
Setelah beberapa hari perjalanan akhirnya rombongan Kerajaan Haitan memasuki Ibu Kota Kerajaan Niao. Di depan gerbang kota ada tulisan Selamat Datang di Kota Valdomo.
Tang Hao yang baru pertama melihat Ibu Kota Kerajaan dibuat sangat takjub. Tang Hao tidak berkedip sama sekali melihat kota dengan benteng yang mengelilinginya.
"Apa memang seperti ini Ibu Kota setiap Kerajaan di dunia ini?" Gumam Tang Hao takjub.
Di depan gerbang kota telah berdiri banyak prajurit yang menyambut kedatangan rombongan Kerajaan Haitan. Sepertinya rencana lamaran Kerajaan Haitan telah diketahui oleh warga Kerajaan Niao sehingga beberapa warga juga ikut antusias menyambut rombongan.
Gerbang kota dibuka dengan lebar, para prajurit Kerajaan Niao mempersilahkan rombongan memasuki kota. Sorak-sorak selamat datang dan suara trompet ditiup terdengar riuh dari dalam kota.
Raja dan Ratu Kerajaan Haitan melambaikan tangannya ke seluruh warga maupun perajurit yang menyambut mereka. Mereka sendiri tidak menyangka akan disambut sedemikian meriahnya membuat rombongan Kerajaan Haitan merasa terharu.
Tang Hao begitu antusias melihat rombongan penyambutan Kerajaan Niao. Dia berdiri di atas kudanya yang masih berjalan dan melambaikan kedua tangannya denga riang gembira. Diantara semua rombongan Kerajaan Haitan, tampaknya Tang Hao lah yang paling antusias dan gembira dengan penyambutan tersebut.
Bahkan beberapa kali Kapten Han menarik baju Tang Hao dan menyuruh anak itu untuk tetap duduk di atas kudanya dan terlihat berwibawa. Meskipun begitu, Tang Hao tetap melambaikan tangannya dan berteriak mengucapkan terima kasih diantara riuh suara terompet yang ditiup.
Semakin mendekati istana kota, semakin sedikit masyarakat yang menyambut. Hanya ada prajurit yang mengatur keamanan rombongan serta berbaris rapi menahan masyarakat agar tidak ada yang mendekati rombongan yang lewat.
Tang Hao sudah kembali tenang dan duduk diam di atas kudanya. Dia diam bukan karena tanpa alasan tapi merasakan beberapa pendekar tingkat tinggi. Diantaranya ada yang sekuat Kapten Han. Sepertinya Kerajaan Niao juga tidak mengendurkan penjagaannya sama sekali.
Tang Hao memandang ke atas menara istana, di sana telah berdiri seseorang yang memantau rombongan dari jauh. Begitu pandangan Tang Hao dan orang itu bertemu, membuat orang yang berdiri di atas menara mengerutkan dahinya. Dia tidak menyangka ada seseorang dari rombongan mereka yang menyadari kehadirannya. Yang lebih membuatnya terkejut adalah orang yang menyadari kehadirannya pertama kali bukanlah seseorang yang diharapkannya dan dikenalnya melainkan seorang bocah yang tidak dikenalnya.
Wushh..
Orang yang berdiru di atas menara itu menghilang dari tempatnya setelah Kapten Han menyadari kehadirannya. Orang itu pergi dengan berbagai macam pertanyaan yang memgganjal kepalanya.
Kapten Han tersenyum saat melihat orang itu telah pergi dari menara. Dia telah mengenal orang itu, dan seperti dirinya, orang itu juga salah satu pendekar tingkat tinggi di Kerajaan Niao. Namun tanpa disadari Kapten Han, Tang Hao telah lebih dulu menyadari keberadaan orang itu.
Rombongan Kerajaan Haitan telah sampai di pintu istana. Semua orang turun dari kuda masing-masing termasuk Raja dan Ratu serta Putra Mahkota. Dari kereta kuda yang lain juga turun beberapa orang yang terlihat seperti menteri istana dan keluarga Kerajaan Haitan.
