
Tang Hao memperhatikan pertarungan dua gadis remaja itu dari balik awan dengan tenang. Tang Hao tahu bahwa sekte yang ada di bawahnya ini adalah sekte menengah aliran putih yang menguasai beberapa desa di sekitar mereka, dia berhenti di sekte ini karena tiba-tiba ada sesuatu yang menarik.
Meskipun jauh berada di atas awan, Tang Hao dapat mendengar dan melihat dengan jelas semua kegiatan dan pembicaraan orang-orang di sekte itu.
"Pemenangnya adalah nona Zhi." Ucap wasit setelah pertarungan kedua gadis itu selesai.
Zhi mengepalkan tangannya kepada seluruh hadirin lalu berjalan keluar arena. Lalu Zhi memberi isyarat tangan kepada orang-orang di kursi penonton.
Wasit mengumumkan pertarungan selanjutnya. Kali ini dua orang pemuda yang seumuran Tang Hao juga melompat ke atas arena. Seorang pemuda berpakaian biru putih yang seorang lagi berpakaian hitam putih.
Keduanya menghunuskan pedang masing-masing setelah wasit memberi aba-aba persiapan.
"Pertandingan dimulai." Teriak sang wasit lantang.
Kedua orang itu segera berlari kencang dan sama-sama mengeluarkan jurus.
Ting.. Ting.. Ting.. Ting Ting... Ting..
Dua pedang beradu kecepatan, ketangkasan dan kekuatan. Para penonton bersorak riang melihat dua orang pemuda yang sedang beradu di atas arena.
"Yang seorang dijuluki sebagai Pedang Putih, dan yang seorang lagi dijuluki sebagai Pedang Merah. Keduanya sama-sama dari keluarga terpandang di kota ini. Siapapun pemenangnya pasti akan terkenal nantinya"
"Betul saudaraku, keduanya juga sama-sama jenius dari sekte ini. Kudengar juga keluarga mereka selalu bersahabat sejak dulu."
"Sepertinya keluarga mereka menaruh harapan pada keduanya. Sungguh pertarungan yang sangat menghibur."
Decak kagum dan pujian keluar dari mulut para penonton. Tang Hao hanya diam memandang dari atas. Dia dapat menebak sepertinya pertandingan ini telah memasuki babak semi final karena masih ada satu atau dua peserta seumuran yang lebih kuat dari pemuda yang sedang bertarung di arena.
Tang Hao sebenarnya cukup senang saat melihat jurus-jurus dua orang itu, bagaimana tidak dia bisa memahai setiap jurus keduanya dengan detail. Bahkan Tang Hao melihat ada banyak sekali kecacatan dalam jurus keduanya.
Namun Tang Hao tidak terlalu baik dengan mengajarkan keduanya jurus yang lebih baik, dia tidak ambil pusing dengan kecacatan jurus keduanya. Baginya dia hanya perlu memodifikasi jurus-jurus keduanya lalu menyempurnakannya dan menggunakannya untuk dirinya sendiri.
Pedang Ombak Bergemuruh
Pedang Pemecah Omah
Tang Hao sedikit merasa geli saat setiap orang yang ditemuinya di dunia ini yang sedang bertarung meneriakkan jurus mereka.
Tang Hao merasa meneriakkan jurus adalah hal yang sia-sia dan sedikit tidak berguna. Tang Hao berpikir, jika dengan meneriakkan jurus berarti membantu musuh untuk mengetahui serangan selanjutnya dan hal itu dapat dimanfaatkan oleh musuh untuk memberikan serangan yang fatal.
Namun Tang Hao juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena setiap orang punya cara mereka sendiri untuk memenangi pertarungan.
Pertarungan menjadi sangat sengit dan telah mencapai puncaknya. Kedua peserta terlihat sama-sama terluka, namun nafas pemuda yang berbaju biru putih terlihat lebih stabil dan lebih baik dari pada pemuda baju hitam putih yang terlihat sudah ngos-ngosan, namun masih ada semangat membara di kedua matanya.
Pemuda baju putih biru yang melihat lawannya sudah di ambang batas, terlihat sangat serius. Dia mulai mengeluarkan jurus pamungkasnya.
Pemuda baju hitam putih yang melihat lawannya mengeluarkan jurus pamungkasnya tidak tinggal diam. Dia juga mulai mengeluarkan jurus andalan yang dikuasainya.
Kedua pemuda itu berlari kencang lalu meneriakkan jurus masing-masing.
Pedang Angin Timur
Pedang Api Biru
Kedua jurus saling bertabrakan dan menimbulkan fluktuasi yang cukup kencang.
Api biru yang lumayan panas tergulung oleh angin besar seperti ****** beliung. Seperti mana hukum alam berlaku, ketika api bertemu angin, alih-alih memadamkan apinya justru membuat api bertambah besar. Namun seberapa kuat api dan angin, itu tergantung dari kekuatan yang dilepaskan pendekar.
