
Kakek Lian menceritakan kehidupan lalunya pada Tang Hao. Selama bercerita, tidak ada kesedihan dari raut wajah kakek Lian seolah kakek tua itu telah menerima nasibnya menjadi seperti ini.
Tang Hao dibuat kagum dengan cerita kakek Lian dan ketabahan kakeknya ini. Dia melihat bahwa kakek Lian bukan cuma kuat dalam hal kekuatan fisik, namun juga kuat dalam hal ketabahan.
Tang Hao banyak mengambil pelajaran dari cerita kakek Lian.
"Cinta, memang sesuatu yang paling absurd di manapun kamu berada. Dari itu pilihlah orang-orang yang benar-benar mencintaimu, jika kamu membelakanginya, maka punggungmu akan aman, dan jika kamu meninggalkannya maka hartamu akan baik-baik saja. Harta bagi seorang yang mencintai adalah kehormatan orang yang dicintainya."
"Suatu saat kamu akan mengerti bahwa betapa pentingnya mencari seseorang yang benar-benar tulus mencintaimu, yang benar-benar menerimamu tanpa paksaan, tanpa ketakutan, tanpa ada embel-embel harta atau kekuatan. Jika kamu telah menemukan seseorang seperti itu, maka genggamlah ia dengan kuat, berdirilah di sampingnya apapun yang terjadi padanya." Kakek Lian memberikan wejangan pada Tang Hao berdasarkan pengalamn hidupnya.
"Kamu tahu, kata orang pengalaman adalah guru terbaik. Kakek membagikan pengalam pahit ini karena kakek tidak ingin kamu mengalami hal yang sama dengan kakek. Kakek tidak ikhlas jika kamu mengalami hal yang ssperti ini. Semesta mungkin memang kejam, namun dia hanya menjalankan apa yang sudah harusnya terjadi. Kita hanya bisa memanfaatkan waktu dan tenaga sebaik mungkin agar jika semesta bertindak, kita telah siap dengan segala konsekuensi dan hal-hal tak terduga atas pilihan kita maupun bukan pilihan kita."
Tang Hao mengangguk pasti pada setiap nasihat yang diberikan kakek Lian. Tang Hao menatap mata kakek Lian yang penuh dengan kepahitan dan pengalaman panjang. Dadanya sesak seperti ada batu besar yang menghimpit dadanya saat mendengar seluruh cerita kakek Lian. Dia mengepalkan tangannya dan bertekad suatu hari akan membalas sepuluh kali lipat kepada orang yang menyakiti kakeknya. Sekalipun orang itu adalah Kaisar Surga, orang terkuat di jagat raya.
"Tidak perlu membenci orang lain Hao'er, kakek seperti ini karena kesalahan kakek sendiri dan kakek menerima nasib ini apa adanya. Kakek tahu, meskipun membenci seseorang hingga tulang rusuk, namun apa gunanya? Kakek hanya akan merasa sakit dan sakit setiap mengingat kebencian itu." Kakek Lian menepuk pundak Tang Hao dan memberikan senyuman hangat. Kakek Lian tau saat melihat mata Tang Hao yang tiba-tiba dipenuhi nafsu membunuh yang besar, bahwa cucunya itu akan membalaskan dendamnya kelak.
Hanya saja kakek Lian tidak ingin cucu satu-satunya ini menjadi seseorang yang pendendam, menjadi seseorang yang memiliki jiwa perusak. Karena dendam itu sendiri pada dasarnya bersifat merusak.
"Hao'er, kamu harus tahu bahwa kamu adalah satu-satunya pewaris kakek di dunia ini. Dan kakek yakin, orang tuamu di manapun mereka berada, pasti sedang menunggu kedatanganmu. Hidupmu bukan hanya milikmu seorang, orang-orang tercintamu berhak juga atas hidupmu. Terutama orang tuamu.
"Katamu, ingin hidup lama hingga kematian tidak bisa menjemputmu, maka dari itu tidak usah terlalu mencampuri urusan dunia ini. Fokuslah pada tujuanmu untuk hidup abadi, yang terjadi biarlah terjadi. Hidup ini penuh dengan sebab akibat, berhati-hatilah pada setiap keputusan yang kamu ambil."
Kakek Lian menasihati Tang Hao panjang lebar, entah kenapa dia merasa bahwa hidupnya hanya tinggal beberapa tahun lagi. Sedangkan ada banyak hal yang harus disampaikannya pada Tang Hao.
Hening sesaat, hanya hembusan nafas keluar masuk yang terdengar serta suara-suara beast yang terdengar di luar sana.
"Baiklah, karena kamu sudah memiliki energi, kakek inhin tahu seberapa banyak qi yang kamu miliki saat ini" Kakek Lian penasaran dengan qi yang dimiliki Tang Hao saat ini.
Kakek Lian dapat merasakan meskipun Tang Hao saat ini baru berada di ranah Elite, namun qi yang dimiliki Tang Hao tidak normal. Tang Hao mengangguk pelan.
"Saat ini aku berada di ranah Elite bintang dua atau tingkat pendekar Perak tahap awal, namun lautan energi qi saat ini seluas Lembah Kematian ini kakek. Aku juga bingung kenapa aku tidak naik tingkat meski sudah memiliki energi qi sebanyak ini. Aku merasa setiap hendak naik tingkat, kekuatanku selalu ditekan pada ranah yang sama. Seolah ada sesuatu yang menekan dan menyegel kekuatanku itu tapi aku tidak tahu disegel di mana dan siapa yang menyegel." Tang Hao menjawab sambil mengeluh seolah dia tidak merasa puas dengan kekuatannya saat ini.
