The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 14



Hari sudah malam, setengah dari penghuni kerajaan ini pasti sudah lelap dalam mimpinya masing-masing. Tapi tidak dengan 3 penghuni sementara itu, mereka bertiga malah asyik berjalan-jalan. Ralat, hanya Varo yang terlihat asyik.


Karena insiden kanvas yang tertinggal, Adi dan Dean harus terseret ke dalam masalah. Yaitu membeli kanvas baru.


Flashback on


"Apa kalian melihat kanvas milikku?"


Tanya Varo


"Untuk apa aku membawanya" Balas Dean malas


"Aku tidak membawa kanvas apapun, lagipula kau sudah punya kan?" Kata Adi


"Tapi itu kanvas keluaran terbaru, harganya lumayan menguras kantong. Aku bahkan harus memecahkan Ayam jago ku" Lirih Varo


"Aha! Bagaimana kalau kita membelinya sekarang?" Usul Varo girang


Flashback off


Dan disinilah mereka bertiga sekarang, di sebuah toko alat lukis. Pukul 9 malam sekarang.


"Kanvas, kanvas, kanvas.... Hahaha aku melihat harta karun!" Teriak Varo tanpa rasa malu, beruntung toko itu cukup besar dan sedang sepi pembeli karena hari sudah malam


"Apa dia benar-benar menggilai kanvas dan alat lukis lainnya?" Bisik Dean


"Yah, hanya kanvas mahal yang dia sukai. Untung dia tuan muda" Balas Adi berbisik


Pandangan Adi tertuju pada sepasang belati kayu kecil di pojok rak, toko ini tidak hanya menjual alat lukis tapi juga beberapa alat untuk bertarung yang sebelumnya telah dipakai orang-orang dan dijual kembali disini. Aneh memang.


Saat Adi menyentuhnya, ada orang lain yang menyentuhnya juga. Mereka saling menatap sesaat, satu dari mereka mengeryit heran.


Itu tuan muda Nara!


Adi cepat-cepat mengambil alih tangannya dan bersikap sopan.


"Maafkan hamba tuan muda" Ucap Adi dengan sedikit membungkuk


Nara tak berucap, dia hanya mengangguk kemudian berlalu tanpa mempedulikan belati itu lagi. Untuk apa tuan muda itu pergi malam-malam ke toko alat lukis? pikir Adi.


"Apa itu tuan muda Nara?" Tanya Dean yang tiba-tiba muncul, entah kemana dia tadi


"Ya, itu tuan muda Nara. Kenapa dia tidak dipanggil pangeran ya?" Tanya Varo yang tiba-tiba muncul juga


"Untung jantungku selamat" Kata Adi sembari mengelus dada


"Katanya Tuan muda tidak suka dipanggil pangeran, ada yang bilang karena dia tidak akan jadi putra mahkota sih"


Balas Dean, si Wikiparia berjalan


"Lalu kerajaan akan diserahkan pada Putri Silvanna?" Tanya Varo lagi


"Kupikir begitu" Jawab Dean dan Adi serempak


"Ya, belati itu cukup menarik perhatianku" Jawab Adi sembari menuju kasir, diikuti Varo yang membawa beberapa kanvas dan alat lukis lainnya


Setelah selesai membayar, Ketiga laki-laki itu berjalan kembali ke penginapan. Tapi di tengah jalan....


"Eh tunggu! Itu toko pedang!" Seru Dean setengah berteriak, Yah mereka mampir ke sana.


"Kau akan membeli pedang? Lagi?" Tanya Varo. Jika Varo adalah penggila alat lukis, maka Dean adalah penggila pedang.


"Ada banyak pedang!" Ucap Dean dengan mata berbinar-binar, tangannya menyentuh sebuah pedang bewarna emas yaang ukurannya terlihat pas untuknya


"Pilihan bagus nak, itu pedang yang ditempa lebih lama dibanding pedang di sampingnya yang terlihat lebih berkualitas. Warnanya juga menarik bukan?" Ucap si pemilik toko


"Berapa harganya tuan?" Tanya Dean tak sabaran


"Tidak mahal. Karena sepertinya kau lumayan berbakat, 200 Pes sudah cukup" Jawab Si pemilik toko


-FYI: Pes adalah mata uang benua Terra-


"200 Pes?! itu bahkan lebih banyak dari uang jajanku sebulan!" Pekik Varo


"Cih, uang jajanmu sebulan kan 180 Pes. Sebelas Dua belas lah" Sahut Dean


"Ini tuan, Terima Kasih" Ucap Dean sembari menyerahkan 2 lembar uang berwarna silver kepada pemilik toko itu dan berlalu pergi


"Datanglah lagi kapan-kapan, anak muda"


Seru orang itu sembari melambaikan tangannya saat Adi, Dean, dan Varo berada cukup jauh dari toko itu.


A few moments later....


Sampailah mereka di penginapan Alkana. Tak menunggu lama, mereka segera naik ke lantai 2 dan merebahkan diri di kasur masing-masing.


"Ah....Legaa" Kata Dean sembari memejamkan mata


"Sepertinya kita ini terlalu boros, kita sudah menghabiskan 400 pes, 400 pes!" Kata Adi setengah meringis, dia bahkan tidak pernah menggunakan uang sebanyak itu sebelumnya. Bahkan untuk 100 pes, dia akan berpikir sampai 5 kali sebelum menggunakannya.


"Tenang saja, uang kami tidak akan habis 7 turunan" Ucap Varo santai, holang kayah memang bedah


"Terserah kalian" Balas Adi sembari geleng-geleng kepala


Setelah itu, mereka. bertiga segera larut dalam mimpinya masing-masing.


“ Kata 'pulang' selalu terdengar jauh lebih indah dari pada 'pergi'. Tetapi orang harus rindu untuk bisa menikmati keindahan pulang.”


- M. Aan Mansur


: NeogOrgamer17


: 711 kata