The Legend Of Fighter

The Legend Of Fighter
CH 11. PERANG



Tang Hao berhenti dari terbangnya dan turun tepat di luar Lembah Kematian. Tubuhnya terasa sangat ringan seperti kapas. Dia melompat tanpa tenaga mencapai puluhan meter, bahkan ketinggian terbangnya jauh dari sebelumnya.


"Benar kata kakek Lian, selain Lembah Kematian tarikan gravitasi di dunia ini normal seperti biasanya. Tidak kusangka perbedaan gravitasi di Lembah Kematian benar-benar kuat. Meskipun Kerajaan Niao terkena dampak gravitasi Lembah Kematian, namun tidak sebesar Lembah Kematian itu sendiri." Gumam Tang Hao sambil melanjutkan perjalanannya dengan melompat dari dahan satu ke dahan yang lain. Tempat dia keluar saat ini masih daerah hutan belantara dan menjadi hutan perbatasan antara Lembah Kematian dan daerah lain Kerajaan Niao.


Lembah Kematian sendiri dibatasi oleh dua bentang Alam yang tidak bisa ditembus oleh para pendekar sekalipun pendekar tingkat tinggi. Dikatakan juga bahwa Lembah Kematian adalah ujung dari Benua Timur, Bentang alam tersebut adalah Pegunungan Barisan dan Samudra Biru. Sebelah timur Lembah Kematian adalah Pegunungan Barisan dan sebelah timur Pegunungan Barisan adalah Samudra Biru tanpa tepi.


Tang Hao melompat dengan pelan sambil menikmati suasana sore, angin segar menerpa wajahnta, rambutnya yang panjang berumbai-umbai ke belakang.


Tang Hao mendadak berhenti di sebuah dahan pohon saat dia mencium bau darah dan merasakan kematian yang pekat. Meskipun jarak yang dirasakannya masih cukup jauh, namun dia bisa merasakan bahwa ada kematian di depannya.


Tang Hao menghilangkan jejak dirinya dan melayang ke udara untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tang Hao hampir saja memuntahkan seluruh isi perutnya saat melihat mayat-mayat tak utuh di bawahnya.


Otak dan usus berceceran di mana-mana, lengan kaki dan tangan berserakan tak menentu, kepala-kepala bergelimpangan tak karuan, burung-burung pemakan bangkai mengerumuni potongan daging yang tersisa.


Tang Hao bergegas turun ke bawah, dan berjalan mendekati pohon untuk menumpang dirinya agar tidak pingsan di sana. Meskipun dia sering melihat kematian dalam ilusi yang dibuat kakek Lian, namun ternyata melihatnya secara langsung dan merasakan bau anyir darah terasa sangat berbeda.


Setelah menenangkan dan memguasai dirinya, Tang Hao berjalan mendekati mayat-mayat yang tidak utuh di depannya. Sekitar ada dua puluhan mayat tidak utuh yang berserakkan tak menentu.


Tang Hao memandangnya dengan pandangan sedih dan pikiran yang melayang-layang. Dia berpikir bagaimana nasib keluarga yamg ditinggalkan. Pamit pergi mencari nafkah ternyata tidak kembali untuk selamanya. Bahkan kabar kematian saja tidak sampai ke keluarganya. Melihat hal ini, membuat tekad Tang Hao hidup abadi menjadi semakin kuat.


"Baru saja aku ingin menjelajahi dunia ini, namun pemandangan yang pertama kali kulihat adalah kematian. Sungguh ironis sekali heh." Tang Hao membuang nafas berat.


Tak..


Tang Hao menghentakkan kakinya ke tanah, guncangan ringan dibarengi dengan tanah terbelah merekah sedikit demi sedikit hingga terbuka cukup lebar barulah guncangan ringan itu berhenti.


Tang Hao menggerakkan kedua tangannya dan seluruh potongan tubuh yang tak utuh di sekitarnya bergerak dengan cepat berkumpul ke dalam lubang besar yang dibuat Tang Hao. Setelah seluruh potongan masuk ke dalam tanah, Tang Hao menghentakkan kembali kakinya dan tanah menutup dengan sendirinya. Tang Hao memakamkan mereka secara massal dan menandainya dengan sebuah batu besar.