Namun jawaban itu berhasil membuat jantung kakek Lian berhenti berdetak sesaat. Kakek Lian hampir tak percaya jika bukan Tang Hao sendiri yang mengatakannya. Energi seluas Lembah Kematian sama dengan seorang Kultivator di ranah Legend bintang sembilan jika dianggap super jenius dengan bakat satu banding satu juta orang pada beberapa milenium.
Sedangkan anak di depannya ini sudah memiliki energi qi seluas danau besar dan masih berada di ranah Elite? Siapa yang akan percaya. Meskipun tingkatan yang dimiliki seseorang tidak mewakili kekuatannya, tingkatan hanya digunakan sebagai hitungan untuk membedakan kekuatan setiap orang.
Jika kultivasinya tersegel saat ini tapi tidak dengan energi qi nya, bagaimana jadinya nanti jika segel kekuatan Tang Hao dibuka suatu saat nanti? Kekuatan dahsyat yang mampu menghancurkan segalanya, terpendam dalam diri seorang bocah berumur sepuluh tahun.
Setelah terdiam cukup lama dan suasana di luar sudah gelap, akhirnya Kakek Lian mengajak Tang Hao untuk memasak makan malam mereka. Kakek Lian mulai mengajari Tang Hao sesuatu yang sangat penting, yaitu memasak.
Meskipun saat ini mereka berdua bisa membuang rasa laparnya dengan energi qi yang dimiliki, namun kebiasaan makan dan mencicipi sesuatu yang bersifat lezat, tidak bisa hilang begitu saja. Pada masa jayanya, setiap hari kakek Lian mencicipi berbagai macam hidangan lezat dari berbagai dunia.
Begitu selesai makan malam, Kakek Lian menyuruh Tang Hao segera beristirahat. Beberapa hari ini terlihat Tang Hao cukup lelah karena latihan keras yang diberikan Kakek Lian.
Tang Hao tidak langsung tidur. Dia masih penasaran dengan kemana semua kultivasinya menghilang, dia bolak-balek keluar masuk ke alam bawah sadarnya namun tidak menemukan apapun selain kegelapan yang tidak dapat ditembus dengan penglihatannya. Tang Hao akhirnya memilih istirahat.
Sementara itu kakek Lian yang masih terngiang ucapan Tang Hao karena kekuatannya yang disegel, jadi teringat saat menunggu Tang Hao sedang berkultivasi di domain misterius dinamai kakek Lian Lembah Seribu Bunga.
Kejadian yang benar-benar membuat Kakek Lian memiliki pandangan yang berbeda sejak itu. Kakek Lian masih dibuat merinding ketakutan setiap dia mengingat kejadian tersebut.
"Aku harap kelak anak ini menjadi Kaisar Surga terkuat yang pernah ada." Ucap kakek Lian.
"Orang tua jaga ucapanmu, jangan samakan tuan muda dengan Kaisar Sampah kalian" Sahut seseorang di belakang kakek Lian.
Orang tua itu menoleh, alangkah terkejutnya dia saat melihat seorang pemuda tampan sedang memandangnya dengan tajam. Pemuda itu memakai jubah hitam seperti malam yang memiliki pola-pola aneh yang membuat kakek Lian merinding ketakutan. Kakek Lain jatuh terduduk dan tidak berani menatap mata beriris merah pemuda itu. Meskipun matanya terlihat cantik, namun mata pemuda itu mengandung sesuatu yang menakutkan dan bisa membunuh seseorang jika menatapnya terlalu lama.
"Kaisar Surga? Cuihhh, itu adalah penghinaan terhadap tuan muda" Ucap pemuda itu dingin sambil meludah ke samping kirinya seakan tidak terima dengan ucapan Kakek Lian.
Meskipun tanpa ada niat pembunuh yang keluar dari sosok misterius di depannya ini, kakek Lian kembali dibuat bergetar ketakutan. Tanpa disadarinya, celana kakek Lian telah basah, dia ketakutan lebih dari takutnya terhadap kematian.
Sosok pemuda itu tersenyum puas setalah berhasil membully orang tau di depannya ini. Pemuda itu berjalan menjauhi kakek Lian.
"Tidak usah malu orang tua, walaupun aku terlihat seperti ini namun usiaku jauh di atasmu, mungkin juga jauh dari leluhurmu." Ucap pemuda itu sambil menghilang lenyap entah kemana.
Kakek Lian tersenyum kecut mengingat kejadian paling memalukan seumur hidupnya, dia seperti anak kecil nakal yang pantas dihukum karena kesalahan yang dibuatnya.
Dia tidak bisa memikirkan lebih jauh tentang identitas misterius Tang Hao. Dia lebih memilih merebahkan badan tuanya di ranjang. Dia menghembuskan nafas pelan sebelum berdamai dengan mimpinya.
Namun tanpa diketahui oleh Tang Hao maupun kakek Lian adalah yang selama ini berkultivasi lima tahun di domain Lembah Seribu Bunga hanyalah bayangan Tang Hao, tubuh aslinya berlatih pedang bersama pria misterius yang bernama Xiao.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...