
Tang Hao terbang dengan tenang tanpa memikirkan masalah yang ditinggalkannya di Sekte Merak Biru.
Dua hari telah berlalu sejak penyerangan Aliran Hitam ke Sekte Merak Biru. Penyerangan itu dilakukan oleh dua ribu tiga ratus orang. Dan baru saja hari ini Sekte Merak Biru menguburkan seluruh pasukan Aliran Hitam yang mati tanpa kepala.
Dua hari berturut-turut tanpa istirahat seluruh anggota sekte Merak Biru menguburkan anggota mereka dengan pemakaman yang layak maupun menguburkan seluruh pendekar aliran hitam hanya dalam beberapa lubang kuburan saja.
Kematian dua ribu tiga ratus pendekar aliran hitam terdengar ke seluruh penjuru dunia pesilatan. Kegemparan terjadi di mana-mana, pasalanya aliran hitam yang menyerang itu merupakan salah satu sekte besar aliran hitam yang terkenal, Sekte Penjara Setan.
Berbagai macam spekulasi dan anilisis ramai diperbincangkan, bahkan orang awam pun turut memperbincangkannya.
Hanya ada beberapa orang yang melihat adanya empat pedang terbang yang mampu membinasakan dua ribu lebih pasukan aliran hitam dalam beberapa saat saja. Namun informasi empat pedang terbang itu segera menyebar dengan cepat. Bahkan Sekte Penjara Setan segera menutup rapat sekte mereka dan menarik anggota mereka yang masih berada di luar.
Seluruh dunia pesilatan tahu bahwa Sekte Merak Biru dahulu kala pernah menjadi sekte nomor satu di dunia pesilatan Benua Timur dari awal kemunculannya. Itu karena pendirinya adalah jagoan dunia pesiltan dan merupakan murid terakhir Kultivator kuno.
Pendiri dunia pesilatan mampu menjadi jagoan nomor satu karena empat pedang terbangnya yang melegenda. Empat pedang terbang milik pendiri Merak Biru sampai terdengar hingga benua lainnya. Dikatakan bahwa ada beberapa pendekar dari benua lainnya yang berhasil menyeberang dan memasuki Benua Timur hanya untuk mengajak bertarung pendiri Sekte Merak Biru.
Terjadi pertarungan dahsyat antara para pendekar tingkat puncak kala itu, sehingga menghancurkan beberapa gunung dan kota serta kerajaan. Bahkan kehancuran itu juga mengenai Sekte Merak Biru yang didirikannya.
Pertarungan itu terjadi dalam beberapa hari dan Sang Pendiri sekte Merak Biru menghilang begitu saja. Yang ditemukan hanyalah mayat beberapa pendekar dari benua lainnya yang dipenuhi dengan luka pedang. Tidak ada satupun petunjuk mengenai kemana menghilangnya jagoan nomor satu itu, namun diyakini dia masih hidup karena tidak ditemukan mayatnya. Tidak ada yang tersisa dari peninggalan Sang Jagoan selain dari puing-puing sektenya serta beberapa orang yang masih selamat dari reruntuhan itu.
Setelah puluhan tahun berlalu, terdengar bahwa Sekte Merak Biru bangkit kembali, namun tidak seperti sebelumnya kekuatan ketua sektenya hanya berada pada tingkat Pendekar Berlian tidak seperti pendiri sebelumnya telah melampaui tingkat Pendekar Roh.
Dan kini berita kemunculan empat pedang terbang di Sekte Merak Biru membuat dunia pesilatan kembali gempar, bahkan tidak kalah gemparnya dari kemunculan Makam Kultivator Kuno di Kekaisaran Zhou.
Dan hampir seluruh Pendekar Dunia Pesilatan membicangkan mengenai tiga hal ini, mengaitkan fenomena kemunculan Empat Pedang Terbang, Sang Pendiri Sekte Merak Biru serta Makam Kultivator Kuno. Banyak spekulasi beredar sehingga membuat orang-orang dunia pesilatan semakin yakin bahwa sang Jagoan nomor satu pada masanya, masih hidup dan hendak mengambil kembali warisan Gurunya yang memang seharusnya menjadi miliknya.
