
Tang Hao terbangun dari tidurnya karena merasakan keanehan yang terjadi pada lautan qi nya. Anak itu memeriksa lautan qi nya dan terkejut sekaligus bergetar saat melihat lautan qinya hanya sebesar kolam renang dewasa.
Lautan qi yang dibanggakannya kini telah menyusut sedemikian rupa hingga hampir membuat anak itu muntah darah.
"Agghhh kemana semua qi ku??" Tang Hao mencari-cari di setiap sudut meridiannya bahkan di dua belas meridian utama, bahkan di enam Akar Roh Spritualnya, dia tidak menemukan jejaknya sama sekali.
Tang Hao terduduk di atas ranjangnya dengan perasaan rumit dan sakit hati. Dia sudah mengumpulkan energi qinya selama lima tahun tanpa istirahat sama sekali dan kini baru beberapa hari sudah menghilang begitu saja, seolah menguap di bawah sinar matahari.
Tang Hao mencoba menguasai dirinya untuk tidak panik dan selalu terlihat tenang. Dia memikirkan lalu menganalisis mencari tahu kemana semua energi qi nya menghilang hanya dalam waktu semalam. Tang Hao mengernyitkan dahinya saat mengetahui ranahnya saat ini telah berada di ranah Elite bintang 7, atau tingkat pendekar perak tahap menengah yang sebentar lagi naik ke tahap akhir.
"Apa semua energi qi ku disedot oleh kenaikan tingkatku? Jika memang begitu maka akan terlalu lama dan berat ke depannya jika harus naik tingkat, belum lagi jika tiba-tiba tingkatku menurun lagi."
Tang Hao bangkit dari ranjang.
"Aku harus tanya ke kakek. Mungkin saja kakek tau solusinya." Gumam Tang Hao sambil berjalan ke luar kamarnya.
Tang Hao mendapati kakek Lian sedang membersihkan halaman. Tubuh tuanya itu tidak menghalanginya dari berbagai aktivitas sehari-hari. Bahkan kakek Lian sendiri tidak betah jika hanya duduk-duduk istirahat tanpa melakukan apapun seperti orang sepuh lainnya.
"Sepertinya wajahmu hari ini kusut sekali Hao'er?" Tanya Kakek Lian saat melihat Tang Hao berjalan dengan lesu dan wajah yang rumit.
Tang Hao mengangkat kepalanya sambil berjalan ke arah kakek Lian memasang wajah seirus. Setelah beberapa saat diam, akhirnya Tang Hao menceritakan apa yang dialaminya serta menceritakan hasil analisisnya kemana semua qi nya menghilang.
Kakek Lian cuman mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita Tang Hao.
Sebenarnya orang tua itu juga sedang berpikir dan menganalisis apa yang menimpa Tang Hao saat ini. Bahkan kakek Lian juga dibuat terkejut saat tidak bisa melihat tingkat kultivasi Tang Hao saat ini padahal jelas-jelas kemaren masih dapat dilihatnya dengan jelas. Namun dia tidak memberi tahu hal itu kepada Tang Hao. Kakek Lian terdiam sejenak memikirkan jawaban yang dikehendaki Tang Hao.
"Jika kakek lihat, sebenarnya kekuatanmu selama ini yang telah kamu kumpulkan bukan menghilang atau menguap, tapi seperti sedang disegel." Ucap kakek Lian memulai analisisnya.
"Disegel? Kenapa harus disegel kek? Dan siapa pula yang menyegel kekuatanku ini?" Tang Hao bertanya dengan nada khawatir dan campur aduk. Dia sebenarnya takut jika ada orang yang mencoba memanfaatkannya untuk berbuat hal-hal yang tidak patut.
"Tenang saja Hao'er kamu ndak perlu takut justru jika kekuatanmu yang sebenarnya disegel dan ditekan dengan kuat, ketika segel itu dibuka, maka kekuatan yang sangat dahsyat akan kamu miliki. Namun kamu harus berlatih dengan sangat keras dan tidak kenal lelah. Semakin kuat dasar kekuatanmu maka akan semakin besar pula kekuatan yang akan kamu miliki kedepannya. Apalagi kakek lihat kamu memiliki potensi tidak terbatas. Lihatlah bahkan tidak ada lagi yang bisa kakek ajarkan untukmu, aura pedangmu saja sudah mampu membunuh seseorang di ranah Grand Master." Kakek Lian berbicara cukup panjang sambil menyapu halaman. Tang Hao hanya diam mendengarkan karena memang dia tidak tahu harus menjawab apa.
