
Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Varo segera pulang ke rumah untuk bersiap-siap ke akademi.
––––––––
Pukul 06.05
Kedua bocah itu berjalan menuju akademi yang jaraknya tak jauh dari asrama putra. Tak disangka di tengah jalan, Dean sang ketua kelas bertemu dengan mereka. Alhasil, ada tiga orang di sana.
"Mengtumben kau berangkat pagi-pagi begini?"
Ejek Dean pada Varo. Varo memang jarang berangkat pagi jika tidak ada keperluan, bahkan sering mepet dengan bel masuk.
"Mengmemang kenapa kalau aku berangkat pagi? Aku kan anak rajin, bukan seperti kau"
Balas Varo dengan santai, mungkin dia tak memahami ucapannya
"Meng-alah anak rajin apanya, kalau anak rajin itu sebelum pukul 6 sudah ada di akademi, lah kau? bangun tidur aja jam setengah tujuh"
Dean memang disiplin, maka tak heran para guru menyukainya. Selain disiplin dia juga cekatan
"Meng-bodo amat"
Balas bocah tengil itu
"Mang meng mang meng, tuh mang Jo di kantin"
Sela Adi di tengah perdebatan
"Ngapain cari mang Jo?"
Tanya Varo bingung, mungkin otaknya nge-lag
"Udahlah masuk aja ke kelas, keburu gak dapet tempat duduk yang enak"
Ucap Dean mempercepat jalannya,
"Woi, Tunggu"
disusul Varo dan Adi
02.30 PM
Waktunya kembali ke tempat paling nyaman, rumah. Para siswa berhamburan keluar dari akademi yang membosankan bagi sebagian orang, termasuk Varo dan Dean. Mereka sedang menuju asrama Adi, Varo bilang itu adalah pangkalan mereka.
"Mulai sekarang pangkalan kita ada di asrama Adi, Woke?"
"Enak aja, kau kira asramaku pangkalan perang"
"Boleh, daripada di taman mending di rumah Adi"
Dan disinilah mereka sekarang, asrama Adi. Bocah-bocah itu segera masuk dan bersantai di kamar sang pemilik.
"Udah pada izin?"
Tanya Adi
"Bodo amat, entar juga kesini kalo ada apa-apa. Lagian gue juga biasanya cuma main kesini"
Balas Varo, Orang tua Varo memang membolehkannya pergi tanpa izin sepulang sekolah, namun dengan catatan hanya ke tempat Adi. Adi dengan keluarga Varo memang sudah akrab sejak Varo berteman dengannya
"Gue udah bilang tadi pagi"
Balas Dean
"Oke"
Hening, kemalasan menyelimuti membuat keheningan yang sepi.
Yah suasananya memang membosankan.
Namun keheningan itu pecah ketika,
Srek srek
Suara itu berhasil membuat ketiga bocah itu memalingkan wajah. Ternyata ada Geir yang sedang berada di jendela, ada juga Unik. Tapi, apa yang sedang hewan-hewan itu lakukan?
Terlihat keduanya berhadapan seperti hendak baku hantam. Namun bukannya tidak adil Tupai melawan Elang? Aneh bin ajaib memang hewan peliharaan milik Adipati Natha itu.
Unik terlihat sedikit kebingungan, kepalanya beberapa kali miring ke kanan atau kiri. Sedangkan Geir tampak marah. Tunggu, bagaimana ekspresi tupai ketika marah?
"Eh mau apa burung tengil dan tupai smackdown itu?"
Ucap Varo
"Kau mengatai Unik tengil, padahal kau lebih tengil"
Balas Dean
"Tupai milikku bernama Geir, bukan tupai smackdown"
Balas Adi dengan gemas, dia menggigit bibirnya karena Varo sangat hobi mengganti nama sesuatu
"Terserah kalian"
Ucap Varo santai
Adi berdiri, dia berjalan menuju dua binatang peliharaan miliknya. Dan berkata,
"Oke semuanya, berhenti bertingkah aneh. Geir, berhenti memasang wajah marah, santay. Dan Unik, kau apakan Geir?"
