
Banua Terra, Kota Yerranion, Kerajaan Alterniamon. Hari ini setelah kemarin.
Kerajaan Alterniamon yang terkenal akan teknologinya itu baru saja mengumumkan pembukaan perpustakaan Hexagonis yang legendaris. Hexagonis, perpustakaan legendaris yang telah berdiri sejak 1000 tahun yang lalu itu memang berbentuk hexagon alias segi enam. Selain memiliki daya tarik tersendiri karena berbetuk tidak biasa, perpustakaan itu pastinya juga berisi ilmu masa lalu.
Setelah 4 jam perjalanan dengan burung raksasa dari teknik art destroyer milik Varo, 3 bocah dari Akademi Anapa itu bergegas menuju pintu masuk dan menuju pos penjagaan.
"Siapa kalian?" Tanya salah satu penjaga itu
"Kami dari Akademi Anapa, kami mendengar akan pembukaan perpustakaan Hexagonis. Jadi, kami kemari untuk dapat masuk kesana" Balas Adi
"Tunjukkan kartu pelajar kalian!" Perintahnya dan mereka bertiga pun mengeluarkan kartu pelajar dari Akademi
"Baiklah, silahkan masuk" Ucap penjaga itu dengan tersenyum
"Terimakasih" Balas Dean dengan senyuman
Tiga laki-laki itu segera pergi ke sebuah penginapan, tentu mereka tidak akan tidur di atas tanah tanpa alas di kerajaan orang.
"Permisi, apakah masih ada kamar yang tersisa?" Tanya Adi
"Masih ada 7 kamar tuan" Jawab resepsionis dengan nametag Mira itu dengan senyumnya
"Tolong 1 kamar yang besar di tingkat 2 untuk 3 orang" Kata Dean cepat sebelum Adi ingin menjawab
"Jangan terlalu boros, kamar yang besar itu terlalu bagus" Kata Adi, bocah itu memang sangat hemat
"Kita pakai uang siapa?" Tanya Varo
"Kau kan tuan muda, pakai uangmu saja"
Ucap Dean
"Lah, kau kan juga tuan muda. Tuan muda Fernandez" Kata Varo sengit
"Kau juga punya uang banyak kan, tuan muda Kaivan" Balas Dean tak kalah sengit
"Oke cukup, kita gunakan duid om Natan"
Sela Adi sembari menyerahkan beberapa lembar uang kepada resepsionis
"Cih, lu sih" Sindir Varo
Tak mau ambil pusing, Adi segera pergi ke kamar nomor 19 yang ada di lantai 2 setelah menerima kunci dari resepsionis. Disusul oleh dua teman cerewetnya setelah perdebatan kecil.
Ceklek....
"Hah.... Ini sih terlalu bagus" Lirih Adi
Di dalam kamar yang cukup luas itu ada 2 buah kasur tingkat yang cukup untuk 4 orang, satu kamar mandi, dua buah lemari, dan jendela yang mengarah langsung ke taman kota yang memang ada di depan penginapan tersebut. Kamar yang sangat pas untuk pengembara ataupun orang baru.
Untuk pelengkap ada 1 buah AC, sebuah sofa panjang dengan meja kecil di depannya dengan sebuah TV yang menempel didinding.
"Untung aku memesan yang ini, aku tidak akan tahan tidur tanpa AC" Ucap Dean sembari merebahkan dirinya di kasur sembari menghubungkan ponsel pintar miliknya dengan kabel untuk mengisi daya
"Sempurna! Sebuah tempat pengisi daya di sebelah tempat tidur" Seru Varo girang, dengan cepat dia mengisi daya ponsel pintarnya sembari memainkannya sesekali
Sementara Adi memberi pesan kepada Natan menggunakan ponsel yang baru saja diberikan Natan kepadanya kemarin.
"Kami sudah sampai, kami sedang berada di penginapan Alkana sekarang"
Kira-kira begitulah bunyi pesannya
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"
Tanya Dean dengan mata terpejam
"Mencari Putri Silvanna?" Tanya Varo balik
"Akan sulit untuk membuat tuan muda Nara memberikan kita token masuk"
Balas Adi sembari naik ke kasur di atas Dean setelah menaruh semua barang miliknya
"Apa kalian melihat kanvas milikku?" Tanya tuan muda Kaivan
"Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar." - Dee Lestari
: NeogOrgamer17
: 545 kata