Setiap nasihat kakek Lian begitu menancap di hatinya, melihat kakeknya yang sudah tua dan bungkuk membuat hatinya lebih sakit dari pada kehilangan kultivasinya.
Waktu kembali berjalan seperti biasanya. Tang Hao kembali latihan, dan latihan di Lembah Kematian membuat perkembangannya maju dengan pesat. Meskipun lima tahun telah berlalu, tetapi kultivasinya hanya meningkat satu kali. Saat ini Tang Hao berada di ranah Master bintang delapan atau tingkat Pendekar Perak tahap akhir.
Meskipun Tang Hao merasa sangat frustasi, namun dengan kakek Lian berdiri di sisinya membuatnya semakin tegar dan siap memghadapi masalah apapun.
Tang Hao sendiri latihan bersama dengan beast-beast ribuan tahun yang menghuni Lembah Kematian. Setiap kali Tang Hao mendekati mereka, pasti keringat dingin dan rasa takut memenuhi mereka. Setiap kali Tang Hao mendekati para beast iti, mereka selalu merasa tertekan dan tertindas dengan luar biasa meskipun Tang Hao tidak mengeluarkan aura apapun.
Para beast itu merasa seolah Tang Hao adalah penguasa segala Beast, dan mereka dapat melihat bahwa darah Yang Mulia Kaisar Dewa Naga Agung, mengalir deras dalam dirinya membuat para beast yang sudah mencapai gelar raja dan ratu, terlihat seperti anak kecil di depan Tang Hao. Mereka hanya bisa pasrah menjadi bahan latihan Tang Hao. Meskipun mereka tersiksa setiap hari namun itu lebih baik daripada kematian menyertai mereka.
Umur Tang Hao genap lima belas tahun saat ini, dia tumbuh menjadi remaja tampan, bermata biru dengan otot-otot yang mencuat menambah kegagahan anak itu.
Tang Hao sudah beberapa hari ini tidak tidur karena menunggui kakek Lian yang sedang sakit keras. Dia telah mencoba berbagai macam obat dan pil namun tidak bisa membuat kondisi kakek Lian lebih baik.
Semakin hari kondisi kakek Lian semakin buruk, bahkan untuk berbicara saja dia sudah tidak mampu. Dia hanya terbaring di tempat tidur tanpa mampu bergerak sedikitpun. Nafasnya semakin kasar dan semakin sulit, Tang Hao hanya bisa pasrah melihat kondisi kakek Lian yang sedang sekarat. Perasaan ketakutan begitu memengaruhi hatinya, dia tidak sanggup untuk menerima kenyataan kepergian satu-satunya orang yang sangat dicintainya di dunia ini.
"Kakek.... Hiks... Hikkss.. Hikss.." Tang Hao tak kuasa menahan tangisnya begitu mengetahui tubuh kakek Lian sudah mulai dingin dan kaku serta tidak lagi bernafas.
Tubuhnya bergetar hebat menahan tangis yang mulai deras. Beberapa beast yang berada di dekatnya juga tidak mampu menahan tangis.
Sore itu, Lembah Kematian mengalami duka yang mendalam tanpa diketahui orang-orang di dunia ini.
Tang Hao terdiam memandangi tubuh kaku kakek Lian, pikirannya saat ini mengenang kembali awal-awal dia sampai ke dunia ini dan mulai belajar di bawah kakek Lian. Baginya, kakek Lian sudah seperti ayah, ibu, sahabat, saudara bahkan guru yang selalu ada untuknya.
Terlihat kedua mata Tang Hao bengap karena kebanyakan menangis, dia bahkan menangis sampai tidak mampu menangis. Beberapa beast yang mengkhawatirkan kondisi Tang Hao menawarkan untuk segera menguburkan tubuh kakek Lian. Namun Tang Hao diam saja seolah tidak mendengar ucapan para beast di belakangnya.
Air mata Tang Hao kembali turun, tidak di dunia ini maupun di dunia sebelumnya, kematian menjadi hal yang paling menakutkan. Dia kembali teringat dengan kematiannya di kehidupan sebelumnya.
"Apakah Bibi Yang juga menangisi kematianku?" Gumam Tang Hao saat teringat dengan Bibi Yang di kehidupan sebelumnya. Di hatinya, Bibi Yang dan Kakek Lian memiliki posisi yang sama. Keduanya terlalu berharga baginya untuk kehilangan mereka.
