The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 4



"Pengumuman kepada seluruh murid Akademi Anapa, pada hari yang tidak indah ini sekolah meniadakan pelajaran ke-3 dan ekstrakurikuler. Dimohon untuk bisa segera kembali ke rumah atau asrama masing-masing"


Suara berdengung dari pengeras suara mengejutkan murid-murid akademi. Tapi tentu saja, siapa yang tidak suka pulang lebih awal?


Namun apa maksud dari kata-kata "pada hari yang tidak indah ini" ? Entahlah, yang pasti pulang lebih awal adalah anugerah.


"Oi oi oi, apa-apaan ini? kita pulang lebih awal?" Tanya seorang pemuda dari tingkat 4, rambutnya berwarna sedikit perak dan tubuhnya agak kurus.


"Bukankah itu bagus?" Sahut yang lain, pemuda yang paling tinggi diantara temannya dengan wajah yang rupawan, dan rambut yang biru menambah kadar ketampanannya.


"Tidak ada ekstrakurikuler tidak seru" Ujar murid yang satunya dengan lesu, Matanya berwarna kuning dengan rambut jingga kemerahan.


Langkah kaki tiga orang pemuda dari tingkat 4-2 itu mengeluarkan suara cukup keras di sepanjang koridor yang sepi.


"Sebaiknya kita ke kantin dahulu" Ajak sang rambut biru dengan semangat


"Apa kau akan memborong makanan kantin lagi?" Tanya si rambut jingga diiringi tepukan di dahi sang rambut perak


"Aku sangat heran dengan dirimu, kau selalu makan dalam jumlah besar tapi kenapa tidak pernah gemuk?" Tanya si rambut jingga


"Aku kan istimewa" Jawabnya sambil membusungkan dada


"Cih, istimewa.... istimewa"


Elang Yudhistira sang rambut perak, Nadish Darpa Conary si tampan rambut biru, Haidar Rafandra Yi si rambut jingga. Mereka adalah tiga orang dari sekian murid berbakat di Akademi. Elang yang menempati posisi 2, Nadish posisi 3 dan, Hai posisi 4. Mereka menempati posisi itu selama 5 tahun berturut-turut.


Sementara posisi 1 ditempati oleh pemuda yang entah siapa namanya, bagaimana bentuknya, dan bagaimana kekuatan serta kecerdasannya. Kabar angin berkata bahwa dia sudah menjadi jenius bahkan sejak tingkat 1, tapi tidak ada yang tau pastinya karena itu adalah rahasia Akademi Anapa.


Sesampainya di kantin 3 orang itu disambut dengan teriakan histeris para gadis, siapa yang tak kenal nomor 2, 3, dan 4? Alasan lainnya adalah wajah mereka yang di atas rata-rata serta tinggi badan bak tiang listrik.


Tak menghiraukan semua itu, Nadish segera pergi ke stand makanan dan memesan banyak makanan sekaligus. Sementara Elang dan Hai hanya memesan 1 makanan dan satu botol air putih masing-masing.


"Aku beli itu, ini, lalu itu, lalu ini, ah dan yang ini, lalu yang itu, bla bla bla bla" Oceh Nadish


"Kau yakin akan menghabiskan semua itu?" Ucap Elang


"Jangan ngutang lagi, nggak bawa uang lebih" Ucap Hai dengan sendu dan bicaranya menjadi tidak formal


"Iya iya cerewet"


"Eh kok ada orang?" Tanya Hai


"Yah kita kecolongan, yaudah ganti tempat aja" Tawar Elang


"Nggak seru kalo nggak duduk di situ, kita suruh minggir mau kagak ya?" Ucap Nadish


"Nggak sopanlah, Lobak" Ucap Hai sambil menggelengkan kepala


"Nama saya itu Nadish, bukan Radish" Sanggah si nomor 3 itu


"Oh kakak sudah datang, silahkan kalau mau dipakai. Maaf tadi terpaksa saya pakai"


Anak laki-laki yang sebelumnya duduk di kursi itu beranjak sambil membawa piring, tak lupa dia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Jika dilihat dia seperti murid tingkat 3.


"Nggak papa kok, maaf merepotkan ya" Ujar Elang dengan senyum ramahnya


"Mari kakak" Ucapnya sekali lagi sembari berjalan menjauh


"Iya" Sahut ketiganya


"Sopan banget tu bocah" Ucap Nadish


"Ya baguslah, justru kita butuh junior yang kayak gitu" Sahut Elang


"Udah dikit tuh anak yang kayak gitu" Hai menimpali


"Silahkan makanannya" Ucap seorang pengantar makanan


Mereka menyantap makanan mereka dengan tenang, kecuali Nadish yang makan dengan rakus meski begitu ketampanannya sama sekali tidak berkurang.


"Stars can't shine without darkness."


: NeogOrgamer17


: 626 kata