
Crashhh...
Hahahaha...
Tawa bandit yang awalnya bergema mendadak terdiam saat melihat tubuh kawan mereka kejang-kejang telah tanpa kepala yang menggelinding lalu tubuh itu terkulai ke tanah.
Mereka melihat bahwa tubuh Tang Hao telah dipenuhi dengan darah dan ada cairan putih di sana. Tubuh mereka bergetar hebat saat menyaksikan kawan mereka mati seketika tanpa mereka bisa melihat bagaimana kematiaannya.
Yang dapat mereka lihat bahwa pedang di pinggang Tang Hao masih tersarung hanya saja telah dipenuhi darah bercampur cairan kental yang dapat mereka ketahui bahwa itu adalah otak kawan mereka.
Tang Hao sendiri sebenarnya cukup kaget dengan situasi di depannya, awalnya dia mencoba mencabut pedangnya namun karena gugup, dia mencabut sekalian dengan sarung pedangnya lalu menghantam ke kepala pria botak yang bergerak ke arahnya. Tang Hao bermaksud menghantam orang itu dengan pedangnya tanpa berniat membunuhnya, namun karena kekuatan yang dikeluarkan Tang Hao terlalu besar membuat kepala botak itu pecah tanpa sisa.
Otak dari kepala itu pun muncrat ke wajahnya membuat tubuh Tang Hao menggigil ketakutan. Namun dia sebisa mungkin menyembunyikan ketakutannya itu.
"Siall.. Anak ini cukup hebat. Kita harus menyerangnya bersama." Ucap salah seorang dari kesembilan orang itu dipenuhi amarah dan niat membunuh yang meledak-ledak.
Wushhh..
Kesembilan orang itu bergerak bersamaan ke arah Tang Hao menghunuskan senjata masing-masing.
Tang Hao menangkis dua pedang di depannya dengan pedang dan sarung pedang yang telah dilepasnya. Sisanya Tang Hao menghindari serangan lainnya dengan gesit.
Tang Hao dapat melihat dengan jelas setiap pergerakkan dan arah senjata mereka sehingga dengan mudah menghindari setiap serangan yang datang.
Selain menghindar Tang Hao terkadang menyerang balik musuhnya dengan cepat. Orang yang menjadi target serangannya tidak menduga sebilah pedang dengan cepat menyasar lehernya, dia tidak dapat menghindari serangan itu sehingga kepalanya mendarat ke tanah dan menggelinding dengan mulus. Tubuhnya memuncratkan darah segar ke mana-mana.
Melihat kawannya mati begitu saja dengan mudahnya membuat yang lainnya semakin marah, nafsu membunuh mereka kembali meledak.
Tang Hao menanggapi itu dengan senyum santainya. Dia sudah memahami watak-watak dari musuhnya ini.
Tang Hao kembali mengayunkan pedangnya setelah berhasil menghindari serangan mematikan ke arah lehernya, ayunan pedang Tang Hao sekali lagi berhasil memutuskan kepala musuhnya. Darah kembali muncrat dengan derasnya.
Tang Hao kembali mengayunkan pedangnya dan satu kepala kembali menggelinding di tanah. Tang Hao sedikit merasa bingung kenapa setiap berhasil menebas kepala musuhnya, dia merasa begitu senang dan lega.
Tang Hao kembali mengayunkan pedangnya dan satu kepala menggelinding lagi di tanah, Tang Hao terus mengayunkan pedangnya sehingga hanya dalam beberapa tarikan nafas, Tang Hao telah menghabisi sepuluh orang musuhnya tanpa terluka sedikitpun.
Meskipun pengalaman Tang Hao dalam bertempur sangat minim, namun karena gerakan musuh yang terlihat lambat di matanya, membuat Tang Hao berhasil menghindari setiap serangan mereka dengan mudah.
Tang Hao baru tersadar telah menghabisi musuhnya dengan cepat saat tidak ada lagi leher yang mengenai pedang Tang Hao. Dia melihat sekelilingnya, sepuluh tubuh dan sembilan kepala yang masing-masing terpisah serta darah segar yang menggenang.
Tang Hao menarik nafas pelan, dia cukup lega karena berhasil membunuh musuh-musuhnya dengan cepat sebelum mereka membuhuhnya.
"Sepertinya kematian kalian terlalu ringan jika dibandingkan dengan korban yang telah kalian bunuh." Gumam Tang Hao sambil membersihkan dirinya dan pedangnya dari lumuran darah.
Tang Hao menggerakkan tangannya, kesepuluh tubuh dan masing-masing kepala berkumpul menjadi satu dan bertumpuk di depan Tang Hao.
