The Legend Of Fighter

The Legend Of Fighter
CH 21. Pedang Horor



Wuushh..


Akhhh..


Tang Hao kembali melemparkan dua pedang yang baru dikeluarkannya dan melesat dengan cepat ke arah pendekar aliran hitam yang mulai menjauh dari Sekte Merak Biru. Sehingga kini teror pedang terbang semakin mengerikan dan bertambah banyak.


Kebanyakan mereka dari aliran hitam menyerah berlutut di tanah membuang pedangnya dan mengangkat tangan, namun tidak satupun dari mereka yang selamat. Tetap saja kepala mereka terlepas dari tubuh.


Bahkan Pendekar Raja sudah bertekuk lutut di tanah tidak berani mengangkat kepala. Pedangnya telah hancur berkeping-keping saat mencoba melawan pedang terbang di depannya. Hanya dengan sekali ayunan pedang terbang, pedang pusaka yang dibanggakannya hancur berkeping membuat dadanya sengklak dan takut. Dia bahkan tidak peduli lagi anggota yang dibawanya hanya tersisa puluhan orang


Awalnya mereka berpikir bahwa yang menyerang mereka adalah luluhur Sekte Merak Biru dan merupakan pendekar aliran putih yang umumnya tidak membunuh musuh yang menyerah, namun sayangnya sangkaan mereka salah besar, mereka justru berhadapan dengan seseorang yang membenci kejahatan, penindasan dan bahkan penghianatan.


Pendekar aliran hitam lain yang melihat teman mereka yang menyerah pun tetap mati tanpa ampun, terlihat putus asa dan tidak ada cara lain selain dari membunuh diri mereka sendiri agar kepala mereka tetap utuh di badannya.


Setidaknya mereka mati di tangan sendiri dari pada mati dengan pedang yang melayang sendiri dan tidak tahu siapa pemiliknya. Justru mereka hanya hanya akan mati dan menjadi arwah penasaran sehingga kematian mereka tidak tenang.


Tang Hao tidak ambil pusing dengan sebagian pendekar aliran hitam yang lebih memilih bunuh diri, keempat pedangnya masih memburu sisa-sisa pendekar aliran hitam yang berlarian tak tentu arah. Tang Hao sendiri melayang dengan tenang di balik awan sambil memperhatikan keadaan di dalam sekte.


Sementara itu di dalam sekte, ketua Sekte Merak Biru mulai mendapat luka-luka karena dikeroyok dua orang Pendekar Kristal dan empat orang Pendekar Emas. Meskipun Ketua Sekte mampu mrmbunuh empat Pendekar Emas, namun luka-luka yang didapatnya juga tidak sedikit.


Sementara itu para tetua sekte lainnya masih sibuk dengan lawan mereka masing-masing. Namun mereka masih cukup menyadari keadaan sekitar sekte yang tidak sericuh sebelumnya.


Setelah mengalahkan musuh masing-masing, para terua sekte itu segera menolong Ketua mereka yang kewalahan. Kini kesepuluh tetua sekte ikut bertarung melawan dua Pendekar Kristal, arus pertempuran segera berubah. Dibantu ketua Sekte, sepuluh tetua sekte itu mampu menekan dua Pendekar Kristal dan mulai memberi luka-luka yang tidak sedekit.


Pertarungan kembali berlangsung dengat sengit, tanpa memberikan jeda istirahat kepada lawan mereka, ketua sekte dan para tetuanya berhasil membunuh Pendekar Kristal tingkat menengah serta menyisakan Pendekar Kristal tingkat akhir yang terluka, dia sudah menyerah dan membuang pedangnya saat mengetahui kawannya telah mati.


"Aku menyerah" Ucap Pendekar Kristal itu mengangkat tangan.


"Katakan, siapa yang menyuruh kalian datang ke sini?" Tanya ketua sekte dengan marah. Meskipun dia terluka tapi tidak parah dan masih bisa disembuhkan dengan mudah hanya menggunakan tenaga dalam.


"Hahaha kami aliran hitam tidak harus menunggu perintah untuk menguasai satu sekte, jika kami ingin menguasainya maka pasti akan kami kuasai. Tunggulah kematian kalian hahaha." Pendekar aliran hitam itu bangkit, di tangannya sudah ada tabung kecil berukuran pistol. Tabung itu ditembakannya ke langit.


Wunggg


Duaarr..


Cahaya merah meledak di langit dan membentuk lingkaran cincin. Seketika suasana sekte menjadi senyap.


"Hahaha matilah kalian matilah..." Pendekar Berlian itu tertawa terbahak-bahak. Sementara Ketua sekte dan para anggotanya sedikit menjauh dari pendekar itu, mereka terlihat waspada dan menghunuskan pedangnya sambil melihat sekitar mereka.


Setelah beberapa saat berlalu, tidak terjadi apapun hanya suara tangisan dan erangan yang terdengar sekitar mereka. Ketua Sekte dan tetuanya baru menyadari pertempuran telah berakhir hanya menyisakan para anggota sektenya yang menangis dan sebagian dari mereka ada yang mengusung jasad.