Tang Hao berjalan perlahan mendekati tubuh kakek Lian yang sudah mulai beraroma tidak sedap. Seperti mayat pada umumnya, setelah sehari kematiannya tanpa mendapat perawatan, mayat seseorang akan mulai mengeluarkan aroma yang tidak sedap yang mengundang berbagai penyakit jika tidak dirawat atau dikuburkan.
Tang Hao membawa tubuh kaku kakek Lian keluar rumah dan berjalan mendekati liang kubur kakek Lian yang sudah digali oleh para beast, di sana para beast telah menunggu dengan perasaan sedih dan kepala tertunduk.
Tang Hao terbayang melayang ke dalam kuburan kakek Lian dan meletakkan tubuhnya secara perlahan ke dalam tanah. Tang Hao menguatkan hatinya, bagaimanapun, jika dihitung dengan usianya yang dulu saat ini Tang Hao tak ubahnya seorang pemuda tanggung. Dia harus kuat untuk memulai hidup di dunia yang jauh lebih kejam ini.
Setelah menguburkan kakek Lian, Tang Hao berjalan kembali ke rumahnya dan mendapati suasana di sana benar-benar kosong dan sepi. Tang Hao memegang dadanya yang kembali bergejolak tidak siap dengan kehilangan kakek Lian.
Array bisa digunakan untuk melindungi sesuatu, sedangkan segel digunakan untuk memperkuat array atau mengurung sesuatu. Semakin kuat segel yang dibuat, semakin kuat pula array yang dihasilkan.
Dengan kemahiran Tang Hao saat ini, membuka segel yang dibuat oleh kakek Lian bukanlah hal sulit. Setelah mengurai segel, Tang Hao menyingkirkan kasur kakek Lian dan mendapati di bawah kasur terdapat sebuah kotak kecil.
Tang Hao mengernyitkan dahinya saat melihat kotak kecil itu. Dia tidak menyangka bahwa ternyata sesuatu yang disegel dengan rumit di bawah kasur kakek Lian adalah sebuah kotak kecil. Tang Hao mencoba tenang dan tidak mempertanyakan kewarasan kakeknya itu.
Tang Hao mengangkat kotak kecil dari kayu itu namun dia tidak bergerak sama sekali. Tang Hao kembali mengangkat kotak kecil namun tetap tidak bergerak sama sekali.
Tang Hao memperhatikan dengan seksama mencoba mencari tahu apakah ada segel di kotak itu atau tidak. Setelah cukup lama mengamati, Tang Hao tidak menemukan adanya segel sama sekali.
"Jika tidak ada segel, kenapa kotak kayu sialan ini tidak mau kuangkat sama sekali." Gumam Tang Hao.
"Dari pada mencoba mengangkatnya terus tapi tidak berhasil, lebih baik berpikir mencari tahu cara bagaimana membuka kotak kayu ini."
Setelah berpikir keras, Tang Hao di novel-novel fiksi yang dibacanya, jika seseorang ingin diakui oleh suatu benda, maka orang itu harus membuat kontrak dan meneteskan darahnya sebagai bukti kontrak tersebut.
Tang Hao melakukan hal yang sama. Dia mencoba menyayat jarinya dengan pisau dapur milik kakek Lian, tapi bukannya tangannya yang terluka, malah pisau dapur itu yang tumpul tiba-tiba. Tang Hao mnegernyitkan dahinya, dia tidak percaya bahwa jarinya lebih jeras dari pada pisau tajam milik kakek Lian yang mampu memotong tulang keras sekalipun.
Tang Hao meletakkan pisau dapur yang sudah cuil itu di dekatnya, dia mencoba menggigit sendiri jarinya dengan keras.
Griiuutt...
Darah mengucur deras dari jari Tang Hao, dengan cepat dia mengarahkan jarinya ke arah kota kecil di bawahnya dan mulai memasang segel pembuka.
Wuushhh..
Cahaya merah kelur dari kotak kayu kecil dan menyerap seluruh darah Tang Hao di kotak kayu hingga kering.
Plukk..
Kotak kayu itu terbuka dengan sendirinya dan di dalamnya terdapat sebuah cincin berwarna hitam memiliki mata cincin kecil berwarna merah darah.
Tang Hao mengambil cincin hitam itu dan mengamatinya dengan seksama. Tang Hao tidak menemukan keanehan apa-apa selain ukiran di dalam lingkaran cincin yang bertuliskan "Cincin Semesta".
