
Tang Hao bangun dari tidur saat sinar matahari menerpa wajahnya. Dia meregangkan badanya dan melihat sekitar. Api unggunya telah tidak tersisa kecuali ranting yang telah menjadi abu.
"Tadi malam aku tidur terlalu pulas hingga tidak sadar dengan keadaan sekitar. Hal ini tidak boleh terjadi lagi karena bisa membahayakan hidupku jika musuh tiba-tiba menyerang." Tang Hao mengusap wajahnya dan bangkit setelah merasa seluruh kesadarannya telah kembali. Tang Hao berjalan ke mulut gua dan menemukan matahari telah setinggi tombak.
Wushh...
Tang Hao melompat tinggi meninggalkan gua, dia berniat pergi ke sungai membersihkan dirinya.
Kuryukkk...
Tang Hao tersenyum pahit saat mendengar suara perutnya yang minta diisi. Dia baru sadar bahwa sudah beberapa hari ini dia belum makan sama sekali.
"Apa ini karena kehebatan menjadi seorang pendekar? Aku bahkan hampir tidak merasakan lapar sejak berlatih di sini. Padahal aku yakin, beberapa hari terlewati ketika aku berkultivasi."
Hanya beberapa kali lompatan, Tang Hao telah tiba di puncak bukit kecil karena memang tidak jauh jarak antara gua tempatnya tidur maupun bukit kecil tempatnya mandi.
Tang Hao melepas pakaiannya lalu menceburkan dirinya dalam sungai bersih di depannya.
"Ahh segarnya.... Hidupku benar-benar berbeda dari sebelumnya. Meskipun tidak ada teknologi seperti di bumi, setidaknya di sini jauh lebih nyaman. Meskipun aku belum pernah melihat orang lain selain kakek Lian, namun aku yakin, sifat manusia di mana saja selalu sama. Dan kata kakek Lian, di benua ini pertumpahan darah adalah hal biasa. Kata kakek Lian bahwa hukum pemerintah yang diatur negara selalu tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Tidak ubahnya seperti di bumi." Tang Hao memikirkan setiap nasihat kakek Lian yang didengarnya sejak dia kecil
Setelah beberapa saat berenang, perut Tang Hao kembali mengeluarkan suara lapar. Dia mencoba menangkap ikan di dalam danau yang ditemuinya namun selalu gagal. Setelah kesal karena tidak mendapat satu ekorpun ikan, Tang Hao keluar dari danau lalu memotong ranting pohon yang lumayan panjang.
Tang Hao mengalirkan qi nya di tangannya untuk meruncingkan ranting kayu di tangannya.
"Kalian tunggu saja, aku sudah punya tombak saat ini." Tang Hao memicingkan matanya sambil mengalirkan qi di kedua matanya untuk melihat ikan di dalam kolam.
Karena bantuan qi, Tang Hao mampu melihat pergerakan ikan yang terasa lambat di matanya. Setelah menemukan seekor ikan yang cukup besar, Tang Hao mengalirkan qi ke tangan kanannya lalu menyalurkannya ke ranting di tangannya. Dan dengan tenaga yang penuh, Tang Hao melemparkan ranting di tangannya ke dalam danau.
Wushh.. Biyuuurr...
Akibat gesekan antara ranting Tang Hao dengan udara, membuat air danau di depannya sedikit terbelah dan ranting itu meluncur dengan cepat ke arah ikan yang telah ditandai Tang Hao.
Jleb.
Ranting Tang Hao mengenai tepat perut ikan berwarna putih kemerahan, dengan ukuran panjang sekitar dua puluh lima centi meter. Ikan itu dengan cepat kehilangan nyawanya dalam keadaan mulut dan mata terbuka karena penasaran siapa yang tiba-tiba membunuhnya.
Tang Hao tersenyum lebar dan matanya berbinar.