Api biru yang ada di lapangan tidak terlalu kuat karena pemuda berbaju hitam putih sudah berada di ambang batasnya. Namun bukan berarti hal itu mudah dipadamkan oleh pemuda berbaju putih biru. Dia harus mengeluarkan seluruh tenaganya demi mengendalikan api biru yang membubung di angkas agar tidak melahapnya. Pemuda baju biru harus akui, bahwa elemen api biru milik keluarga lawannya jauh lebih kuat dari pada elemen angin milik keluarganya. Jika bukan karena kontrol tenaga dalam yang baik, pemuda baju biru itu tidak bisa menang melawan pemuda berbaju hitam putih.
Asap putih yang memenuhi lapangan perlahan menghilang. Para penonton di sekitar arena terdiam tidak sabar melihat hasil pertandingan di depan mereka.
Para penonton sebagian bersorak dan sebagian berdecak kesal saat melihat yang masih berdiri di atas arena ternyata pemuda berbaju hitam putih. Dia berdiri dengan bertumpu pada pedangnya yang dutancapkanya ke lantai area.
Sementara pemuda berbaju putih biru terlihat tergeletak di atas arena dengan nafas yang putus-putus dengan bajunya yang sedikit terbakar. Meskipun masih sadar, pemuda berbaju putih biru itu tidak mampu bergerak karena benar-benar kehabisan tenaga dalam yang digunakannya untuk melindungi dirinya saat-saat terkahir pertarungan.
Pemuda berbaju putih biru itu tidak menyangka bahwa api biru milik lawannya mampu meledak meskipun tidak kuat namun ledakan itu cukup untuk membuatnya terluka, dan dengan terpaksa dia melindungi diirinya dengan sisa-sisa tenaga dalam agar ledakan itu tidak melukainya, namun pada akhirnya dia terpental beberapa meter dan terguling-guling di atas arena hingga karena kehabisan tenaga dalam.
"Pemenangnya adalah keluarga Zhang Yung dari keluarga Zhang." Wasit mengumumkan hasil pertandingan. Sorak-sorak keluarga Zhang terdengar cukup heboh dari kursi penonton.
"Apa mereka satu keluarga dengan Kapten Zhang? Sepertinya begitu melihat Kapten Zhang juga memiliki elemen api biru. Tidak kusangka Kapten Zhang berasal dari keluarga bangsawan. Tapi kenapa dia malah bekerja untuk Raja? Sepertinya ada masalah di antara Kapten Zhang dan Klan Keluarga Zhang." Gumam Tang Hao sambil membuat analisis yang menurutnya masuk akal.
"Baiklah ini saat yang kita tunggu-tunggu. Babak Grand Final. Kedua peserta silahkan maju ke depan." Sang wasit berteriak dari atas arena. Namun sebelum kedua peserta maju, tiba-tiba suara ledakan yang cukup keras terdengar dari arah gerbang disusul teriakan.
Boommm..
Penyerangan... Penyerangan aliran hitam.
Aaakhh..
Aakkhh..
Di kursi penonton tidak kalah hebohnya, beberapa orang yang duduk di kursi penonton ada yang menyerang orang-orang di sampingnya sehingga kekacauan tidak terelakkan.
"Penghianat, ada penghianat aaakkkhh...." Teriakan para penonton yang tidak sempat menghindar terdengar dari sana sini. Sebagian orang ada yang berlarian dengan panik, ada juga sebaian orang yang melawan orang yang menyerangnya.
Para tetua sekte segera keluar dan melihat situasi yang kacau, bahkan beberapa orang yang menyerang orang lain terdapat orang-orang terdekat mereka.
Ketua sekte dan para tetuanya sudah pasti paham dengan kejadian ini. Selain ada penyerangan, di dalam sekte mereka tentu ada penghianat yang sebetulnya penyusup.
Ketua sekte yang berada di tingkat Pendekar Kristal tahap akhir itu segera menghunuskan pedangnya dan menyerang para penyerang sekte yang bisa dikenali dengan mudah. Mereka memakai jubah warna coklat yang menutupi seluruh tubuh mereka.
Para tetua sekte tidak mau ketinggalan, mereka juga menghunuskan senjata masing-masing dan merengsek musuh serta siapa saja yang menyerang mereka.
Tetua sekte yang berjumlah sepuluh itu segera menyebar dua-dua dan bergerak cepat. Mereka tidak ingin kehilangan murid-murid dan anggota sekte mereka yang menyelamatkan diri.
Pertempuran menjadi sengit karena pihak aliran hitam mengeluarkan orang terkuat mereka. Beberapa orang Pendekar Kristal dan dibawahnya menyerbu masuk ke dalam sekte.
Ketua Sekte segera menyerang beberapa orang aliran hitam yang baru masuk. Dia tidak ingin mereka masuk lebih dalam ke sekte dan menghancurkan apapun yang merrka temukan.
