The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 9



Hari berikutnya, malam itu Adi terbangun. Jam menunjukkan pukul 00.30, masih terlalu dini untuk bangun dari tempat tidur. Unik, elang emasnya pun masih memejamkan mata. Begitupun dengan Geir, tupai coklat miliknya yang masih berada di sarangnya.


Namun, Adi tetap bangun dari tidurnya dan pergi mengambil segelas air minum yang terletak di depan pintu kamarnya. Setelah itu, dia kembali ke kamarnya dan meletakannya di atas lemari. Bocah itu berjalan menuju jendela dan membukanya, membiarkan rambutnya terombang-ambing karena angin malam. Rambut hitamnya berkilau di bawah cahaya bulan, malam itu adalah bulan purnama terindah yang pernah Adi saksikan. Tanpa awan dan hanya ada bintang dan bulan di langit. Satu kata, Menakjubkan.


Tepat hari itu pula umurnya bertambah, lebih tepatnya 30 menit yang lalu. Kini, bocah itu telah berumur 14 tahun. Satu lagi tahun yang telah dilewatinya di kota ini.


"Malam ini kenapa sunyi sekali?"


Gumam Adi


Tiba-tiba, mata kanannya yang semula berwarna biru sedikit demi sedikit berubah menjadi hijau muda. Dengan sebuah lambang naga bersayap di tengahnya. Terlihat agung dan memberi kesan kuat. Sementara mata kirinya yang awalnya berwarna oranye menjadi sedikit merah. Itu terjadi setiap kali ia bertambah umur, seperti hari ini. Namun tahun ini sedikit berbeda karena lambang naga itu muncul.


"Berubah lagi..."


Ucap bocah itu setelah melihat pantulan wajahnya di cermin


"Wah wah, lambang naga sudah bangkit"


Kata seorang pria dari arah pintu. Pria itu adalah Natan.


"Ha? Lambang naga?"


Ucap Adi terkejut sembari kembali menengok ke cermin, dan ya ada lambang naga di sana. Kenapa tadi dia tidak memperhatikannya?


"Wow pertanda apa ini, apakah akan ada hujan kacang gratis?"


Canda Adi diiringi tawa keduanya


"Tentu saja tidak, Itu akan membangkitkan kekuatan besar yang selama ini bersembunyi di dalam dirimu"


Kata Natan dengan senyum misterius


"Kekuatan besar?"


Tanya Adi sambil berpikir


"Sebentar lagi kau akan tau, dan saat kau mengetahuinya kau pasti akan berkata kalau itu sangat menakjubkan"


Jawab Natan sambil berjalan keluar kamar


"Oh iya, satu lagi. Persiapkan dirimu, jagoan!" Sambungnya sebelum kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Adi


"Mungkin Pak Natan hanya mendongeng" Balas Adi acuh


Adi pun kembali tertidur karena rasa kantuk yang teramat menyerang tubuhnya.


–––––––


05.30 AM


Putra orang dengan rambut hitam terbangun karena suara bising dari Unik. Burung itu berkicau dengan keras, sampai Adi bangun tentunya. Tanpa perlu membeli jam alarm, Unik dapat membangunkannya dengan suara keras khas burung elang emas itu.


Kenyataannya suara elang emas terdengar indah dari segi manapun


Geir yang kesal pun melompat dari jendela, menggunakan tangannya dan menonjok Unik. Burung itu sedikit tergeser, bukan karena tak mampu menahannya, melainkan karena terkejut.


"Ahahahahahahaha"


Terdengar tawa renyah dari Varo yang baru saja sampai di depan pintu


"Tupai macam apa ini, kenapa dia bisa smackdown? "


Ucap Varo setelah menyelesaikan tawanya


"Mana ada tupai smackdown"


Balas Adi yang sedang membersihkan tempat tidurnya


"Nah, ada apa kau pagi-pagi kemari? Apa kau tidak punya hal lain yang bisa di kerjakan?" Sambung bocah tinggi itu


"Hehehe, aku lupa mengerjakan Pekerjaan Rumah"


Jawab bocah yang dikenal tengil itu


"Jadi?"


"Tentu saja kau harus membantuku mengerjakannya, lagipula ini tentang Ilmu Alam. Kau tahu sendiri aku sangat sangat tidak bisa pelajaran itu."


Oceh Varo


"Tidak ada yang sulit, kau hanya terlalu malas mengerjakannya. Baca bukumu, jangan hanya baca komik"


Ujar Adi


"Komik kan juga buku"


Jawab Varo sembari mengeluarkan sebuah buku Ilmu Alam yang sama dengan buku yang dibaca Adi tempo hari


Dan dimulailah penyelesaian pekerjaan rumah milik Varo, tentunya dengan tawa yang di sebabkan oleh tindakan kocak Varo yang tidak ada habisnya.


Adi dan Varo mempunyai sifat yang agak berbeda. Jika Adi tenang, kalem, dan tidak banyak tingkah, Varo adalah kebalikannya. Dia banyak tingkah, jail, humoris, menyenangkan, dan suka membuat orang lain tertawa. Begitupun dalam hal mata pelajaran, Adi menyukai sains, sedangkan Varo menyukai seni. Tak heran jika Varo sangat menyukai buku komik.


Dalam pertarungan, Adi lebih mengandalkan fisik dan terkadang menggunakan tombak. Sedangkan Varo mempunyai sebuah kekuatan bernama art destroyer yang dapat mengubah lukisan menjadi nyata dan dapat menyerang. Semakin bagus dan detail lukisan itu, semakin kuat pula kekuatannya. Sebaliknya jika lukisannya jelek dan absurd, kekuatannya akan melemah.


"Dosa sing paling menyedihkan iku dosambat ora duwe duit."


Dosa yang paling menyedihkan adalah pada ngeluh nggak punya duit.


: NeogOrgamer17


: 704 kata