The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 19



Setelah mengantarkan Varo keluar dari Kerajaan, Adi dan Dean bergegas pergi ke perpustakaan Hexagonis. Tanpa melewati proses yang sulit, mereka sudah berada di dalam perpustakaan kuno itu.


Rapi, bersih, dan elegan. Itulah yang menggambarkan perpustakaan ini. Dengan percampuran desain modern dan tradisionl.


Tapi itu bukanlah sesuatu yang penting bagi Adi dan Dean, mereka segera mencari tujuan mereka yaitu buku tentang jiwa sejati. Perpustakaan ini juga cukup besar karena memiliki 2 lantai yaitu setengah di atas dan setengah lagi di bawah tanah. Dan setiap lantai memiliki cirinya masing-masing.


Lantai atas menggambarkan cahaya dan keagungan, karena itu buku-buku disini lebih banyak berisi tentang hal-hal yang disebut keadilan. Sementara lantai yang ada di bawah tanah menggambarkan kegelapan yang berisi buku-buku kuno tentang sejarah kelam, rahasia masa lalu, dan lainnya.


"Ahhh.... Buku disini sangat banyak! Kemana kita akan mencari" Keluh Dean


"Yah kau benar, kita sudah berputar-putar 2 jam dan tidak ada habisnya" Balas Adi


"Sebenarnya buku tentang jiwa sejati itu ada di lantai atas atau lantai bawah?"Gumam Adi


"Kita tanya kakek-kakek penjaga perpustakaan disana saja" Usul Varo sambil menunjuk seorang kakek yang sedang duduk di belakang meja


"Benar juga" Balas Adi


Mereka berdua kemudian menemui kakek itu dan bertanya,


"Kakek, maaf menganggu waktunya. Apa kakek tau buku tentang jiwa sejati?" Tanya Dean sopan


"Hmm.... Jiwa sejati ya, sudah lama sejak orang terakhir menanyakan tentang buku itu" Jawab si kakek berbaju ungu itu, penampilannya juga sama sekali tidak menyeramkan.


"Buku itu ada di ruang bawah. Kalau aku benar, benda itu ada di pojok utara, rak ke 203 yang berwarna hijau. Selamat mencari. Khu khu khu" Sambung kakek itu sembari kembali menyesap cerutu nya


"Terima kasih kek" Jawab Dean dan Adi bersamaan


"Ya ya, sepertinya kalian sedang terburu-buru. Cepatlah, tidak baik membuang waktu" Katanya


"Ayo" Ajak Dean


Dengan sedikit berlari kecil, mereka berdua pergi menuju tangga yang menuju ruang bawah tanah.


"Sudah lama sekali ya. Ternyata dia memang mirip sekali denganmu."


Ruang bawah....


Setelah berjalan 5 menit dari tempat kakek tadi, Adi dan Dean sampai di rak yang sama dengan petunjuk. Rak paling utara dengan nomor 203 yang berwarna hijau.


"Jadi ini raknya? Bukunya yang mana satu?" Kata Adi, 1 rak yang memiliki panjang 3 meter terdiri dari 6 tingkat dengan ukuran yang sama.


"Banyak sekali, bukunya juga terlihat agak berdebu. Tapi debunya terlalu sedikit untuk rak yang berusia ratusan tahun" Balas Dean


"Ah ini dia! Eh tipis sekali?!" Kata Adi sembari mengangkat sebuah buku yang lumayan kecil dengan judul Jiwa sejati


"Kukira bukunya akan tebal, ternyata tidak lebih tebal dari buku matematika" Kata Dean tertawa garing


(Kalian tau lah ya seberapa tebal buku matematika SMP atau SMA yang sudah berkenalan dengan simbol dan huruf-huruf asing itu)


Srak srak


Halaman demi halaman dibuka, isi dari semua halaman di buku itu ternyata sama!


"Ini.... Yang nulis niat tidak sih?!" Kata Dean dengan wajah pasrah


"Kenapa di saat begini kita harus main teka-teki" Kata Adi sembari menghela nafas


"Buku durjana, tidak berguna" Gerutu Dean berkali-kali, setelah berputar 2 jam mereka hanya menemukan teka-teki yang sulit dipecahkan


"Eh lihat"


"Waktu tidak pernah menyembuhkan apapun, kau hanya dipaksa untuk terbiasa dengan luka yang masih tersisa" -siapaya.


: NeogOrgamer17


: 532 kata