Geir mengoceh ala² tupai. Seperti sedang melapor pada ibunya, dia berkata panjang lebar. Sementara Varo dan Dean tak mampu mengerti bahasa hewan itu.
Setelah hampir 7 menit, dua hewan itu berhenti berbicara. Sementara Adi mangut² sembari meletakkan jarinya di dagu, mungkin sedang berpikir.
"Oke, jadi semua ini hanya soal.... Kacang?!"
Ucap Adi terkekeh, dia juga menunjuk sebuah bungkus kacang di atas lemari kecil yang dia beli dari toko Penat beberapa hari yang lalu.
"Tunggu Adi, kau paham bahasa mereka?"
Tanya Dean terperangah
"Tentu saja, Adi itu kan manusia yang aneh. Jadi tidak mengherankan dia bahkan bisa bahasa binatang"
Jawab Varo
"Sejujurnya aku juga tidak paham. Tapi saat mereka berbicara, seolah-olah kata-kata yang mereka ucapkan benar-benar bisa aku pahami."
Jawab Adi
"Jadi apa maksudnya soal kacang ?"
Tanya Dean
"Yah kurang lebih Geir melempar kacang ke sangkar Unik karena Unik terlalu berisik menurutnya. Unik tidak menyukai Geir yang membuang kacang dan memarahinya, Geir yang tidak terima membela diri dan ya. Hal itu telah terjadi."
Jelas Adi
"Kupikir itu masalah sepele"
Ucap Dean
"Hewan-hewan itu memang abnormal"
Balas Varo terkekeh
"Eh Adi, ada apa dengan matamu?"
Tanya Dean terkejut
Warna mata temannya itu sudah berganti, sama seperti kemarin malam.
"Woah, kenapa bisa berubah?"
Ucap Varo sama terkejutnya, meski sudah berteman lama Varo baru pertama kali melihat hal ini.
"Ah aku tidak tau tapi mungkin tidak apa-apa, bukan masalah besar"
Balas Adi sembari tersenyum
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kacang yang baru"
Ucap Adi sembari berjalan ke arah lemari
"Kau masih punya kacang edisi terbatas itu?"
Ucap Varo dengan malas, sejujurnya dia tertarik
"Hei apa kau lupa? Adi kan membeli kacang itu dalam jumlah banyak, tentu tidak akan habis secepat itu"
Balas Dean sama-sama malas, dan sebenarnya dia masih ingin makan kacang itu lagi
"Akh"
Terdengar rintihan dari bocah dengan rambut hitam itu, Varo terkejut begitu juga Dean. Mereka menghampiri Adi dan mencoba bertanya, tapi nihil Adi terus merintih kesakitan. Tangannya masih terus memegang mata sebelah kanan sambil terus menahan sakit.
Tak lama, darah bercucuran dari mata itu. Membuat Varo dan Dean semakin panik, mereka masih tidak paham dengan yang terjadi.
drap.... drap.... drap....
Langkah kaki seorang pria terdengar keras di lorong asrama, orang itu mungkin sedang berlari karena langkah kakinya yang cepat.
Ceklek
Pintu kamar Adi terbuka, memperlihatkan seorang pria jangkung yang terengah-engah dan mencoba mengambil napas.
"Kalian temannya?"
Tanya orang itu
"Tukang tagih utang, ya iyalah pak. Kalo bukan ngapain kita disini"
Balas Varo kesal
Pria itu mendekat tangannya menyentuh leher Adi dan membuatnya pingsan, dia kemudian membopongnya dan berkata,
"Tolong ikut saya"
Setelah itu dia berlari keluar membawa Adi
"Lah gimana sih, mana gue belum bilang lagi. Ah bodo amat lah, kalo gue kagak balik masih ada bang Ziko yang jadi kepala keluarga. Woi bang ketua, tunggu!"
Ucap Varo menyusul Dean yang sudah berlari lebih dulu
"Hal yang hebat tidak datang dari situasi yang aman, jadi jangan pernah takut dengan tantangan."
-Hari ini bonus lebih banyak, lagi mood nulis. Awokawok-
: NeogOrgamer17
: 1010 kata