
Esok setelah kemarin....
Adi sedang mempersiapkan semua kebutuhan sekolahnya. Buku, alat tulis, air mineral dan kawan-kawannya.
Sreeet....
Suara dari resleting ransel cyan yang kini telah tertutup rapat menggema hampir ke seluruh ruangan sempit itu. Almamater Akademi Anapa terpasang sempurna di tubuhnya. Tanpa basa-basi, Adi melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
Pukul enam kurang dua menit, masih terlalu dini untuk pergi ke sekolah. Tapi itu tak masalah bagi Adi. Dengan pasti, ia berjalan masuk ke gerbang utama dan pergi ke kelasnya. Mendudukkan raganya di sebuah kursi dekat jendela, mengeluarkan sebuah kotak bekal dan sebuah buku pelajaran berjudul "Ilmu Alam".
Sembari menghabiskan sarapan pagi berupa sandwich nya, dia membaca buku yang dikeluarkannya. Membaca bab baru dan mengulang, itulah kesehariannya di pagi buta.
Pukul enam lebih dua puluh tujuh. Setelah menghabiskan sarapannya dan meneguk air mineral, bertepatan dengan selesainya materi yang dia baca, Adi pergi keluar kelas. Dia pergi ke taman sekolah, dan hanya ada dua orang di sana, seorang gadis antah berantah dan seorang tukang kebun? Bukan, lebih tepatnya dia adalah tukang kebun sekaligus penjaga sekaligus kepala kebersihan Akademi Anapa. Kita singkat tukang kebersihan.
Natan Aditya namanya, om² single berusia sekitar 27 tahun. Berwajah rupawan dan lulusan Universitas Faltha salah satu Universitas terbaik di Benua Terra, jurusan mutan dan keluar sebagai mahasiswa terbaik jurusannya, cumlaude pula. Tapi memilih menjadi tukang kebersihan Akademi Anapa.
"Pak Natan" Sapa Adi sambil menepuk pundak Natan yang sedang memasukkan kantong sampah ke rumahnya.
"Eh toyol, ni bocah kebiasaan" Ucapnya
"Hehehe, ya maaf" Balas Adi
Setelah duduk di kursi taman, mereka mulai mengobrol santai seperti biasanya. Membahas apapun itu, tak jarang obrolan mereka ngalor ngidul.
"Udah dibilangin jangan panggil pak, om atau kakak juga boleh" Ujar Pak Natan
"27 tahun aja masih mau dipanggil kakak, lagi pula bapak udah mau umur 30 masih aja jones. Burung belakang asrama aja udah kawin" Canda Adi
"Eh bocil, om kasih tau ya. Kalau single itu prinsip, kalo jomblo itu nasib. Jadi, om itu berprinsip bukan sembarangan nasib." Balas Pak Natan dengan sedikit bangga, hanya sedikit
"Tapi memprihatikan" Ucap Adi diiringi canda tawa keduanya.
10 menit mereka saling berbagi cerita, waktu pelajaran pertama hampir dimulai. Setelah berpisah, mereka mengerjakan tugas masing-masing. Adi berjalan menuju kelas, sedangkan Pak Natan pergi ke pos penjaga.
Tak tak tak...
Sepatu hitam dengan sedikit garis putih milik Adipati Natha membawa sang pemilik pergi ke tempat tujuan, ruang kelas. Tepat di depan pintu,
"Eh" ucap mereka berdua bersamaan
"Oh Dan, masuklah dulu" Ucap Adi
"Terimakasih" sahut Dan sembari membuka gagang pintu dan masuk ke ruang kelas
Yu Danerio Aftara, teman sekamar asrama Adi yang jarang memakai kasurnya. Nama Yu miliknya didapatkan dari Ayahnya yang berasal dari luar benua Terra. Begitupun dengan Haidar yang memiliki nama Yi dibelakangnya, ayahnya juga tidak berasal dari benua Terra. Merupakan wakil ketua kelas dari ruangan ini. Seorang introver yang pintar dalam Matematika, tidak nolep, penyayang hewan, dan sedikit pemalu. Tapi entah kenapa dia terpilih menjadi wakil ketua.
"Pagi semuanya...." Sapa seorang pemuda yang tak lain tak bukan adalah ketua kelas, Dean Fernandez. Seorang atlet renang muda, menyukai pelajaran olahraga, senang bermain, incaran ciwi², playboy namun tau batasan, dan terakhir seorang tuan muda kedua Fernandez. Keluarga Fernandez sendiri adalah salah satu keluarga bangsawan benua Terra yang memiliki sebuah perusahaan besar dengan banyak anak cabang.
"Pagi" jawab beberapa orang
"Halo, Dan, Rin, Fero, Varo, Olip, Dafa, Naufal, Rian, Ann, Adi, Kenan, Rizka, Lia, Zen, Vina, Katty, dan terakhir Welly" Kata sang ketua kelas, masih terlalu cepat untuk mengabsen sebenarnya.
"Dia yang didepan selalu berusaha keliatan baik-baik saja, belum tentu benar-benar baik-baik saja" -uniqueverse
: NeogOrgamer17
: 602 kata