Setelah memberikan penghormatan kematian, Tang Hao berjalan beberapa meter ke arah barat kemudian kembali melompati dari dahan ke dahan.


Dia harus mulai terbiasa dengan kematian yang setiap saat bisa ditemuinya di mana saja, bahkan dia juga harus bersiap dengan kematiannya sendiri. Tang Hao memprcepat lompatannya saat melihat lembayung merah sudah menggantung di langit, dia mengedarkan kesadarannya beberapa ratus meter ke depan untuk mencari pemukiman terdekat. Tang Hao tersenyum saat mengetahui ada penginapan di depannya sekitar dua ratus meter dari jaraknya saat ini.


Tang Hao berhenti sekitar lima puluh meter dari penginapan. Dia berjalan sambil menyarungkan pedang di pinggangya dan mengenakan topi jerami serta jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya.


Tang Hao mengenakan pakaian seperti pakaian pengelana yang dibacanya dalam novel-novel fantasi. Dia juga terlihat gagah dengan pakaian yang dikenakannya saat ini.


Tang Hao memperhatikan penginapan di depannya serta keadaan di sekitarnya. Penginapan berlantai 3 terlihat besar dengan cat coklat menghiasinya. Tang Hao baru menyadari bahwa saat ini dia telah berada di jalur jalan besar yang biasanya dilewati para pedagang maupun pengelana lainnya. Tang Hao kini faham kenapa bisa ada penginapan di tempat seperti ini.


Tang Hao memasuki penginapan, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Terlihat cukup ramai, namun tidak padat karena ruangan yang lumayan besar. Beberapa orang memperhatikan kedatangannya sesaat mencoba mengukur kekuatan Tang Hao saat melihat Tang Hao membawa pedang di pinggangnya.


Tang Hao berjalan tenang mendekati meja resepsionis. Di sana telah berjaga seorang pria muda dan wanita muda tersenyum ramah. Mereka mengenakan seragam dengan atas berwarna putih dan bawah berwarna hitam.


"Selamat malam tuan muda, apa anda ingin menginap atau sekedar menikmati hidangan kami?" Sapa sang resepsionis wanita sambil tersenyum ramah. Wanita itu terlihat manis saat tersenyum membuat jantung Tang Hao berdesir sedikit.


"Ah saya ingin menginap sekaligus menikmati hidangan di sini." Jawab Tang Hao setelah terlena dengan senyum gadis muda di depannya tak kalah ramah.


"Ingin memesan kamar biasa atau VIP tuan muda?"


"VIP saja."


"Baik tuan muda. Satu malam untuk kamar VIP adalah seratus keping emas sudah termasuk hidangan yang akan diantar ke kamar anda. Ini kuncinya tuan muda." Wanita muda itu mengeluarkan sepotong kunci lalu memberikannya kepada Tang Hao.


Tang Hao mengeluarkan satu kantong koin emas dari balik jubahnya. Dia telah diwanti-wanti kakek Lian, bahwa manusia di dunia ini tidak mengenal cincin spasial atau cincin ruang. Dari pada mendapat masalah yang tidak diinginkannya, Tang Hao lebih baik berhati-hati.


Tang Hao berjalan ke arah lantai tiga di mana kamarnya berada di lantai tiga, lantai teratas sesuai dengan petunjuk yang ada di kunci kamarnya.


Tang Hao merebahkan punggungnya di atas kasur yang empuk


"Ahh nyamannya." Gumam Tang Hao pelan. Dia menghembuskan nafasnya, baru saja dia kehilangan kakeknya, begitu memulai perjalanannya di dunia ini, malah kematian yang mengerikan pemandangan pertama yang harus dilihatnya.


Tok tok tok..


"Tuan, hidangan makan malam anda sudah datang"


Tang Hao mendengar suara ketukan di pintu rumahnya, dia dapat mengetahui ada tiga orang gadis muda berdiri di depan pintu kamarnya sambil membawa makan malam yang disediakan penginapan.


