
Kakek Lian tiba di tempat Tang Hao dengan perasaan terkejut. Bagaimana tidak, saat ini dia melihat Tang Hao sedang berkultivasi namun aura yang keluar dari tubuhnya tidak beraturan. Meskipun begitu, Kakek Lian dapat merasakan bahwa ada aura kehidupan yang menyelimuti tubuh Tang Hao untuk menjaga kestabilan organ-organ dalam Tang Hao. Kakek Lian tidak mencoba menghentikan Tang Hao dari kultivasinya karena hal demikian dapat mengganggu pencapaian anak itu.
Dengan sabar, kakek Lian menunggu Tang Hao berkultivasi. Sehari dua hari, seminggu dua minggu hingga sebulan. Kakek Lian mulai khawatir dengan keadaan Tang Hao yang tidak usai dari Kultivasinya. Dua bulan telah terlewati namun masih belum ada tanda-tanda Tang Hao menyudahi kultivasi.
Meskipun Kakek Lian tidak mendapati Tang Hao sedang mengumpulkan energi qi, namun kakek Lian tahu bahwa anak di depannya sedang dalam pemahaman sesuatu atau biasa disebut sebagai pencerahan. Dua bulan terlewati, kakek Lian mulai merasakan aura pedang yang keluar dari tubuh Tang Hao. Meskipun masih samar, aura pedang yang dirasakan kakek Lian cukup hebat.
"Apa anak ini ditakdirkan menjadi kultivator pedang? Aku memang menduga akan hal itu karena tato pedang sembilan warna di dadanya, tapi aku benar-benar tidak menduga bahwa di umur yang baru menginjak lima tahun ini, dia sudah mendapat pencerahan tentang pedang hingga menimbulkan aura samar-samar."
Waktu kembali berjalan seperti biasa. Kakek Lian hanya sesekali saja kembali ke Lembah Neraka untuk mengambil bahan-bahan kebutuhan sehari-hari.
Setahun berlalu dengan cepat, kakek Lian bahkan telah membangun sebuah tenda tak jauh dari tempat Tang Hao berkultivasi. Selama setahun itu, kakek Lian terus mengamati perkembangan Tang Hao. Semakin lama, aura pedang yang keluar dari tubuh Tang Hao semakin terasa. Bahkan Tang Hao dapat melihat bahwa aura pedang itu telah terkondensasi menjadi cahaya tipis berwarna emas yang mengelilingi Tang Hao.
Jika dilihat secara kasat mata memang tidak tampak, tapi kakek Lian menggunakan tekhnik penglihatan khusus untuk dapat melihat aura pedang yang mengelilingi tubuh Tang Hao.
Bukan hanya itu yang membuat Kakek Lian takjub dan bingung, selama setahun ini Tang Hao sama sekali tidak mendapat asupan makanan atau gizi. Tapi tidak ada tanda-tanda dia kekurangan gizi atau pangan di usianya yang memang masih membutuhkan panganan. Bahkan selama setahun ini Tang Hao hanya berdiam dan duduk posisi lotus, tapi pertumbuhan Tang Hao tidak berhenti sama sekali. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dan badanya lebih besar dari tahun sebelumnya.
"Apa mungkin karena aura kehidupan yang menyelimuti tubuh Tang Hao?" Gumam Kakek Lian mengelus dagunya ketika memikirkan kejadian tak lazim pada Tang Hao.
Tidak sampai di situ, hal yang paling tidak di sangka Kakek Lian adalah kenaikan tingkat Tang Hao yang awalanya berada di ranah Warrior bintang lima atau tingkat Pendekar Kayu tahap menengah, kini melonjak ke ranah Elite bintang satu atau tingkat Pendekar Besi tahap awal. Meskipun hanya naik satu tingkat, tapi hal itu merupakan pencapaian yang luar biasa mengingat usianya yang sekarang, yang seharusnya belum usia untuk berkultivasi.
Dan anehnya, setiap kotoran yang keluar dari tubuh Tang Hao akan menghilang dengan sendirinya, lenyap entah kemana.
Tak terasa setahun kembali terlewati. Sudah genap dua tahun Tang Hao bermeditasi tanpa berhenti sama sekali. Awalnya Kakek Lian yang sudah mencapai tingkat kesabaran puncak dan mulai mendekati Tang Hao untuk membangunkan anak itu karena takut terjadi sesuatu yang bisa membahayakannya, namun apa yang dialami kakek Lian menghentikan niatnya itu. Beberapa bulan sebelumnya, kakek Lian hendak menghentikan Tang Hao dan membangunkan anak itu, namun ketika hendak mendekat, tubuh Tang Hao seketika diselimuti aura pedang yang sangat ganas. Aura pedang tersebut berwarna biru dan mengitari seluruh tubuh Tang Hao.