Dari dalam istana terlihat satu rombongan yang dipimpin seorang pria paruh baya yang terlihat seumuran dengan Raja Haitan. Pria itu didampingi seorang wanita berumur tiga puluhan tahun dan seorang gadis muda yang berjalan dengan menunduk. Gadis itu terlihat malu.
Tang Hao yang berdiri di barisan belakang bersama prajurit khusus, menganggukkan-anggukan kepalanya seolah berbicara pada dirinya sendiri.
"Sepertinya mereka pasangan yang cocok. Putra Mahkota yang tampan dan berwibawa, serta Sang Putri yang cantik dan pemalu. Terlebih kedua orang tua mereka sepertinya terlihat sangat akrab. Sepertinya kedua raja Kerajaan ini memang sudah berteman lama." Gumam Tang Hao pelan. Beberapa prajurit yang mendengar suara Tang Hao memalingkan kepala melihat Tang Hao. Mereka tidak bertanya lebih lanjut karena beberapa dayang menuntun mereka menuju kamar masing-masing yang telah disiapkan.
Tang Hao yang awalnya ingin mengikuti rombongan Putra Mahkota dicega oleh prajurit Kerajaan Haitan.
"Hanya Kapten Han yang berhak masuk ke dalam, kita yang bukan siapa-siapa tidak bisa sembarangan masuk." Ucap prajurit yang berdiri di dekatnya karena memaksa ikut masuk mengikuti Kapten Han.
Tang Hao terdiam dan mengangguk faham. Tang Hao tidak ambil pusing, lalu dia mengikuti seorang dayang yang membawanya ke sebuah ruangan.
"Tuan, ini adalah kamar anda. Jika memerlukan sesuatu silahkan katakan kepada prajurit penjaga. Saya pamit dulu" Ucap dayang itu menundukan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Tang Hao.
Tang Hao memasuki ruangannya. Dia dibuat kembali takjub dengan interior ruangan yang mewah. Beberapa guci mewah tertata rapi di sudut ruangan. Ruangan yang cukup luas untuk seukuran dirinya yang belum pernah memiliki hidup mewah sebelumnya.
Tang Hao melepas baju zirah pemberian Kapten Han. Sebelum memasuki kota Valdomo, dalam perjalanan Kapten Han memberikan satu set zirah prajurit Kerajaan Haitan dengan alasan agar tidak ada yang mencurigai rombongan tersebut membawa mata-mata atau sesuatu yang bersifat buruk.
Tang Hao menerima zirah itu dengan senang hati, dan dia segera mengenakannya yang ternyata cukup sesuai dengan ukuran tubuhnya. Seolah zirah itu memang dibuat untuknya. Bahkan Kapten Han dan Prajurit lainnya dibuat takjub.
Tang Hao sedikit kesal karena tidak bisa mengikuti pertemuan ataupun proses lamaran Kerajaan Haitan dengan Kerajaan Niao. Meski begitu Tang Hao tidak berkecil hati, dia harus sadar posisinya saat ini dan apa tujuannya sebelumnya.
Tang Hao memejamkan matanya, dia mencoba meningkatkan kekuatannya ke tingkat yang lebih tinggi. Tang Hao dapat merasakan energi alam di tempat ini sangat tipis, tidak sebanding dengan energi alam di Lembah Kematian apalagi dengan domain tempatnya berlatih.
Tang Hao tidak tertarik untuk melihat-lihat suasana Kerajaan Niao, dari awal dia memang tidak berniat memasuki istana Kerajaan kecuali karena diajak oleh Kapten Han.
Tang Hao berkultivasi tanpa terasa sudah dua hari berlalu. Dia tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Para prajurit penjaga ruangannya pun tidak berani mengganggu atau pun mengetuk ruangan Tang Hao karena mereka dapat merasakan aura aneh yang sedikit menindas dari dalam kamar Tang Hao.
Mereka juga dapat melihat bahwa energi alam yang cukup besar seolah tertarik dengan paksa ke dalam ruangan Tang Hao. Fenomena itu tidak hanya dapat dirasakan oleh penjaga kamarnya, dua pendekar tinggi yang ada di Kerajaan ini juga dapat merasakan hal yang sama namun sayangnya mereka tidak bisa segera memeriksa karena mereka sedang mengikuti acara lamaran.