Wushh..
Tang Hao menguarkan api biru di telapak tangannya lalu melemparkan ke sepuluh jasad di depannya. Api biru itu melahap habis mayat di depannya hanya dalam beberapa tarikan nafas saja.
"Hemm seni menggerakkan benda dengan kekuatan jiwa cukup efektif juga ternyata. Mengumpulkan mayat hanya dengan melmbaikan tangan saja. Apa bisa digunakan kepada makhluk hidup nggak ya?" Gumam Tang Hao sambil melangkah pergi setelah memastikan tidak ada satupun mayat yang tersisa maupun orang yang menonton pertarungannya.
Tang Hao mengeluarkan gulungan catatan rencanya dan menghapus tulisan "Membunuh Perampok" dan menggantinya dengan tulisan "Merampas Isi Kuburan Kuno di Kekaisaran Zhou."
Tang Hao memasukkan gulungan itu dan mulai terbang ke arah pusat kota Kerajaan Niao tanpa mengetahui bahwa ada banyak hal yang mengancam nyawanya jika pergi ke kuburan kuno dengan kekuatannya yang sekarang.
Tang Hao menghilangkan hawa kehadirannya saat terbang dengan cepat melewati desa-desa di bawahnya. Awalnya dia ingin melompat dari dahan satu ke dahan yang lain, namun itu terlalu lama pikirnya jika harus pergi ke pusat kota.
Setelah beberapa jam terbang, Tang Hao merasakan ada sesuatu yang salah yaitu dia tidak tahu di mana Ibu Kota Kerajaan Niao. Tang Hao menepuk jidatnya.
Plak..
"Bodoh-bodoh, kenapa aku tidak bertanya ke orang-orang. Alngkah benar pepatah mengatakan malu bertanya sesat di jalan." Tang Hao terbang pelan sambil mengedarkan kesadarannya mencari keberadaan orang lain.
Setelah beberapa saat mencari akhirnya Tang Hao dapat merasakan segerombolan orang berkuda sekitar tiga puluhan orang datang dari arah berlawanan.
Tang Hao turun tepat di jalur yang akan dilewati rombongan itu. Tang Hao berdiri beberapa saat menunggu rombongan itu tiba, begitu sudah dekat dia berjalan ke tengah jalan pura-pura berjalan ke arah yang sama. Tapi sebelum itu Tang Hao mengubah penampilannya.
"Minggir dari jalan anak muda!!" Hardik kapten rombongan itu dengan keras.
Tang Hao berhenti berjalan dan berbalik memandang rombongan di depannya. Terihat tiga puluh orang itu berpakaian zirah perang layaknya perajurit kerajaan. Ada bendera bertuliskan "Kerajaan Haitan"
"Mohon maafkan saya tuan. Saya tadi terlalu banyak pikiran sehingga tidak dapat mendengar kedatangan anda sekalian." Ucap Tang Hao meletakkan tangan kanan di dada dan tangan kiri di belakang punggung serta sedikit membungkuk.
Kapten yang menghardik Tang Hao tadi terlihat diam. Dia sebenarnya sedang mengukur tingkat kemampuan Tang Hao karena melihat sebilah pedang tersarung di pinggangnya. Kapten prajurit yang berada di tingkat Pendekar Berlian itu telah memakan asam garam kehidupan yang panjang. Dia memang terlihat berumur empat puluhan namun sebenarnya usianya saat ini telah berkepala enam.
"Hendak kemana kau anak muda dan siapa kau?" Tanya kapten prajurit dengan sedikit ramah setelah tidak dapat mengetahui tingkat pendekar pemuda di depannya ini.
"Saya seorang pendekar pengelana dari tanah seberang tuan yang hendak ke Ibu Kota Kerajaan ini. Katanya Ibu Kota Kerajaan ini terlihat indah." Jawab Tang Hao santai tersenyum ramah.
Tang Hao melihat rombongan prajurit di depannya terdapat beberapa kereta kuda. Tang Hao dapat melihat bahwa orang di dalam kereta tentunya orang yang cukup penting.
"Ada apa kapten Han kenapa berhenti cukup lama?" Seorang pria paruh baya keluar dari kereta kuda dan berjalan mendekati Kapten yang bernama Han itu.
Kapten Han dan seluruh prajurit segera turun dari kuda mereka dan membungkuk kepada pria paruh baya.
"Mohon maaf yang mulia, ada seorang pendekar muda pengelana di jalan yang kita lewati. Dia sepertinya ingin mengikuti rombongan kita." Jawab Kapten Han sekenannya.