Ketua sekte memandang pendekar aliran yang awalnya tertawa senang kini berkeringat dingin. Bantuan yang diharap-harapkanya tidak segera datang bahkan tidak ada suara-suara kerusuhan dari luar sekte. Pria itu segera berlutut ketakutan saat mengetahui ada sesuatu yang salah dengan bala bantuan yang diharapkannya.


Dia tidak tahu apa yang terjadi di luar, tapi yang jelas bala bantuan yang diharapkannya dalam masalah, bahkan bisa jadi nyawa mereka telah melayang. Dia tidak bisa berpikir lebih jauh tentang bantuannya melainkan bagaimana cara dia menyelamatkan nyawanya saat ini. Sekalipum dia harus bersujud dan merendahkan harga dirinya yang penting nyawanya selamat.


Ketua sekte berjalan mendekati pria yang berlutut ketakutan. Aura pembunuh merembes keluar dari tubuh ketua sekte membuat pria di depannya itu semakin ketakutan.


"Ketua Yan kumohon jangan membunuhku, aku melakukan semua ini karena dipaksa aliran hitam dan mereka mengancam keluargaku." Pria itu memeluk kaki Ketua Yan dan menangis di sana.


"Aku mungkin bisa memaafkanmu, tapi hukuman tetap harus kau lakukan dan kopensasi atas seluruh kerusakan yang telah kalian lakukan." Ucap Ketua Yan sambil menghela nafas.


Mendengar keputusan ketua Yan, pria aliran hitam tersenyum sinis dalam tangisnya. Dia tertawa dalam hati, menertawakan kenaifan para pendekar aliran putih yang sering kali dimanfaatkan oleh aliran hitam.


Namun sebelum pria aliran hitam itu bernafas lega, empat bilah pedang melayang dari atas dengan kecepatan tinggi dan menancap di kepala, dan punggungnya membuatnya mati seketika.


Ketua sekte tidak sempat bereaksi dengan kecepatan empat pedang yang datang, bahkan dia tidak melihat arah datangnya empat pedang dan tiba-tiba saja sudah menancap di tubuh pendekar aliran hitam di depannya ini. Darah muncrat ke mana-mana.


Sebelum breaksi dengan kejadian di depannya, ketua Yan kembali terkejut saat ke empat pedang yang menancap di tubuh pendekar aliran hitam hingga menembus tanah, perlahan melayang dan bergerak ke empat penjuru sehingga membuat ketua Yan tidak dapat menebak dari arah mana datangnya pedang terbang itu.


Empat pedang itu sendiri melayang ke arah orang-orang aliran hitam yang masih mencoba melarikan diri setelah tidak ada lagi pedang yang menyerang mereka, namun kini dengan kecepatan yang tidak dapat mereka lihat, pedang-pedang horor itu menebas leher mereka tanpa ampun.


Para pendekar aliran putih yang melihat pendekar aliran hitam dibunuh tanpa ampun ikut ketakutan. Beberapa kali pedang terbang Tang Hao melintas di atas kepala mereka seketika keringat dingin mengucur dengan deras.


Para pendekar aliran putih bisa menarik nafas lega saat mengetahui pedang-pedang itu hanya menebas pendekar aliran hitam. Meskipun begitu, setiap pedang melintasi di atas kepala, mereka tetap bergidik ngeri. Pendekar aliran hitam menamai empat pedang itu dengan nama Pedang Horor


Bukan itu saja hal yang membuat mereka ketakutan, namun melihat jumlah mayat tanpa kepala yang berserakan begitu saja, serta darah-darah yang menggenang, membuat perut siapa pun merasa ingin memuntahkan sesuatu. Para pendekar aliran putih segera berlarian ke dalam sekte karena tidak kuat dengan pemandangan di luar sekte.


Mereka harus memberi tahu Sekte untuk membersekan semua ini dan meninta penjelasan tentang pedang terbang yang mereka yakini adalah milik leluhur Sekte Merak Biru.


Sementara Tang Hao sendiri bernafas cukup lega setelah berhasil membunuh dua ribu orang aliran hitam hanya dalam bebera saat saja. Tang Hao tampak bangga melihat orang-orang liran hitam telah mati tanpa kepala.


Keempat pedang Tang Hao kembali masuk ke dalam tubuhnya melalui tato pedang yang ada di dadanya. Tang Hao mulai memahami tato pedang yang ada di dadanya bukan sekadar tanda lahir, melainkan sesuatu yang sangat dahsyat.


Tang Hao sendiri baru bisa mengeluarkan empat pedang dari tubuhnya, itupun memerlukan usaha yang tidak sedikit dan hampir saja membuat Tang Hao tidak sadarkan diri.


Setelah melihat-lihat suasana sekitaran sekte yang mulai kondusif, Tang Hao bergegas pergi dari sana padahal seluruh orang di sekte sedang mencari dan memangil namanya dengan sebutan "Tuan misterius"


Satu hal yang ada dibenaknya saat ini yaitu tidak ingin bertanggung jawab dengan masalah yang telah disebabkannya. Tang Hao kabur dengan kecepatan tinggi sementara orang-orang sebagian mengumpatnya dan sebagian berterima kasih padanya.


Tang Hao melanjutkan perjalanannya dengan tenang saat merasa sudah cukup jauh dari Sekte Merah Biru.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...






Empat pedang Tang Hao.


SC : PINTEREST