Tang Hao bangkit dan membuka pintu kamarnya, dia tidak lupa mengenakan topi jeraminya untuk menutupi wajahnya. Salah satu nasihat yang sering diulang-ulang kakek Lian adalah untuk tidak memperlihatkan wajahnya di depan umum untuk menghindari masalah tidak diinginkan ke depannya.


Kamar VIP cukup luas, di sana ada sebuah meja besar lengkap dengan kursinya, kamar mandi di dekat pintu, sebuah lemari baju yang cukup mewah berdiri tegap di sebelah ranjang.


Tang Hao mengeluarkan tiga keping emas lalu memberikannya kepada pelayan sebagai tip untuk mereka.


"Terima kasih banyak tuan muda, terima kasih." Ketiga wanita muda itu menunduk lalu pamit keluar untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Tang Hao segera melepas jubah dan topi jeraminya kemudian menikmati hidangan beraroma lezat di depannya. Dia memang sangat ingin merasakan masakan dengan rasa yang lain karena selama lima belas tahun dia selalu makan masakan kakek Lian.


"Hemm ku kira makanan di sini enak, ternyata lebih enak masakan kakek Lian." Gumam Tang Hao santai seolah tanpa masalah.


"Meskipun penginapan ini sengaja dibuat untuk kepentingan umum dan bersifat netral, tapi para pelayannya adalah pendekar kelas tinggi. Sepertinya pemilik penginapan adalah orang yang tidak biasa." Tang Hao menghabiskan seluruh makanan di atas mejanya, setelah itu mengemasi peralatan makan lalu menaruhnya di depan pintu. Dia tidak ingin ada orang yang mengganggunya di saat dalam kamar.


Setelah terbang dan melompat seharian, Tang Hao tidak merasa lelah sama sekali, wajahnya masih terlihat segar. Hanya jiwanya yang sedikit terguncang. Maka dari itu dia ingin mencari ketenangan sambil bermeditasi menenangkan pikirannya.


Beberapa jam terlewati, tanpa terasa mentari pagi menyeruak dari arah timur. Tang Hao membuka matanya saat cahaya pagi menyapa wajahnya melalui ventilasi udara kamarnya.


Tang Hao bangkit dari tempat tidurnya dan melemaskan otot-ototnya yang kaku karena tidak bergerak seharian penuh. Dia membuka jendela kamarnya dan memandang matahari pagi sambil memikirkan langkah selanjutnya.


Dia mengeluarkan sebuah gulungan kosong dan mulai menuliskan rencana yang akan diambil ke depannya, Tang Hao duduk di balkon kamarnya.


Setelah menulis semua rencananya, Tang Hao memasukkan gulungan itu ke dalam cincin ruangnya dan bersiap-siap keluar dari kamarnya melanjutkan perjalanannya.


Rencana pertamanya adalah mencari para pembunuh yang membantai habis rombongan mayat yang ditemuinya kemaren. Sewaktu memasuki penginapan, Tang Hao merasakan niat pembunuh dari beberapa orang yang melihatnya namun dia tetap santai. Dia dapat merasakan bahwa beberapa orang itu juga yang menghabisi rombongan orang sebelumnya dan mengambil seluruh harta mereka.


Tang Hao tahu bahwa beberapa orang itu juga ikut menginap di sebelah kamarnya, namun mereka tidak membuat pergerakkan sama sekali mungkin karena memikirkan pemilik penginapan ini. Namun dia tahu bahwa saat ini dia telah menjadi incaran kelompok orang itu.


Tang Hao berjalan keluar penginapan dengan santai. Dia tidak butuh sarapan karena dia memang tidak merasa lapar sama sekali. Setelah beberapa meter berjalan, Tang Hao mulai melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Tang Hao melompat ke hutan yang lumayan jauh dari jalan besar yang dilewati orang banyak.


Tang Hao berhenti melompat di tempat yang tidak ada pepohonan sama sekali.


"Pemburu memang tidak akan pernah melepas mangsanya, keluarlah aku tahu kalian mengikuti." Tang Hao melipat tangannya sambil memandang tajam ke arah pohon besar di depannya.


