
Valeria dan Farel sudah naik kereta menuju kota kelahiran Farel. Perjalanan yaang agak lama dan di perkirakan mereka akna datang sore hari. Untung saja, rumah Ibu Farel tidak jauh dari stasiun kereta. Cukup naik becak dan masuk ke sebuah gang dan di ujung gang buntu, di situlah rumah Farel.
"Mas ... Nanti, Vale harus bagaimana sama Ibu? Atau sama Kia? Vale agak takut," ucap Vale pelan.
"Kamu tenang aja. Ibu itu sangat baik sekali. Kalau Kia, dia suka dan dari dulu pengen punya Kakak perempuan, Mas harap kamu bisa jadi Kakak yang baik untuk Kia. Lagi pula kita sudah suami istri, jadi gak perlu sungkan, gak usah canggung, santai aja," titah Farel pada Valeria sambil menggenggam tangan Vale dengan erat.
"Lalu? Kita lama di sana? Barapa hari? Jadwal KRS Vale minggu depan, dan Vale belum ambil buku pedomannya," cicit Vale mnegingatkan.
"Kita hanya dua hari saja. Kebetulan Mas juga ada kerjaan, belum lagi mau cari tempat tinggal? Apa sementara di kos Mas dulu aja ya?" ucap Farel pelan.
"Iya Mas. Di Kost Mas Farel aja dulu. Gak masalah, kok," jawab Vale santai.
Obrolan mereka makin santai dan lebih terasa privasinya. Kemarin saat berada di kereta sebelum mereka nikah, keduanya canggung dan keduanya tidak berani bersentuhan. Tapi kini, keduanya sudah berani tampil mesra dan mulai memberikan pujian satu sama lain, di tambah lagi dengan sentuhan fisik. Maklum mereka sudah begituan, jadi sudah tidak malu lagi. Toh, semua yang dimiliki sudah di rasakan oleh pasangannya.
Beberapa jam kemudian Vale dan Farel sampai di Stasiun pasar kembang di Kotanya. Vale masih memejamkan kedua matanya dan memeluk tubuh Farel erat. Kepalanya tertidur di lengan kekar Farel.
"Sayang ... Bangun sudah sampai di tujuan. Ayok, karena kereta tidak berhenti lama dan cepat jalan kembali. Kamu pegangan Mas ya, Mas mau bawa kopernya," titah Farela yang segera membangunkan Vale dengan menepuk pipi istrinya pelan.
Kedua mata Vale terbuka dan menatap senja yang terpantul dari kaca jendela keretanya.
"Sudah sampai?" tanya Vale mengulang pada Farel, tapi pandangannya tak lepas dari kota yang baru saja akan ia singgahi. Kota yang nampak berbeda dengan kota kelahirannya dan kota yang saat ini ia tinggali untuk mengenyam pendidikan.
"Sudah. Itu pasarnya. Apa mau belanja dulu? Pasarnay masih buka hingga malam," jelas Farel pada Vale.
"Ekhemm .. Gak usah. Nanti malam saja kalau gak capek kita berkeliling kota. Vale ingin tahu kota ini," cicit VAle pada Farel dengan manja.
Farel mengangguk senang dan mencium kening Vale denagn mesra.
"Oke. Kita bersiap turun lalu naik becak," ucap Farel yang sudah berdiri dan menurunkan barang -barang bawaannya dari atas bagasi tempat duduknya.
Farel berjalan ke arah gerbong untuk keluar saat kereta berhenti dan pintu gerbong akan terbuka. Vale yang berjalan di belakang sambil membawa tas oleh -oleh dari Ibunya untuk Ibu mertuanya, berpegangan erat pada kemeja Farel aagar stabil berjalan di atas kereta yang masih bergoyang di atas rel.
"Hufttt ... Akhirnya sampai juga, lega sekali rasanya," ucap farel pelan sambil menggeret koper menuju arah keluar Statiun yang padat karena sore ini banyak pemberangkatan kereta ke luar kota.
"Lega, capek duduk terus, pinggang pegel," ucap Vale menimpali.
"Nanti malam capek lagi lho, Sayang. Masih sanggup?" tanay Farel pada Valeria yang kini melotot spontan ke arahnya.
"Mas? Vale mau liburan dulu, menikmati jalan -jalan sebelum hamil. Mas mau Vale minum pil KB, biar menunda?" ancam Vale pelan.
"Iya deh. Kita gituannya di Kost aja ya, biar enak," ucap Farel pelan.
"Di Kost kamar mandinya dimana? Di dalam atau di luar Mas?" tanya Vale muali panik jika kamar mandinya ada di luar.
"Ada di luar sayang. Tapi nanti kita pindah kamar, kemarin ada temen yang mau keluar dan kamarnya ada kamar mandi dalam, tapi ruangannya jadi lebih sempit," ucap Farel pelan.
"Gak apa -apa. Kamar itu memang untuk tidur, dan ada meja untuk ngerjain tugas, udah itu aja," pinta Valeria pelan.
"Oke. Nanti, Mas teelpon pemilik kostnya untuk pesan kamar yang kosong. Kita pindahan dong," ucap Farel pelan.
"Ya gak apa -apa. Memang barangnya Mas Farel banyak?" tanya Vale lagi.
"Gak sih. Belum lagi ambil barang di kost kamu," ucap Farel pelan mencari waktu yang pas, karena sebentar lagi Farel pun sibuk dengan urusan kerjaan sampingannya.
"Vale gak punya barang Mas. Kost Vale memang sudah isi fasilitas," ucap Vale pelan.
"Ohh gitu. Jadi cuma baju aja ya?" tanya Farel pelan. Ia membayangkan satu kamar kostnya akan di tumpuk banyak barang
"Iya. Paling buku sama laptop aja," jawab Vale pelan.
Farel pun mengangguk kecil dan mencari becak untuk mengantarkan mereka ke rumah Ibu Farel.