The Legend Of Fighter

The Legend Of Fighter
CH 23. BERBAGI



"Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini? Sepertinya banyak penduduk yang kelaparan." Tanya Tang Hao di sela-sela penduduk desa yang masih menikmati makanan mereka.


"Sebenarnya kelaparan ini karena beberapa minggu lalu desa kami dirampok, mereka mengambil semua jatah makanan kami selama setahun dari pemerintah."


"Sudah beberapa tahun terakhir desa ini berdiri dan mendapat stok makanan dari pemerintah karena suatu hal. Tapi sayangnya perampok mengetahui hal tersebut. Kami ingin melapor ke kota tapi jaraknya sangat jauh dari sini, kepala desa menyuruh untuk berburu hewan-hewan kecil di sekitar desa tapi belum ada satupun yang kami temukan hewan-hewan itu."


"Tidak hanya itu anak muda, kepala desa kami yang dalam kondisi sakit pun perlu perawatan dari kami. Kami tidak bisa pergi jauh ke dalam hutan karena hewan-hewan di sana berbahaya. Di antara kami, hanya kepala Desa saja yang seorang pendekar itupun katanya tingkat yang sangat rendah, selain itu kami hanya warga biasa." Jawab ibu-ibu di depan Tang Hao bergantian. Mereka merasa nyaman saat berada di dekat anak muda ini meskipun mereka belum tahu namanya.


Selain pembawaan Tang Hao yang tenang dan santai, juga memiliki persediaan makanan yang banyak. Selain rasa yang lezat, para penduduk desa tidak khawatir kehabisan melihat makanan di kuali besar yang masih melimpah. Mereka masih berharap bahwa makanan itu dapat mereka bawa pulang dan dibagi bersama keluarga mereka.


"Lalu ada berapa orang yang tinggal di desa ini?" Tanya Tang Hao lagi. Meskipun Tang Hao dapat menebak jumlah penduduk desa melihat dari jumlah rumah yang tersedia, namun lebih baik bertanya kepada peduduk desa agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Hanya sekitar seratus orang anak muda dengan 20 kepala keluarga. Satu keluarga ada yg lima ada yang empat ada juga yang enam. Hanya kepala Desa yang hidup sendiri. Namun sejak beliau sakit-sakitan, para warga bergantian menjenguk beliau."


Tang Hao manggut-manggut mendengar penjelasan ibu-ibu di depannya. Dia cukup senang mendengar itu, meskipun dalam keadaan serba kekurangan dan kesusahan, mereka tetap membantu yang lain yang lebih membutuhkan. Tang Hao manggut-manggut sepertinya dia masuk ke desa ini merupakan suatu anugerah.


"Anak muda sepertinya kami harus segera kembali. Terima kasih banyak atas makanannya yang luar biasa lezat. Kami yakin masakanmu jauh lebih enak dari koki Kerajaan sekalipun apalagi restoran biasa."


"Ya betul nak, masakanmu membuat ibu malu sebagai perempuan. Andaikan ibu punya anak gadis pasti sudah ibu nikahkan denganmu, selain tampan juga jago masak."


"Hehehe meskipun anak gadis ku masih terlihat kecil, namun dia sangat cantik nak. Kalo kamu masih di sini, akan kubawa dia menemuimu. Aku yakin anak gadisku mau jika punya suami sepertimu."


"Ah beruntung sekali ibu Mi Dah ini jika bisa memiliki menantu seperti anak muda ini. Eh nak kami belum mengetahui namamu? Namamu siapa nak?"


Tang Hao hanya tertawa mendengar celotehan serta melihat tingkah ibu-ibu di depannya ini. Dia tidak menyangkan akan mendapat respect yang seperti itu.


"Nama saya Tang Hao bu, bisa dipanggi Tang bisa juga dipanggil Hao. Kakek saya biasa memanggi Hao bu." Jawab Tang Hao sambil mengambil mangkok-mangkok kosong di depan ibu-ibu.


Ibu-ibu itu tidak berani meminta lagi setelah memakan habisa semua yang diberikan kepada mereka sebelumnya. Awalnya mereka berniat sekadar mencicipi saja, namun karena rasa lezat yang tidak tertahankan, tanpa sadar mereka malah menghabiskan tanpa sisa. Bahkan anak-anak yang mereka bawa sampai menjilati mangkok-mangkok mereka.


Tang Hao mengisi penuh mangkok-mangkok milik warga, saat mengisi Tang Hao beru teringat sesuatu.


"Lalu bagaimana dengan warga lain yang tidak bisa ke sini? Apakah mereka harus menunggu sampai hujan reda?" Tanya Tang Hao setelah mengisi mangkok terakhir.


Ibu-ibu yang terlihat sumringah itu tiba-tiba terdiam, mereka juga lupa dengan hal itu, bukan hanya itu saja, pakaian yang mereka kenakan juga telah kering seperti sebelum kena air hujan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi namun mereka baru sadar sekarang. Ibu-ibu itu tidak memikirkan hal itu, namun bagaimana mereka membawa makanan ini kepada warga desa yang lain.


