The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 20



"Eh lihat ini, ada sesuatu!" Seru Adi saat halaman terakhir dibuka


"Apa itu?"


"Saat kau membuka, maka sesuatu akan tertutup. Ketika kau berharap, maka wujudkan lah"


Kedua laki-laki muda itu mengeryit, apa maksud kata-kata buku itu? Ini membingungkan. Kini, mereka harus memecahkan teka-teki yang baru sebelum waktu benar-benar habis.


"Omong kosong apa ini?! Oh ayolah, ini bukan waktunya bermain teka-teki" Umpat Dean


"Apa kematian om Natan juga ada kaitannya dengan jiwa sejati itu?" Gumam Adi


"Kita ambil saja dulu itu, kita kembalikan nanti" Usul Dean


"Baiklah, ayo ke atas"


Buku dari perpustakaan Hexagonis dapat dipinjam selama pembukaan masih berlangsung. Meski begitu, buku dari perpustakaan itu tidak boleh dibaca oleh orang lain selain orang yang masuk ke perpustakaan. Meski mencoba melanggar peraturan, namun semua buku tersebut telah diberi kamera pengintai super mini yang dapat mengawasi gerak-gerik sang peminjam.


Entah mengapa buku-buku dari perpustakaan Hexagonis benar-benar dijaga ketat, orang yang masuk pun tidak begitu banyak meski perpustakaan ini luas. Rekor terbanyak hanya berisi 200-an orang.


"Permisi, saya ingin meminjam buku ini" Kata Dean pada kakek yang menjaga perpustakaan


"Oh cepat juga kalian, baiklah"


Sang kakek mengambil sebuah stiker khusus berbentuk lambang Kerajaan Alterniamon dan memasangkannya pada halaman pertama yang kosong.


"Ini dia, jaga buku itu tetap bersih. Kembalikan ke perpustakaan dengan wujud yang sama. Selamat membaca" Ucap si kakek setelah menyerahkan buku itu kembali


A few moments later....


Adi dan Dean kembali ke penginapan, mereka memergoki Varo sedang tidur serampangan dengan kepala yang berada di bawah dan kaki yang ada di kasur. Dean tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia mengambil ponselnya dan memotret bocah itu beberapa kali.


Rambut berantakan, bantal guling yang bertebaran, tidur yang serampangan, ancaman sempurna untuk Varo. Itu bisa digunakan sebagai kartu as nantinya, itulah yang ada dipikiran Dean.


"Mungkin kita bisa mengirimkannya ke Rainey nanti" Kata Dean saat menunjukkan foto-foto temannya itu kepada Adi


Rainey adalah sepupu Dean yang berusia sepantaran mereka, dia juga bermarga Fernandez. Varo menyukai gadis itu dan tidak disangka Rainey juga menyukai Varo yang sifatnya begitulah. Hal itu diketahui beberapa hari lalu saat Rainey bercerita banyak alias curhat kepada adik perempuan Dean, Zelynda. Hal itu kemudian disampaikan kepada Dean diam-diam dan Adi mengetahuinya, namun Varo masih dengan rasa penasarannya.


"Apa Rainey akan berpindah haluan setelah melihat ini ?" Canda Adi dan ditanggapi tawa kecil Dean


"Bisa dikatakan Rainey cinta mati dengan bocah itu, tapi dia terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Anak itu terlalu kalem dan pendiam" Kata Dean


"Tapi Varo itu bobrok dan urakan, bagaimana bisa gadis yang anggun seperti Rainey menyukainya?" Kata Adi


"Kini aku percaya bahwa cinta itu buta" Balas Dean sembari mengangkat bahunya


"Baiklah, waktunya membangunkan beruang yang sedang hibernasi ini"


"Woi, bangun! Kau ini pemalas sekali" Seru Dean, tangannya menggoyangkan tubuh Varo kencang namun itu tidak berhasil membuat kelopak matanya terbuka


"Lima menit lagi, ma" Astaga anak itu benar-benar anak mama.


"Hei anak mama, bangun. Kau tidak sedang di rumah. Hei cepatlah bangun!" Kata Dean, dia mulai pasrah


"Biar aku saja. Hei Varo kau harus cepat bangun! Rainey bisa diembat pria lain sebelum kau sempat menyatakan perasaanmu" Kata Adi santai


"Apa?! Rainey adalah milikku!" Seru si pecinta seni itu


"Semesta mempertemukan kita, berharap bisa menikmati semesta bersama, tapi sayangnya aku lupa jika itu semua hanya angan yang tidak akan menjadi nyata" -A S K E Y


: NeogOrgamer17


: 571 kaya