"Hahaha rasakan sekarang, mati di ujung tombakku. Salahmu sendiri sering mengejekku." Tang Hao melompat ke danau dan mengambil hasil buruan pertamanya dengan bangga lalu keluar dari danau. Tang Hao segera mengenakan kembali bajunya, setelah itu dia mengumpulkan ranting-ranting kecil dan menyusunnya sedemikian rupa.
Tang Hao membakar ikan buruannya dengan tenang lalu menyantapnya dengan lahap meskipun rasanya hambar. Setidaknya perutnya telah terisi untuk pagi ini. Dan untuk nanti siang, dia bisa berburu hewan darat di hutan yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri. Hutan itu terletak di sebelah barat bukit kecil tempat danau berada.
Setelah menyantap ikan buruannya dengan lahap dan menyisakan tulang belulang, Tang Hao kembali ke tempat latihannya.
Tang Hao segera duduk lotus, namun dia tidak berkultivasi tetapi memasuki alam bawah sadarnya untuk memilih sebuah teknik berpedang. Dari sekian banyaknya buku-buku milik kakek Lian tentang berpedang, hanya satu yang benar-benar menarik minat Tang Hao, buku itu kini tepat melayang di depannya.
"Tidak seperti manual kultivasi, kamu bisa melatih semua teknik pedang ini dan mengembangkannya. Teknik-teknik yang sedang kamu baca adalah teknik tingkat Dewa semua yang bahkan akan menjadi rebutan setiap Dewa jika mereka mengetahui teknik ini." Ucapan kakek Lian masih terngiang di telinga Tang Hao, anak itu hanya tersenyum simpul saat melihat ekspreksi kakek Lian menceritakan buku-buku miliknya.
Sebenarnya teknik berpedang di depan Tang Hao saat ini bukanlah berbentuk buku, melainkan sebuah gulungan perkamen yang terbuat dari benda yang tidak diketahui Tang Hao, namun kakek Lian menyebut semua teknik dan manual kultivasi miliknya adalah buku.
Namun sama seperti sebelumnya, sebelum Tang Hao mengambil gulungan teknik yang melayang di depannya, sebuah cahaya emas muncul di atas kepala Tang Hao membuat semua gulungan yang ada menjauh dan tidak berani mendekat.
Tang Hao mendongak melihat asal dari gulungan emas yang kini telah berada di depannya. Tang Hao mencoba menggapai-gapai ruang kosong di atasnya dengan penuh penasaran karena setiap kali dia hendak mengambil manual kultivasi atau teknik beladiri, selalu mencul sesuatu dari atas kepalanya. Namun sayangnya Tang Hao tidak menemukan apapun selain udara kosong di atas kepalanya. Dia mendengus kesal karena tidak menemukan apapun, dan dia segera memperhatikan gulungan di depannya.
Sebuah gulungan yang sangat tebal dan lumayan besar berwarna emas dengan aura pedang yang menusuk. Meskipun awalnya Tang Hao kesulitan bernafas karena aura pedang yang begitu tajam menikam setiap inci tubuhnya, namun Tang Hao segera terbiasa dengan hal itu dan menganggapnya sebagai sebuah latihan sehingga dia tidak mengeluh sama sekali.
Tang Hao meraih secara perlahan gulungan di depannya dengan perasaan gemetar karena takut tiba-tiba gulungan di depannya menjadi cahaya lalu masuk ke kepalanya.
Tap..
Tang Hao berhasil menggenggam gulungan di depannya, dan dia begitu kaget saat menimang berat gulungan tersebut sekitar 5 kg.
"Gulungan ini lebih berat dari tabung gas LPG untuk rakyat miskin." Gumam Tang Hao memperhatikan gulungan di tangannya.
Perlahan dia membuka gulungan teknik dan membaca judulnya, PEDANG ILAHI; PEMUSNAH KEHIDUPAN.
Tang Hao bergetar hebat membaca judul teknik yang begitu absurd menurutnya.