Tang Hao menghembuskan nafas karena dia sama sekali tidak mendapat hasil apapun. Seolah setiap energi yang telah dikumpulkannya hilang entah ke mana. Meskipun sudah bertahun-tahun mengalami hal yang sama, Tang Hao tetap terbiasa dengan kondisinya, bahkan Tang Hao sudah meningkatkan keenam akar spiritualnya hingga ke puncak ranah Legend, dan telah mulai muncul sebongkah tanah di tengah Lautan Qi nya, namun tingkat kultivasinya tidak meningkat sama sekali.
Tang Hao berjalan keluar kamarnya karena merasakan dua orang pendekar tingkat tinggi sedang menuju kamarnya. Tang Hao pada dasarnya tidak ingin menarik perhatian, namun dia sadar bahwa metode kultivasinya pasti akan menarik perhatian orang-orang tertentu.
Tang Hao membuka pintu kamarnya, di sana telah berdiri Kapten Han dan seorang pria yang tampak seumuran dengan kapten Han. Pria itu adalah orang yang sebelumnya dilihat Tang Hao berdiri di atas menara istana.
"Pagi anak muda" Sapa Kapten Han.
"Oh iya perkenalkan ini adalah saudara seperguruanku, Zhang. Dan dia sama sepertiku, prajurit khusus penjaga Raja Kerajaan Niao ini. Dia sedikit tertarik denganmu katanya." Kapten Han memperkenalkan pria di seblahnya. Tang Hao mengangguk pelan dan mempersilahkan kedua orang itu ke ruangannya.
Tang Hao menyeduh teh dan mengeluarkan beberapa hidangan buah-buahan dari dalam cincin ruangnya dan menyuguhkannya kepada dua tamunya.
Kedua orang itu mengernyitkan dahinya karena tidak habis pikir bahwa saku Tang Hao yang terlihat kecil itu bisa membawa dan menampung buah-buahan. Namun mereka diam saja karena tidak ingin dikatakan norak oleh anak kecil di depan mereka ini. Kedua orang ini dapat merasa buah-buahan di depan mereka bukanlah buah biasa.
"Jadi apa yang membuat paman Zhang dan paman Han ke kamar saya yang bahkan bukan siapa-siapa?" Tang Hao membuka suara saat Kapten Han dan Kapten Zhang mulai menyentuh hidangannya.
Kapten Han dan Kapten Zhang saling pandang sejurus kemudian saling pandang.
"Selama dua hari di istana ini, apa saja yang telah kamu lakukan saudara Hao? Aku bukan ingin memeriksa privasimu namun ada hal yang ini kupastikan." Kapten Zhang membuka suara.
"Saya tidak melakukan apa-apa selain berkultivasi." Jawab Tang Hao yanpa menutup-nutupi kegiatannya. Dari awal Tang Hao sudah menebak dengan pertanyaan ini.
Kapten Zhang mengangguk pelan.
"Lalu apa hasil yang kamu dapat berkultivasi selama dua hari?"
Tang Hao menghembuskan nafas.
"Saya tidak naik tingkat satupun. Bahkan saya sudah berada pada tingkat yang sama selama tiga tahun ini."
Kapten Zhang dan kapten Han sedikit terkejut dengan jawaban Tang Hao. Bagaimana tidak, kedua pendekar dapat melihat aliran energi alam mengalir sangat deras ke ruangan Tang Hao. Awalnya mereka mengira ada pendekar hebat bersembunyi di Kerajaan Niao, namun saat mengetahui ternyata itu adalah ruangan Tang Hao, mereka sedikit tidak percaya. Kapten Han dan Kapten Zhang mengira bahwa dengan energi sebanyak itu, tentu saja dapat naik tingkat sangat cepat.
"Lalu sekarang kultivasimu di tingkat apa?" Tanya Kapten Han yang sudah tidak sabar ingin mengetahui tingkat Tang Hao. Sejak awal bertemu dia sudah tidak dapat mengetahui tingkat Tang Hao, dan hal itu bukanlah hal wajar di dunia pesilatan Benua Timur.
"Saat ini saya sudah baru berada di tingkat Pendekar Perak tahap akhir." Jawab Tang Hao singkat.