Bahkan pohon yang menjadi tempat bersandar Tang Hao dalam berkultivasi kini telah terpotong-potong tak karuan. Kakek Lian jika tidak segera mundur waktu itu, mungkin dia juga akan terpotong-potong tak bernyawa meskipun orang tua itu memiliki fisik yang sangat kuat.
Aura pedang biru itu semakin lama semakin tebal dan semakin membesar area jangkaunnya. Jika beberapa bulan sebelumnya jangkaunnya hanya sejauh dua meter dan setebal benang jahit, kini jangkauan aura pedang Tang Hao sudah sejauh sepuluh meter dan sudah setebal kain.
"Apa yang sebenarnya sedang dialami oleh anak ini hingga mencapai tingkat seperti ini. Benar-benar luar biasa. Pencapaian seperti ini bahkan belum pernah kutemukan dan kudengar, sekalipun itu di Immortal Realm." Kakek Lian dibuat takjub dengan apa yang telah dicapai Tang Hao, dan mungkin kakek Lian tidak akan percaya jika tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Kakek Lian menggelengkan kepalanya untuk tidak memikirkan lebih lanjut, meskipun dia penasaran dengan identitas cucunya itu. Seorang bayi yang dikirim oleh petir emas lima tahun lalu kini sedang berlatih di depannya dan pastinya dia akan menjadi sosok yang hebat di masa depan. Kehadirannya mungkin bisa membawa kedamaian bagi makhluk Three Realm. Realm Fana, Realm Dewa, dan Under Realm.
"Semoga anak ini bisa menjadi Kaisar Surga yang bijaksana kelak." Gumam kakek Lian penuh harap. Orang tua itu jelas mempunyai harapan besar terhadap Tang Hao, terlebih dia mempunyai kecerdasan yang luar biasa.
"Tapi dunia ini begitu besar dan perjalanannya masih sangat panjang. Ada jutaan orang kuat yang berkeliaran di mana-mana, dan jika mereka mendengar kabar Tang Hao, anak ini jelas dalam bahaya. Aku harus mendidiknya dengan keras dari sebelumnya dan mungkin aku mengizinkannya keluar jika dia benar-benar telah matang." Gumam Kakek Lian yang mulai memetakan hidup Tang Hao ke depannya dan bagaimana langkah selanjutnya yang harus diambilnya.
"Mungkin aku memang tidak memiliki hubungan darah dengannya, namun sebagai orang yang telah merawatnya sejak kecil, tidak akan kubiarkan dia dalam bahaya sedikitpun. Kurasa akan kuceritakan suatu hari tentang ini jika dia sudah siap dan juga umurku sepertinya sudah tidak lama lagi." Kakek Lian memandangi langit sambil tersenyum.
Memandang langit, mengingat masa lalunya yang kelam dan berakhir menyedihkan di tempat terpencil ini. Namun karena itu dia juga bersyukur karena bisa bertemu dengan Tang Hao.
"Contohnya anak di depanku ini, akibat sebuah kekuatan yang entah datang dari mana, mengakibatkan anak ini berada di tempat terpencil yang tidak layak untuknya. Dan aku berharap, dengan sebab aku melatihnya, dirinya menjadi sebab kebahagiaan bagi seluruh semesta." Kakek Lian tersenyum simpul dengan pemikiran yang jauh menerawang ke depan. Meskipun semesta telah menghianati kakek Lian, namun orang tua itu tetap mengharapkan yang terbaik untuk semesta. Ini membuktikan bahwa dirinya pantas menduduki puncak kekuatan menyandang gelar Dewa Terkuat alias Kaisar Immortal.
Kakek Lian melambaikan tangannya, muncul portal di depannya lalu dia memasuki portal itu untuk membersihkan dirinya. Sudah beberapa minggu kakek Lian tidak kembali Ke Lembah Kematian.
Dia juga telah mencari mencari sumber air di domain ini namun dia tidak menemukan apapun selain padang rumput yang membentang dengan luas, sangking luasnya kakek Lian mengitari tempat ini dari udara berbulan-bulan lamanya namun tidak menemukan ujungnya maupun setetes air.