Aaaggghhhhh
Tang Hao berteriak dengan hebat hingga membuat suaranya sampai menghilang, namun rasa sakit di dadanya tidak berkurang sama sekali.
Tang Hao kembali berteriak lebih keras saat tiba-tiba dadanya sedikit membesar dan urat-urat biru di dadanya menonjol. Dadanya mengeluarkan cahaya sembilan warna yang benderang memenuhi segala penjuru alam bawah sadarnya menerangi setiap sudutnya. Jika saja Tang Hao melihat apa-apa yang ada di dalam alam bawah sadarnya, mungkin saat ini dia sudah muntah darah.
Berbarengan dengan cahaya sembilan warna, keluar juga dari dada Tang Hao sebilah pedang dengan sembilan warna berbeda, begitu keluar dari tubuh Tang Hao, sebilah pedang itu seperti membelah diri menjadi sembilan pedang dengan warna yang berbeda-beda.
Sembilan pedang yang baru saja keluar dari dada Tang Hao seakan beresonasi dengan gulungan emas yang melayang di depan Tang Hao. Kesembilan pedang dan gulungan emas saling menyatu.
Boomm..
Sebuah ledakan aura sangat dahsyat meledak dari kesembilan pedang. Ledakan aura tadi hendak menghempaskan Tang Hao, namun sebuah benang emas keluar dari pedang dan mengikat dan melilit tubuh Tang Hao.
Benang emas itu terus melilit Tang Hao hingga membuat Tang Hao berbentuk seperti kepompong emas yang melayang. Setelah Tang Hao berbentuk kepompong dengan sempurna, benang emas berhenti melilit Tang Hao.
Pedang yang sudah menyatu dengan gulungan teknik Pedang Ilahi; Pemusnah Kehidupan, segera berubah menjadi cahaya putih dan masuk ke dalam Tang Hao yang telah berubah menjadi kepompong.
Tang Hao yang telah kehilangan kesadaran sejak pedang putih keluar dari dadanya, dia telah tiba di suatu tempat yang diduganya saat ini dia berada di atas awan. Semua yang ada di depannya sepanjang mata memandang berwarna putih. Mata Tang Hao menyapu sekelilingnya
Pandangan Tang Hao berhenti saat ada seorang pria tampan bermata biru seperti dirinya dengan rambut putih menjuntai ke belakang sepanjang pinggangnya. Pria tampan itu tersenyum ke arahnya. Ada perasaan familiar yang dirasakan Tang Hao saat menatap mata dan wajah pria di depannya. Bahkan dia dapat melihat wajah pria di depannya sedikit mirip dengannya.
Pandangan Tang Hao mengarah ke sebilah pedang emas di tangan pria itu, dan saat dia melihat tangannya, di sana sudah ada pedang putih.
Tang Hao terkaget karena tidak merasakan pedang di genggamannya yang sudah ada entah sejak kapan.
Tanpa banyak bicara, pria tampan di depannya mulai memainkan pedang dengan perlahan. Permainan pedang pria tampan itu terlihat lentur, kadang juga terlihat keras, kadang juga cepat, sangat cepat sampai menimbulkan after effects, kadang keluar bunga-bunga indah dari pedang pria tampan itu, kadang juga keluar asap berwarna hitam dengan sifat korosif yang sangat kuat, dan kadang juga keluar burung api yang mengeluarkan api yang sangat panas, seakan bisa mendidihkan air di lautan. Kadang juga dari pedang pria tampan itu keluar es yang sangat dingin yang mampu membekukan apa saja.
Tang Hao melihat semua gerakan itu dengan sangat takjub. Tanpa disadarinya, tubuh Tang Hao mengikuti gerakan pria tampan di depannya.
Meskipun awalnya terlihat sangat kaku, namun pria tampan di depannya mengarahkan dan membenarkan setiap gerakan Tang Hao.
