The Lord of Avalor

The Lord of Avalor
Part 3



"Kenapa lama sekali?! Aku sudah menunggu lama hanya untuk satu barang ini!" Teriak seorang pemuda dengan marah sambil membanting barang ditangannya


"Maafkan aku, tadi ada masalah di jalan" Jawab si anak laki-laki


"Maaf maaf, kalau tidak bisa bekerja ya tidak usah bekerja" Pemuda itu berlalu begitu saja


Adi pagi ini sedang melakukan pekerjaan paruh waktunya, menjadi pengantar barang di akademi. Sementara pemuda yang membentaknya adalah seorang murid dari kelas 4, setingkat SMA. Dan ini bukan pertama kalinya Adi mendapat gangguan dari temannya yang menyebabkan terlambatnya barang yang dia antar.


Akademi Anapa terbagi menjadi 5 tingkatan, tingkat 1 yang setara PAUD, tingkat 2 setara dengan sekolah dasar, tingkat 3 setara dengan SMP, tingkat 4 yang setara dengan SMA dan yang terakhir tingkat 5 yang setara dengan Universitas. Setiap tingkatan memiliki 3 ruang yang isinya bervariasi.


Adi memiliki kelebihan dalam hal kepintaran, alhasil dirinya naik ke tingkat 3 lebih cepat dari teman-temannya dan membuat beberapa temannya merasa minder dan iri dengannya. Di akademi, Adi hanya memiliki satu orang teman, hanya satu diantara puluhan ribu murid.


Aldevaro Kaivan, putra ke tiga Paramayoga Kaivan yang merupakan kepala keluarga keluarga Kaivan generasi ke-10 dimana keluarga Kaivan adalah satu dari tiga keluarga besar dan terhormat di Terra.


Terra sendiri merupakan sebuah benua yang terdiri dari 3 kota besar, Gernion, Yerranion, Leiron. Masing-masing kota memiliki pemimpin yaitu 3 keluarga besar dan terhormat yang ada di benua Terra, yaitu keluarga Ardhani yang memimpin Yerranion, keluarga Nareswara yang memimpin Leiron, dan keluarga Kaivan yang memimpin Gernion.


Di dunia, masih ada 6 benua besar lainnya dan banyak kota yang kecil maupun besar yang tersebar.


"Adi! Bagaimana?" Tanya Varo sembari meminum air mineral di kantin setelah pelajaran pertama tadi


"Bagaimana apanya?" Ucap Adi sambil membuka botol air mineral yang sama


"Pengantaran hari ini lah, apalagi?" Varo berkata dengan sedikit jengah


"Ya seperti biasa, Doni dan Bagas berulah" Jawab Adi sambil mengangkat kedua bahunya


"Hah.... Adi, bukankah sudah kubilang aku bisa membantumu. Kenapa kau masih menolak? mereka itu sudah keterlaluan!" Kata Varo dengan dongkol


"Lebih baik kau simpan saja tenagamu, tidak ada gunanya membantu orang sepertiku. Akan lebih baik jika kau lebih sering berlatih dan kita bisa bertemu suatu saat nanti"


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? kita ini kan teman, bukankah sudah sepatutnya saling membantu?"


"Aku hanya tidak ingin dirimu dalam bahaya. Tenanglah, aku bisa mengurus diriku sendiri"


Akhirnya perdebatan kecil yang lumayan alot itu dimenangkan Adi dengan kata-kata yang selalu menyudutkan Varo. Setelah membayar, Adi dan Varo bergegas menuju kelas mereka masing-masing.


 


60 menit kedua berlalu, tentunya itu bukan 1 jam yang mudah untuk seorang Adipati Natha. Dengan penuh perjuangan dan kesabaran akhirnya kelas kedua selesai. Sebagian besar murid berhamburan keluar kelas untuk mendapatkan kesenangan menurut pandangan masing-masing.


Adi pergi ke taman tempat ia bisa menenangkan diri. Beruntung hari itu taman sedang sepi, hanya beberapa murid yang sekedar lewat atau tetap disana.


"Kebetulan sekali, kenapa taman sepi ya?" Adi celingak-celinguk dengan keheranan karena taman sangat tenang hari ini


"Tapi baguslah, setidaknya aku bisa sedikit beristirahat" Ucap Adi sembari berjalan ke bawah sebuah pohon rindang


Pohonnya lumayan besar dan cukup tinggi untuk seukuran tumbuhan berkayu berjenis entah apa namanya yang baru berusia 10 tahun.


"Akan ada waktunya dimana kita hanya dicari ketika diperlukan, dan dilupa setelah dapat apa yang diinginkan. Itulah lumrah dari sebuah kehidupan”


: NeogOrgamer17


: 560 kata