"Saya punya caranya, tapi ada satu syarat yang harus dipenuhi." Tang Hao mengacungkan jari telunjuknya ke atas sambil memberikan senyum khas nya.


"Apa syaratnya nak katakan biar kami memenuhinya, kami tidak masalah memberikan apapun yang kami miliki asalkan warga yang lain bisa segera mendapat makanan."


"Ya nak katakan saja, sama seperti kami yang kelaparan."


Tang Hao mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah ibu-ibu, hanya satu permintaan saya yaitu untuk tidak mempertanyakan apapun yang saya lakukan dan tidak mengatakan kepada siapapun apa yang kalian lihat, bagaimana?"


"Baik tentu saja. Kami bersumpah kepada langit dengan hujan derasnya bahwa kami tidak akan mengatakan kepada siapapun apa yang kami lihat serta tidak mempertanyakannya." Jawab ibu-ibu serempak sambil mengangkat dua jari tengah dan jari telunjuk sebagai tanda mereka bersumpah.


GLUDUUK


GLUDUUK


GLUDUKK


Seketika langit menjawab sumpah ibu-ibu di bawah gardu. Mereka terkejut mendengar suara petir tiga kali bersahutan di langit. Seketika mereka berkeringat dingin karena langit telah menjadi saksi beneran atas sumpah mereka. Kini mereka memandang Tang Hao yang tersenyum dengan penuh arti. Mereka memandang Tang Hao dengan sedikit takut.


"Baiklah ibu-ibu tidak usah takut. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang berbahaya, justru yang saya lakukan adalah untuk membantu seluruh warga di sini."


Tang Hao mengibaskan tangannya dan seketika puluhan mangkok telah berada di depannya membuat warga kaget dan terkejut namun segera mengendalikan diri.


"Silahkan ibu-ibu semua membantu saya mengisu mangkok-mangkok ini sampai penuh. Jika dagingnya habis saya masak lagi. Satu rumah dapat jatah tiga mangkok, masalah hujan biar saya yang mengatasi." Tang Hao bangkit dari berdirinya. Dia mengeluarkan beberapa bati bercaha lalu dengan cepat menghilang dari tempatnya berdiri. Ibu-ibu yang mengisi mangkok itu kembali dibuat terkejut karena menghilangnya Tang Hao dari hadapan mereka. Mereka tidak bertanya kemana menghilang namun mereka terlihat bahagia saat mengisi mangkok-mangkok penuh dengan daging.


Wuusshh..


Tang Hao tiba-tiba berdiri di sudut desa sebelah barat. Dia meletakkan batu bercahaya yang dibawanya di atas tanah.


Tang Hao menghilang lagi dari tempatnya dan seketika telah bersiri di sudut desa sebelah timur. Dia meletakkan batu yang sama di tanah, setelah memastikan batu tersebut sejajar dengan batu sebelumnya, Tang Hao menghilang dari tempatnya.


Dia berdiri di sudut desa sebelah selatan, lalu melakukan hal yang sama, begitu juga dengan sudut desa sebelah utara.


Setelah memastikan keempat batu telah menempati empat sudut desa dan sudah sejajar, Tang Hao melayang ke tengah-tengah desa yang jaraknya sesuai dengan masing-masing sudut desa.


Tang Hao membuat gerakan tangan namun berhenti sesaat.


"Sepertinya tidak buruk jika kucoba menyebut nama segel mantraku ini, hihihi."


"Segel Pembalik Langit, Pelindung Hujan, Aktifkan"


Tang Hao mengangkat kedua tangannya ke atas lalu muncullah cahaya redup berwarna merah gelap yang perlahan membentuk kubah dari keempat sudut desa yang menutupi seluruh desa.


Kubah berwarna merah gelap itu melindungi desa Anyur dari hujan deras yang mengguyur bumi. Tang Hao tersenyum lebar saat percobaan pertamanya dalam membuat segel melawan hukum alam berhasil.


Kubah merah gelap perlahan menjadi tak kasat mata begitu juga dengan empat batu bercahaya yang ada di setiap sudut desa. Segel yang dibuat Tang Hao hanya berfungsi menahan hujan saja, tidak dengan makhluk hidup atau benda lainnya yang ingin memasuki desa Anyur.


Setalah puas melihat kubah buatannya, Tang Hao menghilang dari tempatnya dan segera tiba di gardu sebelumnya. Kedatangannya kembali membuat ibu-ibu itu terkaget.


Tang Hao melihat bahwa puluhan mangkom di depannya telah terisi penuh dan masih ada sedikit sisa.


Tang Hao kembali mengeluarkan beberapa mangkok dan meminta ibu-ibu itu mengisi mangkok kosong dengan sisa daging di kuali.


Tak lama kemudian, ibu-ibu itu pergi meninggalkan gardu saat melihat hujan telah tidak turun lagi. Kini masing-masing dari mereka telah membawa beberapa mangkok berisi daging, meskipun berat namun ibu-ibu itu terlihat bahagia. Tak henti-hentinya mereka berterima kasih kepada Tang Hao.