Plok plok plok...


Suara tepukan tangan terdengar dari balik pohon disusul kemunculan sepuluh orang mengenakan jubah merah darah tanpa penutup kepala. Niat membunuh keluar dari tubuh mereka tanpa disembuyikan.


"Harimau kecil memang tidak tahu yang dia hadapi saat ini adalah pemburu mematikan, harimau hanya akan sadar ketika kematian telah menjemputnya." Ucap seorang dari para pembunuh di depan Tang Hao.


Sebenarnya Tang Hao cukup terkejut ada pembunuh yang berkeliaran di kerajaan ini. Informasi yang dia ketahui dari kakek Lian, bahwa Kerajaan Niao adalah salah satu kerajaan paling aman di Benua Timur karena banyaknya sekte aliran putih yang menjaga daerah ini.


"Siapa kalian? Kalian tidak takut membuat keributan di Kerajaan ini? Kerajaan Niao adalah salah satu Kerajaan yang dikuasai aliran hitam." Balas Tang Hao mencoba mencari informasi dunia yang saat ini ditempatinya. Dia merasa ada beberapa perubahan yang tidak diketahuinya.


"Hahaha hei bocah, apa kamu baru keluar dari gunung atau dari gua? Hahaha" Kesepuluh orang itu tertawa saat mendengar ucapan Tang Hao.


Tang Hao sendiri terkejut dengan ucapan para pembunuh di depannya ini karena trbakan mereka mengenainya yang baru keluar dari hutan memang benar.


"Saya memang baru keluar dari hutan" Jawab Tang Hao polos sambil menganggukkan kepala.


"Hahahaha anak ini ternyata bodoh." Kesepuluh orang itu kembali tertawa keras. Bahkan ada beberapa yang keluar air matanya, beberapa juga memegangi perutnya.


Tang Hao hanya diam saja melihat kesepuluh orang pembunuh menertawakkannya. Dia tidak merasa tersinggung atau marah karena yang dia katakan adalah memang benar. Justru dia sedikit kasihan kepada orang-orang di depannya ini karena dia tahu, dibalik tawa mereka yang keras, kematian akan segera menghampiri mereka.


"Baiklah anak muda, ada sedikit yang harus kukatakan kepadamu." Ucap satu pembunuh yang berusia sekitar tiga puluh lima tahunan. Sepertinya dia adalah pemimpin pembunuh itu karena terlihat dari tingkatannya yang telah berada di ranah Grand Master atau tingkat Pendekar Emas. Sedangkan sembilan orang lainnya masih berada di tingkat Pendekar Perak tahap awal hingga akhir.


"Saat ini aliran putih, hitam dan netral sedang berperang berebut makam kuno di Kekaisaran Zhou yang muncul lima tahun lalu. Jadi apa yang harus kami takuti ketika tidak ada aliran putih yang menjaga Kerajaan ini?"


Tang Hao terdiam sejenak, apakah makam kuno itu begitu berharga sehingga membuat aliran hitam, putih dan netral berperang memperebutkannya? Dia harus mencari informasi lebih lanjut mengenai hal itu. Namun perta-tama dia harus membereskan sepuluh orang dihadapannya yang telah bersiap membunuhnya.


"Sepertinya kalian adalah perampok yang selama ini bersembunyi. Namun aku sedikit heran kalian tidak memiliki nyali merampok penginapan sebelumnya. Ternyata kalian cuman pengecut yang berani merampok orang yang lebih lemah dari kalian." Ucap Tang Hao sini.


"Hahaha lalu apa jika kami merampok orang yang lebih lemah, salah sendiri kenapa menjadi lemah di dunia ini. Hukum rimba selalu berlaku di manapun kita berada. Hei bocah salahkan dirimu yang tidak tahu apa-apa tentang duni ini." Orang tersebut menghunuskan pedangnya dan bergerak cepat mendekati Tang Hao sambil mengayunkan pedangnya ke arah leher Tang Hao.


Crashhhh..


"Hahahahahahahahah"