Dua orang Pendekar Kristal tahap akhir dan tahap awal, empat orang pendekar melawan satu orang ketua Sekte.
Tang Hao hanya mengamati dari atas dengan tenang, di genggaman tangannya telah terdapat dua bilah pedang yang berlumuran darah segar dan masih menetes.
Dari awal, Tang Hao sudah yakin bahwa sekte yang sedang mengadakan pertandingan ini akan diserang oleh aliran hitam. Saat dalam perjalan, Tang Hao telah melihat rombongan aliran hitam dalam jumlah besar sedang bergerak ke arah sekte yang bernama Sekte Merak Hijau ini.
Tang Hao sengaja menunggu di langit rombongan aliran hitam sambil melihat pertandingan yang berlangsung. Tang Hao semakin yakin saat salah satu gadis pemenang pertandingan sebelumnya yang bernama Zhi kepada beberapa orang yang duduk di tribun penonton.
Saat dimulai pertempuran aliran hitam dengan Sekte Merak Hijau, Tang Hao langsung turun tangan. Dia mengeluarkan dua pedang lalu melemparkannya ke bawah. Tang Hao menggunakan teknik pedang terbang yang telah dipelajarinya dari Kakek Lian.
Tang Hao hanya perlu mengalirkan qi dan memberi sedikit kesadaran pada pedang dikehendakinya, maka pedang itu akan bergerak sendiri membunuh para musuh tanpa ragu.
Sasaran pertama Tang Hao adalah perempuan bernama Zhi dan keluarganya. Tang Hao sangat membenci dengan para penghianat karena selalu teringat dengan kisah menyedihkan kakeknya, oleh sebab itu perempuan pertama yang dibunuh Tang Hao adalah Zhi. Pedang terbang Tang Hao menebas leher Zhi tanpa ampun lalu memotong kedua tangan dan kaki Zhi. Zhi mati tanpa mengetahui siapa yang membunuhnya dan bagaimana kematiannya.
Sedangkan pedang terbang Tang Hao yang satunya menebas leher aliran hitam yang masih berada di luar sekte. Setelah membunuh Zhi, pedang Tang Hao menyusul pedang yang satunya lagi dan mulai menebas leher aliran hitam tanpa ampun.
Aliran hitam mulai ketakutan saat melihat pedang yang terbang dengan sendirinya dan membantai mereka tanpa ampun tanpa mampu melawan balik. Para pendekar aliran hitam yang berada di luar sudah tidak fokus dengan keadaan di dalam mereka mulai berlari menjauh dari Sekte Merak Biru demi menghindari dua pedang terbang.
Sayangnya keinginan mereka hanya sia-sia saja, karena kesadaran Tang Hao telah mengunci area yang sangat luas. Sehingga kemanapun mereka berlari, pedang terbang Tang Hao masih mampu menemukan mereka tanpa ada satupun yang bisa bersembunyi. Bahkan Tang Hao dapat melihat dengan jelas satu orang Pendekar Platinum dan satu Pendekar Raja.
Sepertinya kali ini aliran hitam memang berniat meratakan Sekte menengah aliran putih ini.
Pendekar Platinum dan Pendekar Raja itu melihat anggota mereka dibantai tanpa ampun, hanya bisa diam membeku juga ketakutan. Bagaimana mereka tidak ketakutan ketika nafsu membunuh yang tiba-tiba diarahkan kepada mereka. Mereka tidak tahu dari mana datangnya nafsu membunuh itu, namun mereka yakin jika bergerak sedikit saja, maka leher mereka akan terlepas begitu saja. Dan itu benar-benar terjadi saat Pendekar Platinum mencoba berlari seperti yang dilakukan anak buahnya. Begitu langkah pertama bergerak, secepat kilat Pedang Tang Hao telah berada di leher Pendekar Platinum itu dan menebasnya dengan rapi.
Pendekar Raja yang melihat pendekar Platinum di sebelahnya mati begitu saja bahkan belum sempat melangkah kepalanya menghilang, membuat tubuhnya bergetar ketakutan saat melihat pedang terbang melayang di depan matanya.
Pedang terbang itu mengandung nafsu membunuh yang besar sehingga Pendekar Raja tidak berani berbuat apapun, takutnya jika dia bergerak seperti temannya tadi, maka kepalanya akan hilang juga.
Namun satu hal yang tidak diketahui pendekar itu, bahwa pedang terbang Tang Hao tidak mempedulikan mereka bergerak atau tidak, selama mereka dari pendekar aliran hitam, maka wajib bagi Tang Hao melenyapkan mereka.
Crashh..
Pedang terbang menebas leher Pendekar Raja dalam satu ayunan tebasan.. Ketajaman pedang Tang Hao tidak perlu dipertanyakan, bahkan pedangnya mampu membunuh Pendekar Roh dalam sekali tebas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf guys baru bisa up sekarang🙏🙏