Kakek Lian sendiri merasa bingung dengan hawa domain ini, tidak panas tidak juga dingin meskipun siang malam beredar seperti biasa. Kakek Lian telah terbang ke empat sisi mata angin di domain ini namun tidak satupun dari ke empat sisi yang menunjukkan ujungnya, bahkan tanda-tanda kehidupan pun tidak ditemukannya satupun. Sekalipun itu hewan kecil seperti semut.
Kakek Lian sempat ragu dengan domain ini, apakah ilusi seorang Immortal Hebat yang ditinggalkannya, namun dia menepisnya karena energi qi yang menyelimuti domain ini dapat disamakan dengan yang ada di Immortal Realm tingkat bawah.
Tidak lama berselang, kakek Lian kembali memasuki domain di mana Tang Hao masih berkultivasi dengan tenang. Nafasnya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Serta energi qi yang diserapnya setiap hari semakin lebih banyak namun tidak ada tanda-tanda bahwa anak itu akan menerobos.
Sudah dua tahun Tang Hao berada di ranah Elite bintang satu atau tingkat Pendekar Perak tahap awal. Hal ini menunjukan bahwa Tang Hao sudah empat tahun lebih berkultivasi tanpa berhenti sedikitpun. Kini aura pedang yang dikeluarkan Tang Hao dari tubuhnya terlihat lebih tenang namun semakin tebal dan semakin mengerikan. Jangkaunnya juga sudah sejauh lima puluh meter, Kakek Lian tidak berani mendekati Tang Hao dalam jarak segitu. Dia memandang Tang Hao dari jauh sambil tersenyum kecut.
"Sepertinya aku telah membesarkan seorang monster." Gumam kakek Lian.
"Hanya dengan aura pedangnya saja, anak ini bisa membunuh seseorang yang berada di ranah Master ke bawah meskipun kultivasinya hanya berada di Ranah Elite." Kakek Lian kembali memperhatikan Tang Hao berkultivasi. Sebenarnya dia mencoba melihat metode kultivasi apa yang digunakan Tang Hao, namun kakek itu tidak mengetahuinya sama sekali.
"Dari mana dia mendapat metode kultivasi semengerikan ini? Apa mungkin dia mengembangkan dari manual-manual kultivasi milikku? Tapi meski begitu tentunya aku dapat mengenali walau sedikit, tapi ini... Bahkan level tertinggi manual milikku tidak bisa dibandingkan meski secuil." Kakek Lian mengelus dagunya.
"Hahh.. Sepertinya aku memang sudah terlalu tua dan terlalu lama terjebak di Lembah Kematian hingga tidak mengetahui bagaimana keadaan realm tingkat atas sekarang ini." Kakek Lian memijat kening keriputnya sambil menggelengkan kepalanya menghilangkan pusingnya karena terlalu banyak yang dipikirkannya akhir-akhir ini.
Enam bulan kembali berjalan dengan cepat, dan kini genap lima tahun Tang Hao berkultivasi tanpa berhenti sama sekali. Kultivasinya cuman meningkat satu bintang saja. Peningkatan yang sangat lambat, namun hal itu sudah sangat memuaskan bagi kakek Lian.
Bagaimana tidak, seorang bocah berumur sepuluh tahun telah berada di tingkat Pendekar perak tahap awal, namun kekuatan tempur yang diliki Tang Hao mampu membunuh dengan mudah seseorang di tingkat Pendekar Emas Puncak ke bawah atau ranah Master bintang delapan ke bawah.
Kakek Lian memperhatikan dengan seksama bahwa beberapa hari terakhir ini aura pedang ganas yang menyelimuti Tang Hao semakin menipis dan menghilang seperti tersedot ke dalam tubuh Tang Hao.
Kakek Lian mencoba mendekati Tang Hao dengan hati dan persiagaan penuh karena takut jika tiba-tiba aura pedang kembali keluar dari tubuh Tang Hao.
Kakek Lian mendekatkan wajahnya ke wajah Tang Hao untuk menelisik keadaan cucunya itu namun alangkah terkejutnya kakek Lian saat tiba-tiba Tang Hao membuka matanya, hal itu juga membuat Tang Hao terkejut hingga membuat tubuhnya jatuh ke tanah tidak lagi mempunyai senderan di belakangnya.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai readers yang budiman, maaf baru up hari ini karena beberapa hari lalu sibuk mengejar deadline kantor. Jadi mohon pengertiannya ya....