
Bumi Saat Ini.
Di bawah guyuran hujan deras pada malam hari, diiringi petir dan kilat yang menggelegar, membuat suasana semakin suram dan gulita meskipun pencahayaan sekitar diterangi dengan lampu jalanan.
Seorang remaja berjalan gontai dengan wajah berantakan. Lebam wajah dan bilur biru di sekujur tubuhnya tidak dihiraukannya. Entah mungkin dia sudah terbiasa atau dia sudah tidak peduli dengan nasibnya yang sekarang.
Remaja itu terlihat sesekali tertawa, sesekali menangis. Tidak, dia tertawa ketika menangis dan menangis ketika tertawa. Dan kadang terdengar sumpah serapahnya yang ditujukannya kepada langit yang sedang mengguyurnya dengan hujan. Kadang juga petir di langit menanggapi serapah yang dilontarkan remaja itu dengan mengirim kilat yang menyambar dengan keras hingga membuat remaja itu terkejut bukan main.
Dia tidak peduli dengan suasana sekitarnya yang tidak ada orang berlalu lalang sama sekali bahkan kendaraan yang biasanya ramai melewati jalanan yang dilewatinya pun, saat ini tidak terlihat sama sekali, bahkan sekedar suara kendaraanpun tidak terdengar.
Hanya terdengar sayup-sayup suara dari sekitaran televisi toko di setiap sisi jalanan yang memberitakan cuaca malam ini sedang sangat ekstrem dan dihimbau agar tidak melakukan aktivitas di luar rumah.
Sementara itu dari arah berlawanan, sebuah truk melaju dengan kencang dan dalam kecepatan maksimum. Truk itu dikendarai oleh seorang lelaki tua yang terlihat tengah mabuk, wajahnya merah dan kepalanya yang pusing sesekali dipukulnya dengan tangan kirinya.
Truk itu melaju membelah jalan raya yang sepi kendaraan dan tanpa disadari oleh lelaki tua, truknya mengarah ke pada seorang laki-laki remaja kurus yang sedang menyebrang.
Lelaki remaja kurus yang dibajunya ada name tag bertuliskan Tang Hao itu, begitu terkejut saat melihat truk tengah mengarah padanya. Lampu truk yang cerah menyilaukan pandangannya dan dengan kedua tangannya menutupi wajahnya, Tang Hao tidak sempat menghindar dari laju truk itu.
BRUUKKK....
Tubuh kurus Tang Hao terpental ke atas. Mulutnya telah dipenuhi dengan darah membuat dia tidak sempat untuk berteriak meskipun dia merasa seluruh tulang di tubuhnya seolah remuk dan patah-patah.
Dengan cepat kesadaran Tang Hao semakin menipis, di tengah kesadarannya yang akan hilang, muncul pertanyaan di kedua benaknya yang selama ini menggelayut di pikirannya, "siapa orang tuaku? Kenapa mereka tega meninggalkanku di tengah dunia yang keras ini?"
Terlintas juga di benak Tang Hou tetangganya seorang wanita paruh baya yang telah merawatnya selama ini seperti anaknya sendiri. Wanita paruh baya itu juga tinggal seorang diri sudah sejak lama. Bahkan sejak Tang Hao ingat dengan kehidupannya.
"Maafkan Tang Hao bibi Yang, tidak bisa membalas kebaikanmu selama ini." Batin Tang Hao diiringi kesadarannya yang menghilang.
CTAAAAARRR....
Tanpa disadari Tang Hao, sebelum tubuhnya jatuh dan menghantam tanah, sebuah petir emas telah menyambar tubuhnya dengan tanpa ampun. Petir emas itu sangat besar dan keras. Akibat petir emas itu, seluruh dunia seketika bergetar hebat seperti gempa berskala tinggi namun tidak sampai membuat bencana besar.
Petir emas tidak menyisakan apapun selain bau gosong yang menyengat serta bau anyir darah yang terbakar. Menghilangnya petir emas diikuti kondisi alam yang hujan semakin mereda dan perlahan kembali terang seolah tidak ada tanda-tanda hujan sama sekali.
Sementara itu lelaki tua pemilik truk yang menabrak Tang Hao, turun dari mobilnya dengan wajah datar. Tidak lagi terlihat wajahnya yang mabuk. Matanya seakan hendak keluar saat melihat bagian depan truknya yang terlihat hancur remuk seakan menabrak baja keras.
"Tubuh tuan muda jauh lebih keras dari yang kuduga." Gumam lelaki tua itu sambil memukul keras mobilnya namun tidak terjadi reaksi apapun, padahal tinjunya itu mampu menghancurkan planet bumi menjadi debu.
Wusshhh...
Seorang wanita paruh baya entah datang dari mana tiba-tiba telah berdiri di samping laki-laki tua pemilik truk. Laki-laki tua pemilik truk tidak tampak terkejut dengan kehadira wanita paruh baya di sampingnya.
"Tubuh tuan muda telah disegel tuan besar sejak lahir dengan segel yang sangat mengerikan dan hanya satu-satunya tuan besar yang memahami segel tersebut." Ucap wanita paruh baya itu yang disambut anggukan kepala oleh laki-laki tua di sampingnya.
