale nantinya. Vale hanya ingin membuat orang tua Vale bangga. Membayar semua apa yang telah orang tua Vale korbankan untuk Vale. Jadi, biarkan Vale tetap sekolah disana. Kalau Mas Farel mau pindah ke sini, itu pilihan Mas Farel. Mas Farel juga masih harus bertanggung jawab dengan Ibu dan Kia. vale gak mau mengekang mas Farel," ucap Vale denagn tenang dan nada bicaranay tegas.
Farel menatap Vale. Ia tahu istrinya sedang kecewa. Ibujuga tahu, Vale menantunya sedang dilema dan tidak baik -baik saja. Perasaan perempuan pasti lebih peka.