Meskipun Sekte Penjara Setan kehilangan seperempat anggotanya, namun berkat itu perperangan yang terjadi antara pendekar aliran hitam dan aliran putih terhenti dengan sendirinya.
Kini masing-masing dari mereka secara perlahan mulai menarik diri dan mulai menjauh dari wilayah Kekaisaran Zhou. Meskipun begitu, hanya Sekte Besar aliran hitam dan putih yang masih berada di sana namun tidak ada peperangan yang terjadi. Mereka masih menanti terbukanya Makam Kultivator Kuno, dan Tidak hanya itu, bahkan Tiga Sekte Super tidak menarik diri meskipun tidak mengikuti pertarungan itu.
Sementara Kekaisaran Zhou yang menjadi tempat munculnya Makam Kuno sedikit merasa bersyukur sekaligus was-was. Bersyukur tidak ada pertarungan di wilayah Kekaisaran Zhou itu karena peraturan yang ditetapkan Kaisar Zhou bahwa barang siapa saja yang hendak memasuki wilayah Kekaisaran Zhou, maka tidak diperbolehkan menumpahkan darah, jika tidak mereka akan mendapat kutukan, perjanjian itu ditandai dengan darah setiap orang yang masuk wilayah Kekaisaran Zhou. Bahkan pendekar aliran hitam pun tidak berani macam-macam karena peraturan itu sendiri disetujui oleh Tiga Sekte Super untuk tetap melestarikan Kekaisaran Zhou dan menghormati mereka yang juga merupakan salah satu Ikon Benua Timur.
Sementara itu Tang Hao yang melanjutkan perjalanannya berhenti di sebuah desa kecil setelah dua hari terbang tanpa henti.
Dia berhenti karena kelelahan dan untuk meluruskan punggungnya yang kaku serta mengisi perutnya yang mulai lapar.
Tang Hao sebenarnya bisa saja memakan buah-buahan dari kakeknya, namun dia lebih memilih makan dengan sesuatu yang lainnya. Lidahnya lebih memilih daging yang dibumbui daripada buah-buahan dengan rasa yang sama. Bukan hanya itu, turun hujan yang lumayan deras hingga membuat Tang Hao mencari penginapan dan hanya menemukan desa kecil dari kejauhan.
Tang Berhenti di dekat desa itu lalu memasukinya dengan terburu karena hujan yang mulai deras.
Tang Hao melihat sekitaran dan hanya menemukan rumah-rumah kecil dengan jarak yang lumayan jauh antar rumah. Tang Hao juga menemukan sebuah gardu dengan atap daun rumbia.
Tang Hao berteduh di bawah gardu sambil memperhatikan desa dengan kesadaran spritualnya. Kesadaran Spiritual Tang Hao menyelimuti seluruh area desa yang ditempatinya, memang desanya yang kecil hingga Tang Hao mampu mengetahui jumlah rumah yang terdapat di desa ini yang bernama Desa Anyur.
Tang Hao yang merasa bosan duduk diam di gardu hanya menunggu hujan reda, dia mengeluarkan alat-alat memasaknya serta daging hewan yang didapatnya saat perjalanan.
Sebelum jauh meninggalkan Sekte Merak Biru, Tang Hao sempat berhenti di hutan terdekat berburu hewan-hewan liar dan dijadikannya makanan. Tanpa sengaja Tang Hao memburu banya hewan sehingga stok dagingnya lebih banyak.
Tang Hao mulai meracik bumbu-bumbu seperti yang diajarkan kakek Lian. Ini bukan hal pertama baginya, sehingga Tang Hao lebih cakap dalam meracik bumbu. Selesai meracik bumbu, Tang Hao memotong-motong daging menjadi kotak-kotak dadu kecil lalu mencucinya sampai bersih.
