The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 22



Surat itu menyisakan banyak pertanyaan, namun Adi semakin yakin bahwa Natan memiliki kaitan dengan keluarganya.


Kwakkk


Teriak Unik, mungkin saja dia memahami bahasa manusia


"Sepertinya tebakanmu memang benar Adi"


Ucap Dean


"Tebakan apa?" Tanya Varo penasaran


"Tentang Pak Natan yang mempunyai kaitan dengan keluarga Adi, bagaimana mungkin Pak Natan tau informasi sebanyak itu jika mereka tidak berhubungan?" Jawab Dean terdengar masuk akal


"Baiklah, kita tidak punya waktu banyak. Masih ada 9 hari sebelum waktunya benar-benar habis" Ucap Adi sembari memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya


"Oke, sepertinya ini akan jadi malam terakhir kita di Alterniamon" Timpal Varo


9.30 pm


Malam itu rembulan tidak menampakkan diri sepenuhnya, namun bintang-bintang masih bersinar layaknya hari biasa. Seisi kerajaan mulai lenggang karena hari beranjak malam, toko-toko mulai tutup dan kegiatan lain mulai berangsur selesai. Namun, malam itu si rambut hitam itu masih enggan beranjak dari tempatnya, di kursi rooftop di atas penginapan.


"Hei, apa kau tidak bisa tidur?" Tanya seseorang dari belakang


"Ya aku tidak bisa tidur karena mungkin besok akan jadi hari yang melelahkan"


"Yah.... Kau benar, tapi si tengil biang kerok itu mungkin sudah masuk ke dalam mimpinya" Balas Dean


"Menurutmu apa kita bisa menemukan jiwa sejati itu?" Tanya Adi


"Pertanyaan bodoh, kami tidak bisa mempercayai mu kalau kau bahkan tidak yakin dengan dirimu sendiri. Ayolah Adi, jangan terlalu pesimis. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kecuali uang" Jawab Dean diakhiri senyum lebarnya


"Tapi uang tidak bisa membeli kebahagiaan?"


"Iya benar, uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan. Kalau sedikit...."


"Hahahahaha"


Dua orang itu tertawa bersama karena candaan receh yang sedikit mencairkan suasana. Adi berpikir ini adalah malam terakhir sebelum mereka akan pergi dan berharapan dengan dunia luar, namun apa yang dikatakan Dean ada benarnya.


"Bagaimana orang lain bisa percaya, kalau aku saja tidak percaya dengan diriku sendiri?"


Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepala Adi.


"Baiklah, kurasa aku harus tidur sekarang. Aku bisa mengantuk besok" Pamit Dean sembari berjalan pergi


"Oke"


"Apa aku sudah cukup kuat? Apa aku bisa melindungi yang lain? Apa aku bisa menyelesaikan tugas ini tepat waktu? Apa aku mampu?"


Adi bertanya-tanya dalam hatinya, terlalu banyak pertanyaan yang jawabannya masih tersimpan rapat.


Malam itu sepi, kesunyian yang dinanti-nanti oleh Adi.


"Menatap langit malam itu selalu menyenangkan bukan?"


Suara asing itu masuk begitu saja ke dalam kepala, Adi sedikit terkejut namun segera kembali tenang.


"Yah.... Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding melihat langit malam tanpa awan" Jawab Adi sembari tersenyum kecil


Hap


Kucing berbulu putih oranye itu melompat


ke samping Adi dan duduk. Apapun bisa terjadi di dunia yang aneh ini, termasuk Adi yang dapat memahami bahasa binatang.


"Aku menyukai langit, terutama saat malam dan tanpa awan. Mereka terlihat menawan dan meninggalkan banyak kenangan" Kata si kucing itu lagi


"Hei, nak siapa namamu?" Tanya kucing itu saat menengok


"Adipati.... Natha Pradipta"


"Itu nama yang keren" Puji si kucing


"Namaku Yi"


"Senang bertemu denganmu Yi" Kata Adi


"Oh ya Yi, berapa usiamu?"


"Hemm, jika dikira-kira mungkin 50 tahun. Itu waktu yang masih pendek untuk seekor Legend Fury" Jawabnya


"Benar, tapi jika kau seekor kucing maka itu waktu yang lama"


"Aku bukan seekor kucing biasa. Awalnya aku seekor rubah, tapi seseorang hampir membunuhku dan jiwaku berpindah pada kucing ini" Kata Yi


"Wow, orang itu pasti kuat karena hampir membunuh seekor Legend Fury" Kata Adi dan disertai tawa dari Yi


"Bahagia adalah milik mereka yang bangga menjadi dirinya sendiri"


: NeogOrgamer17


: 602 kata