"Lalu berapa umurmu?"
Saya baru berumur lima belas tahun."
"Monster" Gumam Kapten Han dan Kapten Zhang bersamaan. Mereka berdua sepertinya memiliki pikiran yang sama.
Jika tiga tahun lalu dia berada di tingkat yang sama, berarti saat itu usinya baru menginjak dua belas tahun, belum pernah mereka menemukan seorang anak berumur dua belas tahun sudah berada di ranah Pendekar Perak Tahap akhir, bahkan dalam sejarah Benua Timur sekalipun.
Kapten Han dan Kapten Zhang terdiam, mereka sedang larut dalam pikiran masing-masing sehingga suasana cukup hening. Tang Hao sendiri tidak terlalu peduli dengan reaksi kedua orang di depannya maupun suasana mereka saat ini. Dia lebih suka menikmati teh hidangannya sendiri dengan tenang.
Kapten Han mengambil satu buah apel di depannya dan hendak mengupasnya namun dengan cepat Tang Hao mencegahnya.
"Akan lebih baik jika dimakan dengan kulitnya." Jawab Tang Hao saat ditanya kenapa melarang Kapten Han mengupas kulit apel.
Kapten Han diam saja dan mulai mengunyah apel di tangannya.
Begitu kunyahan pertama tergigit, Kapten Han membelalakkan matanya karena merasakan energi yang lumayan besar memasuki dantiannya dengan cepat. Energi yang berasal dari gigitan buah apal dimulutnya.
Tanpa menunggu lagi, Kapten Han memakan buah apel di tangannya dengan rakus tanpa bicara sama sekali. Begitu buah di tangannya habis, kapten Han bangkit dari kursinya dan berjalan ke kursi panjang lalu mulai berkultivasi.
Kapten Zhang yang awalnya merasa aneh dengan gelagat aneh saudara seperguruannya ini, membelalakkan matanya saat melihat Kapten Han mulai naik tingkat dalam sekejap saja.
Pendekar Berlian tahap awal, tahap menengah, tahap akhir. Terus naik, lalu Pendekar Platinum, Pendekar Platinum tahap awal, Pendekar Pelatinum tahap menengah.
Setiap kapten Han naik tingkat, udara yang besar keluar dari tubuh kapten Han menerbangkan barang-barang dalam ruangan, jika tidak dilindungi Tang Hao dengan energinya, mungkin tempat duduknya dan tempat duduk kapten Zhang serta meja merek telah ikut terhempas.
Ledakan energi yang keluar dari tubuh Kapten Han berhenti ketika kultivasinya tah berada di tingkat Pendekar Platinum tahap menengah. Namun Kapten Han masih terlihat berkultivasi, mungkin dia sedang mengokohkan tingkat kultivasinya yang meningkat secara drastis.
Kapten Zhang yang melihat suasana begitu tiba-tiba, dibuat melongo dengan mulut terbuka lebar dan mata melotot memandang saudara seperguruannya dengan tidak percaya. Lalu dia memandang buah di depannya serta Tang Hao secara bergantian.
Tang Hao sendiri cukup puas dengan hasil yang didapat kapten Han. Dia sudah menebak bahwa jika kapten Han menghabiskan buah yang dimakannya kemungkinan kultivasi Kapten Han melonjak drastis. Tang Hao lalu memandang kapten Zhang yang melongo menatapnya bergantian antara dirinya, Kapten Han dan buah di atas meja.
"Kapten Zhang, apa anda tidak ingin mencoba hidangan buah saya?" Tang Hao bertanya dengan tersenyum.
Kapten Zhang yang tersadar dari lamunannya segera mengambil satu buah apel di meja dan segera melahapnya hanya dengan beberapa kali kunyah. Rekasinya sama seperti kapten Han, barang-barang yang sudah berantakan tak karuan kini tambah berantakan lagi, setelah beberapa saat ledakan energi berhenti keluar dari tubuh kapten Zhang, namun tidak seperti kapten Han, kultvbasi kapten Zhang berhenti di tingkat Pendekal Platinum tahap awal, hanya berbeda satu tahap di bawah kapten Han.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...