Tang Hao menyalakan api lalu meletakkan penggorengan di atas api kemudian menuangkan minyak goreng di atas penggorengan. Setalah di rasa panas, Tang Hao memasukkan bumbu yang telah diraciknya dan menambahkan sedikit penyedap rasa sesuai seleranya.
Setelah bumbu tercampur dan wangi harum menyebar, Tang Hao menuangkan daging potongannya ke dalam wajan.
Cesss...
Tang Hao mengaduk-aduk daging gorengannya sampai coklat dan terlihat empuk. Aroma masakan semerbak menyebar di Desa Anyur, menembus derasnya hujan, menyapa setiap rumah-rumah penduduk, memberitahu rasa lapar mereka bahwa ada makanan lezat di balik hujan yang deras.
Beberapa penduduk yang tidak tahan dengan kelaparan, nekat menembus hujan dan mencari sumber aroma lezat yang membuat mereka tidak mampu menahan lapar. Tidak sulit menemukannya karena kecilnya desa dan dipandu dengan aroma lezat.
Dengan segera para penduduk itu mendekati gardu tempat biasanya musyawarah desa diadakan. Di sana telah terdapat seorang pemuda tampan sedang makan dengan lahap dan di depannya terdapat wajan besar yang dipenuhi daging dengan aroma lezat, para penduduk yang melihat itu tidak sengaja meneteskan air liurnya.
"Permisi anak muda, apakah anda yang membuat ini?" Sapa seorang ibu-ibu yang terlihat kurus. Dia menyapa dengan takut-takut.
Tang Hao menghentikan makannya saat disapa dan melihat ke arah beberapa orang yang sedang menatapnya dengan melas.
Tang Hao sedikit terguncang melihat orang-orang yang mendatanginya hampir tidak memiliki daging, tubuh mereka kurus kering karena berhari-hari tidak merasakan lapar sama sekali.
"Silahkan naik ibu-ibu, adik-adik tidak perlu takut. Makanan ini memang milik saya dan akan saya berikan kepada kalian." Jawab Tang Hao tanpa berbasa basi lagi. Dia tidak tega melihat ibu-ibu bahkan ada juga anak kecil yang kedinginan.
Orang-orang itu terlihat gembira, mereka segera naik ke gardu tanpa mempedulikan pakaian mereka yang basah kuyup. Setidaknya mereka mendapat makanan untuk mengganjal perut mereka yang kelaparan.
Tanpa basa basi, Tang Hao meminta menyerahkan mangkok-mangkok yang dibawa ibu-ibu itu dan mengisinya dengan daging hingga penuh.
"Untuk saat ini, lebih baik ibu-ibu makan di sini aja dulu sampai kenyang. Tidak usah takut membawa pulang, karena akan saya berikan lagi jika habis." Ucap Tang Hao sambil mengerahkan mangkok mereka.
Para penduduk ini terlihat menangis sambil memakan daging pemberian Tang Hao. Mereka makan dengan lahap tanpa memikirkan apakah makanan aman bagi mereka atau tidak, para penduduk ini juga tidak curiga kepada Tang Hao yang orang asing bagi mereka.
Tang Hao hanya diam melihat penduduk di depannya ini makan dengan lahap sambil menangis. Tang Hao tidak tahu seberapa lapar mereka sehingga tidak peduli dengan makanan yang mereka makan apakah aman bagi mereka atau tidak. Namun melihat mereka makan dengan lahap, ada sesuatu yang dirasakan Tang Hao, sesuatu seperti empati, simpati dan rasa puas serta bahagia dapat berbagi dengan orang-orang yang memang membutuhkan. Meskipun penasaran, Tang Hao tidak langsung bertanya apa yang terjadi dengan desa ini hingga penduduknya kelaparan seperti ini, dia menunggu hingga mereka selesai makan dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...