"Peran kita berakhir di sini untuk saat ini. Apa rencanamu setelah ini?" Tanya lelaki tua sambil memandangi wanita paruh baya di sampingnya.
"Dunia ini tidak terlalu buruk gege, aku ingin berada di sini untuk beberapa waktu sambil menunggu rencana dari tuan besar." Jawab wanita paruh baya sambil mengayunkan tangannya ke depan.
Wusshh..
Penampilannya berubah 180 derajat dan menjadi seorang gadis jelita dengan kecantikan tiada tara. Pria tua di sampingnya mengangguk juga merubah penampilannya menjadi seorang pemuda tampan tiada duanya. Truk miliknya juga telah hilang.
Kedua pasangan itu berjalan perlahan di pinggir jalan yang sepi sambil bergandengan tangan di bawah langit yang bertabur bintang.
BENUA DARATAN TIMUR SAAT INI
Benua Daratan Timur adalah benua yang cukup luas terdiri dari Lima Dinasti, ratusan Kerajaan dan Negara serta ratusan sekte mulai dari sekte kecil, menengah hingga sekte besar.
Benua Daratan Timur dipenuhi oleh para pendekar yang setiap hari mempertaruhkan nyawa dan harga diri mereka. Meskipun dunia pesilatan Benua Daratan Timur tampak terlihat damai dari luar, namun sering meletus perang antara aliran putih dan aliran hitam.
Lembah Kematian salah satu tempat yang terletak di Kerajaan Niao yang merupakan Kerajaan kecil terletak paling utara Benua Daratan Timur. Dikatakan Lembah Kematian karena pada zaman kuno diceritakan telah terjadi pertarungan dahsyat antara dua pendekar puncak melawan seekor makhluk immortal yang datang dari dunia lain.
Akibat pertarungan itu, Lembah Neraka dipenuhi dengan awan hitam yang mengeluarkan petir dan kilat menggelegar setiap hari hingga membuat tidak ada satupun orang yang berani mendekati Lembah Kematian. Hanya ada beberap Beast dengan atribut petir yang hidup di Lembah Kematian. Dikatakan Lembah Kematian juga karena pernah dulu ada sebuah sekte raksasa yang mencoba mencari peruntungan di sana. Namun sejak memasuki Lembah Kematian, tidak ada satupun orang-orang dari sekte itu yang kembali termasuk Patriak sekte yang berada di puncak dunia pesilatan Benua Daratan Timur. Sekte tersebut akhirnya hilang ditelan bumi bersama sejarah mereka.
Salah satu hal yang menjadi ketertarikan Lembah Kematian adalah gaya gravitasinya yang begitu luar biasa. Gaya gravitasi Lembah Kematian sampai memengaruhi Kerajaan Niao hingga membuat aktivitas di Kerajaan Niao sedikit kurang lancar dan kebanyakan orang yang tinggal di Kerajaan Niao adalah para pendekar.
Namun terdapat juga hal positifnya yaitu rata-rata murid dari sekte aliran putih mulai dari sekte kecil, menengah hingga sekte besar, banyak mengirimkan muridnya belajar di kerajaan ini selama beberapa tahun karena adanya tekanan gravitasi akan mempercepat latihan para murid-murid sekte sehingga membuat pendapatan penduduk ketempatan lebih baik.
Kerajaan Niao juga menjadi salah satu kerajaan paling aman di benua bintang timur dan kerajaan yang bebas upeti terhadap masyarakat. Selain karena Gravitasinya yang kuat, Kerajaan Niao mendapat perlindungan dari sekte-sekte kecil, menengah hingga sekte besar membuat orang-orang aliran hitam berpikir sepuluh kali jika hendak menguasai Kerajaan ini.
Sementara itu saat ini di Lembah Kematian awan hitam yang menutupi lembah semakin membesar dan bergulung-bergulung. Awan itu menutupi seluruh lembah hingga membuatnya tampak seperti malam gelap gulita. Tidak berhenti sampai di situ, peti-petir yang menyambar juga srmakin keras dan keras hingga terdengar di seluruh penjuru Kerajaan Niao.
Para penduduk yang mendengar suara gemuruh, segera berlarian ke rumah mereka dan menutup pintu-pintu serta jendela meskipun hari masih siang. Hanya para pendekar tingkat tinggi yang berani keluar rumah dan memandang awan hitam yang menutupi Lembah Kematian dari kejauhan.
Meskipun para penduduk sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini yang terjadi setiap satu minggu sekali, namun awan hitam yang menggulung Lembah Kematian terlihat lebih pekat dan lebih mengerikan dari sebelum-sebelumnya serta tekanan gravitasi dua kali lipat dapat dirasakan para penduduk.
Sementara itu kondisi Lembah Kematian terlihat lebih mengerikan. Aura bertekanan sepuluh kali lipat menyelimuti seluruh daerah Lembah Kematian. Para Beast yang sudah berusia ribuan tahun dibuat tidak berkutik dan dengan terpaksa menunduk ke tanah tak dapat bergerak meskipun hanya megedipkan mata.
