The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 18



Hari yang ditunggu pun tiba, pembukaan perpustakaan Hexagonis akan berlangsung pagi ini pukul 07.00 dan rencananya akan ditutup setelah 10 hari.


06.00


"Cepatlah, kita harus ke sana lebih cepat dan menyelesaikan tugas itu lebih cepat" Kata Adi pada Varo yang masih menonton Televisi ditemani beberapa cemilan


"Ayolah, ini masih jam 6. Perpustakaannya juga belum buka" Jawab Varo santai


Klik


Notifikasi pesan dari ponsel pintar milik Adi berbunyi, dengan cepat Adi memeriksa pesan itu. Dan firasatnya sedari tadi tidak menunjukkan perasaan menyenangkan terbukti detik itu juga.


"Natan Aditya telah pergi. Maaf, kami terlambat membantunya. Dia dibunuh oleh pasukan pemberontak benua pagi tadi"


Baru saja dia berbahagia karena mendapat token masuk dan mendapat tawaran dari putri Silvanna untuk menjadi panglima besar kerajaan Alterniamon di masa depan nanti, kini hatinya kembali terluka karena menghadapi kenyataan pahit nan asam pagi itu.


"Hei rambut hitam, apa kau mau membantu kami menjalankan kerajaan Alterniamon saat kita sama-sama dewasa nanti ?"


"Membantu bagaimana putri ?"


"Aku pikir, kau adalah salah satu orang yang berbakat. Jika itu diasah, tidak kecil kemungkinanmu menjadi seorang Guardian nantinya. Tapi tentunya kau harus menjadi seorang panglima besar sebelum jadi seorang Guardian"


Tubuhnya mematung, tapi percayalah hatinya bergetar hebat. Matanya menatap depan dengan hampa, Dean yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat pemandangan aneh di depannya.


"Hei ada apa?" Tanya Dean pada Varo yang terlihat sedih


Tanpa menjawab, Varo menyerahkan ponsel Adi.


"Ehhh?!" Teriaknya


"Pasukan pemberontak benua? kupikir mereka sudah dihabisi oleh Guardian Leiron dan pasukannya. Hah.... Berbelas kasih pada musuh itu memang mustahil mendapatkan hasil" Kata putra pertama dari keluarga Fernandez itu


1 tahun lalu, para pasukan pemberontak benua sedang menguasai salah satu desa di wilayah kota Leiron dan mempekerjakan rakyatnya secara paksa. Itu tentu saja mengundang rasa khawatir juga simpati masyarakat di sekitar desa itu. Pada akhirnya dua orang pria memberanikan diri mengambil bukti dan menyerahkannya kepada kerajaan setempat, yang kemudian langsung di serahkan kepada Guardian Leiron.


"Pengkhianat selamanya tetaplah pengkhianat" desis Varo, ucapannya mengandung banyak rasa benci.


Dia mungkin tidak terlalu mengenal Natan, tapi membunuh orang baik bukanlah hal yang baik pula.


Sementara Adi yang duduk di samping Varo masih terlihat terkejut dan diam seribu bahasa.


"Hei Adi, apa kita jadi pergi ke perpustakaan hari ini?" Tanya Dean


"Kita bisa melakukannya besok kan?"


Timpal Varo


"Tidak, tidak apa-apa. Om Natan tidak akan mau aku berhenti di sini" Balas Adi, intonasinya masih terdengar sedih meskipun kata-kata yang diucapkannya mengandung semangat


"Baiklah kalau itu maumu. Varo akan kembali ke Anapa dan melihat situasi di sana"


Usul Dean dan diangguki oleh Varo


"Baiklah, aku akan ke sana. Siapa tau aku bisa mendapatkan sesuatu" Kata Varo sembari masuk ke kamar mandi dengan sebuah handuk di pundaknya


"Kuatkan dirimu kawan"


Setelah bersedih selama 12 menit, Adi berdiri dan beranjak dari kursinya. Berita hari ini memang sulit dimengerti. Tapi Adi tahu Natan akan kecewa jika dia hanya berdiam diri. Orang yang mau menerima dirinya setelah Varo itu sudah dia anggap sebagai kakaknya, meski dia konyol, suka melawak, dan jones, Adi menyayanginya. Sebagai keluarga....


"Aku tidak siap untuk kehilangan, namun aku siap untuk kehidupan bahagia setelah pengorbanan."


: NeogOrgamer17


: 562 kata