
Untuk sebuah awal pasti ada sebuah akhir, dan untuk sebuah kehidupan pasti ada sebuah kematian.
Manusia itu aneh, mereka berpikir bahwa semua orang itu sama. Ya kita memang satu planet. Tapi kita berbeda, kita punya banyak hal yang berbeda. Hobi, Makanan favorit, Kepribadian, dan masih banyak lagi.
Tentang manusia itu aneh, aku punya satu hal. Kita pernah bersekolah. Dalam sekolah, ada sekian pelajaran. Guru selalu meyakinkan kita bahwa kita itu sama. Kita belajar bersama-sama, main bersama-sama, jajan di kantin bersama-sama dan lainnya.
Di sekolah, kita dituntut untuk belajar ini itu. Di Indonesia, bila kau pintar Matematika kau akan dicap sebagai murid yang keren. Karena itu pelajaran yang sulit dan sedikit orang yang menyukainya.
Kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin kau pintar seni dan tidak suka matematika, atau mungkin kau suka pelajaran olahraga.
Setiap orang itu berbeda, dan setiap orang itu istimewa. Kita beri contoh dirimu adalah sebuah pohon kelapa. Sebuah pohon kelapa, hanya bisa menghasilkan kelapa, ia tidak bisa menghasilkan buah lainnya.
Kita seringkali di tuntut untuk pintar dalam semua pelajaran. Bagaikan pohon kelapa yang diperintah untuk menghasilkan buah apel, durian, pepaya, dan masih banyak lagi. Apakah bisa? tentu saja tidak. Pohon kelapa hanya bisa menghasilkan kelapa!
Aku hanya makhluk Bumi biasa yang baru merasakan secuil dari kehidupan. Di dunia yang luas ini, ada banyak makhluk bumi yang lain yang mungkin sudah lebih berpengalaman.
Di masa sekolah dasar dulu, kelasku sering di cap sebagai salah satu kelas yang buruk, kelas yang kotor, berisik, tidak punya sopan santun, dan masih banyak lagi, atau setidaknya begitulah. Guru² selalu berkata bahwa kelas sebelah itu lebih baik, mereka selalu bersih, berprestasi, sopan dan santun. Mereka berkata bahwa mereka tidak ingin membandingkan, tapi memberi contoh agar kami termotivasi.
Aku yang hanya murid biasa, sering disalahkan sekalian. Mereka pikir bahwa kelas kami muridnya semuanya sama. Para orang-orang itu tidak tau keadaan sebenarnya. Aku tau! karena aku bagian dari mereka.
Kelas kami ini sangat bervariasi, dimana ada yang pandai tentang Seni, menyukai tentang sains, pandai olahraga, pidato dan banyak lagi. Hanya saja banyak dari mereka yang masih tidak tau tentang potensi mereka masing-masing. Begitupun aku.
Kami yang hanya remahan roti, hanya bisa memendam rasa di setiap nasehat itu. Bukannya tidak menghormati guru, tapi pernahkah mereka memberi kami ruang untuk berekspresi? Mungkin bagi sebagian murid nasehat itu berguna, sebagian lainnya tidak peduli, dan sebagian lagi merasa direndahkan.
Dan aku adalah golongan orang-orang tidak peduli. Terkadang aku memang sakit hati, tapi sebagai seorang anak tengah aku sudah sering menerima hal tak mengenakkan.
Hah... Dunia itu kejam kawan. Rasanya aku ingin berteriak bahwa aku itu keren, tapi apa bisa? Belum sempat sampai puncak untuk berteriak saja paling sudah dicemooh bahwa tumben sekali seorang pecundang hendak mengatakan dirinya keren.
Setiap malam hanya bisa bermimpi dan memendam semua perasaan sendiri. Jatuh harus bangkit lagi, dan semuanya harus sudah mandiri. Terkadang aku merasa bahwa hidup ini tidak adil, tapi mengetahui betapa hebatnya dunia dengan kejahatan merajalela dan mereka yang tak seberuntung diriku, aku merasa aku kurang bersyukur.
Untuk semua yang telah pergi, biarkan ia berlalu, masa depanmu seringkali lebih penting lebih penting dari masa lalumu. Untuk semua yang telah menyakitimu, tunjukkan bahwa kamu lebih keren daripada dirinya. Dan untuk kamu yang berpikir bahwa kamu adalah orang paling sial, lihatlah ke bawah untuk bersyukur bahwa dirimu sebenarnya tak seburuk yang kau pikirkan.
"Hatimu boleh patah, matamu boleh basah, tapi kamu tidak boleh menyerah. Pelan-pelan kamu akan lupa, kamu akan kembali baik-baik saja, yakinlah kamu bisa tanpa dia."
#kopioppi
: NeogOrgamer17
: 650 kata