CTAARRR....
CTAAARR....
Petir-petir dengan ukuran yang tidak normal menyambar-nyambar sekitar hutan Lembah Kematian. Meskipun menyambar dengan keras, petir-petir itu tidak membuat kehancuran tempat sambarannya.
Semakin lama suasana semakin mencekam, awan hitam menggulung lebih besar serta aura ganas yang meledak dari atas dua kali lipat. Petir yang menyambar mulai memberikan dampak kehancuran yang mengerikan membuat kawah-kawah di Lembah Kematian seukuran lapangan bola.
Puncak dari kekcauan Lembah Kematian saat ini adalah sebuah petir emas dengan ukuran yang tak masuk akal, menyambar dengan sangat keras ke sebuah tanah lapang yang tandus. Petir emas itu menyambar sekali, namun aura yang dikeluarkan benar-benar mengerikan. Seluruh Benua Daratan Timur terguncang hebat seakan bencana alam melanda.
Tanah lapang yang awalnya tandus dan gersang, setelah disambar petir emas menjadi kawah raksasa dengan diamater satu kilo serta bau asap yang mengepul.
Setelah petir emas itu menyambar, suasana kembali seperti semula, awan hitam yang menggulung kembali ke keadaannya semula serta petir-petir yang menyambar tidak sedahsyat tadi.
Tap....
Seorang lelaki tua tiba di sekitar kawah tempat petir emas sebelumnya menyambar. Lelaki tua itu menyipitkan matanya dan menajamkan pendengarannya untuk memastilan bahwa dia tidak salah melihat maupun mendengar.
Lelaki tua itu membulatkan matanya begitu mendengar tangisan bayi manusia dan melihat langsung seorang bayi manusia yang menangis. Laki-laki itu melompat memasuki kawah besar di depannya dan berjalan mendekati bayi yang sedang menangis keras.
Lelaki tua itu menggendong bayi di depannya, seketika tangis bayi itu berhenti. Terlihat mata bayi yang berwarna biru cerah sedang menatap lekat lelaki tua yang menggendonya.
GUGUGAGA
Suara bayi itu terdengar seperti hendak berbicara dengan laki-laki tua yang menggendongnya.
"Aduuhh comelnya bayi ini. Ahh hatiku meleleh dibuatnya." Ucap laki-laki tua itu sambil membelai lembut wajah dan rambut bayi dalam gendongannya.
Lelaki tua itu melompat keluar dari kawah bersama bayi dalam gendongannya yang terbungkus kain beludru dari sutra. Laki-laki tua itu berjalan beberapa langkah dan tiba-tiba dia sudah berdiri di sebuah rumah sederhana yang di belakang rumah itu terdapat sebuah gunung yang menjulang tinggi menembus awan.
Setelah meletakkan bayi dalam keranjang bayi, laki-laki tua itu memeriksa seluruh tubuh bayi. Dia menemukan sebuah kalung giok di leher bayi tersebut dengan tulisab Tang Hao.
Laki-laki tua itu memeriksa kalong giok milik bayi namun tidak ditemukannya sesuatu yang spesial selain kualitas kalung adalah kualitas giok terbaik yang pernah dilihatnya dalam hidupnya. Jika dijual dipelelangan makan akan terjual paling tidak seharga 10 juta koin emas.
Lelaki tua itu mencoba membuka penutup bayi dan alangkah terkejutnya saat menemukan sebuah tato Naga Emas berkepala sembilan di lengan kanannya dan sebuah ukiran teratai biru di lengan kirinya serta ukiran pedang sembilan warna di tengah dadanya.
Tidak sampai di situ, lelaki tua itu menahan nafasnya saat terlihat tato-tao yang berbentuk segel yang mengelilingi sekujur tubuh bayi itu. Meskipun terlihat samar namun dia tahu bahwa itulah sebuah segel yang mengerikan dan dia tidak tahu apa yang menyebabkan bayi tidak berdosa di depannya ini disegel sedemikian rupa. Laki-laki tua itu memeriksa tubuh Tang Hao lebih lanjut. Dia menghembuskan nafas berat.
"Tubuhnya saat ini seperti manusia pada umumnya namun bakat dalam beladirinya terlihat mengerikan. Hemm baiklah mungkin anak ini memang sudah ditakdirkan sesuai dengan ramalan dulu." Gumam pria tua itu sambil mengangguk pelan dan tersenyum ramah memandang bayi laki-laki di depannya dengan penuh kasih sayang seperti cucunya sendiri.
Sejak diputuskannya merawat bayi yang entah datang dari mana, laki-laki tua itu telah memulai takdir seorang bayi yang akan menggemparkan dunia. Dan takdir laki-laki itu telah diputuskan seratus delapan puluh derajat.
"Tang Hao, itukan namamu. Baiklah nak mulai sekarang aku akan menjadi satu-satunya keluargamu di dunia ini dan mewariskan apa yang telah kumiliki selama ini. Mulai sekarang panggil aku kakek Lian" Gumam laki-laki tua bernama kakek Lian kepada bayi dalam gendongannya ini.
Gugugaga
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...