Setiap Tang Hao kelelahan dan kecapekan, pria tampan itu membawakan buah-buahan dan susu yang mampu memulihkan kondisi Tang Hao. Kadang juga membawakan makanan kesukaan Tang Hao bahkan tanpa Tang Hao minta.
Meskipun kurang komunikasi di antara mereka berdua, namun semakin hari hubungan kedua orang itu semakin dekat dan dekat. Meski begitu, Tang Hao tetap memperlakukan pria tampan yang mengenalkan dirinya sebagai Xiao dengan sopan santun.
Terkadang Tang Hao juga menceritakan tentang dirinya yang tidak mengetahui tentang kedua orang tuanya, sesekali keluar air mata di sudut matanya saat menceritakan kerinduannya kepada kedua orang tuanya.
Tang Hao menghitung sebelum dipindahkan, di bumi dia telah berumur lima belasan tahun, dan ditambah dengan umurnya yang sekarang ini lima tahun, maka usia Tang Hao yang sebenarnya adalah dua puluh tahun. Selama itu Tang Hao belum pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dan dia sangat merindukannya.
Namun, dengan kehadiran pria yang bernama Xiao, Tang Hao merasa bahwa dirinya merasa mampu menceritakan tentang apapun. Bahkan Tang Hao juga menceritakan tentang hidupnya di bumi. Tang Hao hanya merasakan kenyamanan dan kedamaian saat berada di dekat Xiao.
Tang Hao terus belajar teknik pedang dari Xiao dengan cepat. Dia menyerap semua apa yang telah diajarkan Xiao. Tang Hao sendiri sudah tidak lagi menghitung hari sudah berapa lama dia di sini dan berlatih bersama Xiao.
Tang Hao dapat melihat bahwa dirinya telah tumbuh menjadi lebih tinggi dan badannya semakin lebih berotot. Rambutnya juga lebih panjang dan sudah sepanjang punggungnya.
"Semua teknik pedang yang aku ajarkan telah kamu pelajari. Hanya tinggal menyempurnakannya sedikit lagi, maka kamu bisa mengeluarkan potensi penuh setiap teknik." Ucap Xiao suatu hari setelah selesai makan bersama.
Tang Hao terdiam sesaat. Kini perasaannya sungguh campur aduk. Dia bahagia karena telah memiliki ilmu pedang yang sangat hebat dan mengerikan, namun dia juga merasa sedih saat memikirkan bahwa dia harus berpisah dengan Xiao yang sudah dianggap lebih dari sahabatnya, kawannya, gurunya.
"Tidak perlu sedih seperti itu, perpisahan ini hanya semantara saja. Jika kamu berlatih sungguh-sungguh dan menjadi sangat kuat, maka kita bisa bertemu lagi." Xiao menepuk bahu Tang Hao dan mengusap punggungnya.
"Dan mungkin saja, ketika kita bertemu kembali aku akan menceritakan kedua orang tuamu. Bagaimana, kamu tertarik bukan?" Lanjut Xiao sambil tersenyum hangat.
Tang Hao mengangguk dan ikut tersenyum lebar.
"Sebelum aku pergi bolehkah saya memeluk anda untuk sesaat?" Tanya Tang Hao menundukkan kepala.
Xiao tersenyum dan membuka kedua tangannya serta merangkul Tang Hao lebih dulu. Tang Hao balas merangkul Xiao yang berjongkok sambil memeluknya.
Tang Hao merasa seluruh bebannya menghilang dan kerinduannya seolah terbayarkan. Tanpa Tang Hao sadari, dirinya telah sesenggukkan di bahu Xiao. Mungkin karena tangisnya yang lama, Tang Hao telah tertidur dalam pelukan Xiao.
Secara perlahan Tang Hao membuka matanya, dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah keriput kakek Lian. Hampir saja Tang Hao menjerit karena kaget dan sedikit ketakutan. Untung saja Tang Hao segera menguasai dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...