Pria paruh baya itu memandangi Tang Hao yang berdiri santai tanpa menghormat kepadanya. Pria paruh baya itu dapat mengetahui pemuda di depannya adalah seorang pendekar karena melihat pedang tersarung di pinggangnya namun dia tidak tahu seberapa kuat pemuda di depannya karena pria paruh baya itu bukan seorang pendekar.
"Anak muda kau hendak kemana?" Tanya Pria paruh baya itu dengan tenang.
Tang Hao berjalan mendekati pria paruh baya itu namun baru beberapa langkah berjalan, Kapten Han dan beberapa prajurit khusus di tingkat Pendekar Emas telah berdiri di depan Tang Hao sambil mengacungkan pedang di depannya.
"Jangan berani mendekat anak muda atau kepalamu akan terpisah dari tubuhnya." Ucap kapten Han dingin. Niat membunuh sedikit merembes dari tubuhnya.
Tang Hao menggaruk kepalanya melihat suasana yang terjadi seketika di luar perkiraannya. Awalnya dia mendekati pria paruh baya berniat memberi hormat karena orang itu adalah seorang raja.
"Tidak apa biarkan saja." Ucap Raja sambil mengangkat tangan kanannya. Kapten Han mengangguk dan menurunkan pedangnya dari leher Tang Hao diikuti para pengawal khusus raja lainnya.
"Perkenalkan Yang Mulia, nama saya Tang Hao dari negeri seberang. Saya pendekar pengelana yang hendak ke Ibu Kota Kerajaan Niao." Ucap Tang Hao santai membungkuk lebih sopan dari sebelumnya.
"Kebetulan kita berada satu jalur yang sama. Jika kau berkenan, bisa mengikuti rombongan kami." Ucap Raja sambil melangkah memasuki kembali kereta kudanya.
Tang Hao yang hendak mengikuti Raja dihentikan oleh Kapten Han.
"Anak muda jangan mengikuti Yang Mulia Raja. Itu bisa merendahkan martabat Raja." Ucap Kapten Han dingin. Dia menarik lengan Tang Hao dan memberinya seekor kuda yang kosong untuk digunakan Tang Hao.
"Terima kasih Kapten Han." Ucap Tang Hao saat diberikan seekor kuda yang cukup besar. Kapten Han hanya mengguk pelan.
Di perjalanan Kapten Han tidak banyak bicara, dia terlihat waspada sambil memeriksa keadaan sekelilingnya.
"Ada apa kapten Han?" Tanya Tang Hao yang penasaran dengan gerak gerik Kapten Han.
"Sebelumnya Raja Kerajaan Niao melalui surat mengatakan jika jalur yang kami lewati ini terdapat beberapa perampok ganas yang membunuh siapa saja tidak peduli siapa. Namun sudah beberapa jam ini aku belum merasakan kehadiran mereka. Aku takut kita sedang dijebak." Jawab Kapten Han tanpa mengendurkan waspadanya.
Tang Hao terdiam sesaat sambil memikirkan sesuatu.
"Apa nama kelompok perampok itu kapten?" Tanya Tang Hao lagi.
"Perampok Gunung Barokoh. Organisasi mereka cukup besar. Awalanya tidak ada perampok yang berkeliaran di Kerajaan ini, namun karena situasi dunia pesilatan saat ini sedang kacau, membuat kelompok perampok itu berbuat seenaknya di Kerajaan ini."
"Apakah mereka memiliki token pengenal seperti ini?" Tanya Tang Hao mengeluarkan sesuatu yang sempat diambilnya dari tubuh sepuluh perampok yang dibunuhnya.
Kapten Han mengambil token dari tangan Tang Hao dan menelitinya. Dia membelalakkan matanya saat mengetahui token itu adalah asli.
"Ya ini tanda pengenal mereka. Token ini dimiliki setiap pemimpin regu Perampok Gunung Barokoh. Dari mana kamu mendapatkan token ini?" Tanya Kapten Han dengan rasa curiga yang tinggi.
Tang Hao menceritakan awal dia bertemu dengan sepuluh perampok itu, tentunya ditambahi dengan bumbu kebohongan untuk menutupi kekuatannya. Tang Hao memang menceritakan dia berhasil membunuh sepuluh perampok itu namun saat itu mereka sedang terluka parah sehingga mereka tidak mampu membunuh Tang Hao. Malah Tang Hao yang membunuh mereka.
"Hahaha bagus anak muda. Para penjahat seperti mereka memang tidak usah diberi ampun." Ucap Kapten Han tertawa senang sambil memukul-mukul pelan pundak Tang Hao. Seperti kapten Han mulai menyukai sifat Tang Hao.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...