
Pagi yang cerah, kupikir.
Hari ini kami pergi dari Alterniamon. Ada sedikit perubahan rencana, cukup mendadak tapi masih cukup waktu untuk persiapan. Sejujurnya aku tidak terlalu paham mengapa rencana awal harus diganti, tentu saja aku mendengarkan saat mereka menjelaskan tapi entahlah. Mungkin aku harus melakukan sesuatu agar tidak tambah lemot nantinya.
Aku berharap surat ini sampai ditangan mu dengan baik, aku tidak memberi banyak komplain kepada pengirim pesan. Seperti yang kau bilang. Sejujurnya aku bingung sendiri akan menulis apa lagi, tapi kurasa inti dari surat ini sudah kutulis di awal. Jadi kami hanya akan melakukan sedikit perubahan rencana. Sepahaman ku, kami akan pergi ke barat daya. Kau sudah bisa menebak pastinya.
Baiklah, kurasa cukup. Semoga ini benar-benar sampai di tanganmu. Sampai ketemu lagi.
Aldev
Kurang lebih begitulah surat yang di tulis Varo, itu untuk kakak laki-laki nya. Dia sudah berjanji akan sering mengirim kabar. Meski memiliki ponsel pintar, agak sulit bagi mereka berkomunikasi karena sinyal yang tidak mendukung karena sedang berada di hutan. Sulit juga mengisi daya nya karena tidak ada energi yang cukup banyak. Memerlukan charger yang menggunakan beberapa batu khusus, seperti yang ada di hotel.
Jadi, alternatif lainnya adalah merpati.
Dean sendiri sudah mendapat izin, entah dari mana tapi Adi tak ingin ambil pusing. Cukup mencurigakan memang, tapi kalau Adi saja tidak memikirkan nya ya kenapa harus dipikirkan?
3 bocah itu berjalan ke barat daya, tujuan utama mereka adalah sebuah desa yang terkenal. Desa itu dikelilingi bukit dan bukitnya berbatasan dengan pantai di barat daya. Sebuah tempat indah yang rumor nya membuat siapapun yang datang berasa tak ingin pulang.
Desa itu terbagi menjadi 2 wilayah, itu disebabkan karena perbedaan mayoritas profesi dan jarak yang cukup jauh antara satu desa dengan desa yang satu. Orang-orang di sana pun kesulitan mengelola semua hal apabila campur aduk, jadi beberapa orang mengusulkan untuk membaginya menjadi dua. Yang satu fokus dengan kemaritiman dan satunya lagi agrikultur.
Meski cukup jauh dari kota-kota besar karena terhalang bukit dan hutan, masyarakat di sana termasuk dalam sumber daya manusia yang unggul. Jadi tak heran, amat sangat jarang terjadi kesalahan. Tinggi nya angka kesadaran pendidikan juga menjadi faktor mengapa orang-orang di sana berkualitas tinggi.
Agak sulit dimengerti, tapi tempat itu memiliki sebuah universitas yang terletak di antara dua desa. Guru nya pun kebanyakan juga asli dari dua desa itu. Para anak muda tidak perlu susah-susah pergi ke kota untuk menempuh pendidikan karena semuanya sudah tersedia.
Mungkin itu membuat bertanya-tanya, mengapa tempat maju dan ramai seperti itu masih di sebut desa. Orang-orang di sana hanya tidak mau menganggu tradisi turun-temurun mereka yang ingin tempat itu selalu di sebut 'desa' meski terlihat layaknya sebuah kota. Mereka percaya, pembangun peradaban di wilayah itu sejatinya hanyalah orang-orang sederhana yang hanya ingin hidup bahagia.
Aneh? benar. Aneh sekaligus unik.
"Apa kalian sudah pernah pergi kesana?" Tanya Adi
"Aku pernah mengunjungi nya sekali" Jawab Dean
"Aku pernah pergi ke sana juga, beberapa kali. Aku pergi bersama kakakku untuk peninjauan kalau tidak salah ingat" Sahut Varo
"Apa mereka benar-benar punya universitas?" Tanya Adi lagi
"Kau akan benar-benar terkejut setelah sampai di sana, tempat itu akan melebihi ekspektasimu" Jawab Varo bersemangat.
Akhirnya setelah cukup lama, sekitar 7 jam berjalan kaki. Tibalah mereka di desa kembar barat daya, Rahsa dan Siasa.