"Hemm sepertinya ini benda yang dikatakan kakek sebagai sepuluh benda semesta yang memiliki kekuatan maha dahsyat. Dan cincin ini satu-satunya benda semesta yang memiliki ruang dimensi di dalamnya. Bahkan kata kakek Lian, dia baru lima persen menjelajah seluruh dimensi yang ada di cincin ini."
Tang Hao mengenakan cincin itu dan seketika cincin itu menghilang dari pandangannya namun dia merasa cincin itu masih melekat di jari manisnya.
"Wooww.. Cincin yang menarik. Tak kusangka akan semudah ini memilikinya. Hahahaha sekarang ini aku telah menjadi salah satu orang paling kuat di semesta. Hahaha" Tang Hao tertawa jumawa. Tawanya itu terdengar sampai hampi ke seluruh Lembah Kematian. Para beast yang mendengar tawa itu dapat merasakan energi besar terkandung di dalamnya. Mereka segera menjauh dari sumber tawa itu meskipun mereka tahu siapa yang mampu mengeluarkan energi besar seperti itu adalah Tang Hao, selain itu mereka juga takut jika berada di dekat anak itu, mereka akan menjadi sasaran latihannya dan menjadi bahan samsak tinju anak itu.
Tang Hao menyudahi tawanya dan memeriksa apa saja isi dari Cincin Semesta milik Kakek Lian.
"Woow... Kakek benar-benar kaya. Gila..." Tang Hao terkejut saat mendapati tumpukan harta di dalam cincinnya. Tumpukan harta yang belum pernah dilihatnya sekalipun dalam mimpi terliarnya.
Selain tumpukan harta, terdapat berbagai macam tumpukan senjata dan gulungan serta baju zirah dengan berbagai macam ukuran dan model.
Tang Hao memandang semua itu dengan perasaan melonjak kegirangan dan mata berbinar-binar.
Setelah melihat tumpukan harta dengan puas, Tang Hao segera keluar dari dimensi Cincin Semesta. Dia dapat merasakan sesuatu yang berbahaya dan mengancam nyawanya dari dimensi lain dalam cincin Semesta.
"Benar seperti kata kakek, bahkan dengan tingkat kakek dulu yang pernah di puncak kekuatan, dia masih terluka hanya dengan aura yang keluar dari 'sesuatu' dalam dimensi cincin semesta. Sepertinya aku membawa sesuatu yang berbahaya. Entah makhluk seperti apa yang tersegel di sana, namun jelas bukan sesuatu yang bisa kutangani. Jika aku bisa bertemu dengan tuan Xiao lagi, aku akan memintanya untuk melihat apa itu. Aku yakin tuan Xiao jauh lebih kuat dari kakek, setidaknya naluriku berkata demikian. Meskipun aku tidak tahu ada hubungan apa aku dengannya, aku bisa merasakan bahwa dia tidak akan pernah mencelakaiku sama sekali." Tang Hao bergumam sendiri tidak jelas. Dia berjalan menuju kamarnya dan mengemasi seluruh barang-barangnya.
Seperti wasiat kakeknya begitu dia telah meninggal, Tang Hao untuk segera pergi ke luar dari Lembah Kematian sambil mencari cara untuk menjadi abadi sesuai keinginan Tang Hao.
Kata Kakek Lian, jika Tang Hao memang ingin menjadi abadi, maka dia harus pergi ke dunia yang lebih tinggi dari dunia yang ditempatinya saat ini. Namun sayangnya Kakek Lian tidak mengatakan di mana dia harus mencari dunia yang lebih tinggi. Meski begitu tidak menyurutkan niat Tang Hao untuk mencari keabadian demi menghindari kematian.
Dengan tekad kuat dan keinginan yang membara, Tang Hao meninggalkan tanah tempatnya selama ini tumbuh dan bermain. Tang Hao pamit ke semua beast yang selalu menemaninya dan menjadi kawan dalam latihannya.
Wushhh...
Tang Hao terbang ke arah matahari tenggelam karena di sanalah kata kakek Lian awalan dari Kerajaan niao ini. Perjalanan Tang Hao untuk pertama kalinya pun dimulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para reader yang budiman, mohon maaf telat up, karena minggu-minggu ini sibuk dengan laporan kantor yang deadline, juga kemaren sibuk persiapan lamaran.
Hehehe Alhamdulillah lamaran ane diterima. Mohon doanya ya semoga lancar sampai hari H dan langgeng selamanya until jannah🙏🙏🙏