The Legend Of Fighter

The Legend Of Fighter
CH 19. MENEGANGKAN



Pagi menyingsing, matahari terbit dengan tenang, Tang Hao bangun dari tidurnya dalam keadaan segar. Baru kali ini dia merasakan tidur berkualitas seperti ini selama hidupnya di dunia ini.


Tang Hao merapihkan tempat tidurnya karena kebiasaannya sejak kecil meskipun di istana ini Tang Hao tidak perlu merapihkannya karena akan ada dua orang pelayan yang memasuki tempat tidurnya dan membersihkan kamarnya setiap pagi.


Tang Hao sempat berpikir bahwa Kerajaan Niao memperlakukan tamunya dengan istimewa. Dia juga tidak melarang para pelayan memasuki kamarnya karena mereka membawa sarapan dan minuman hangat, apalagi Tang Hao bisa melihat pemandangan gadis-gadis manis begitu bangun dari tidurnya, bagi Tang Hao hal ini adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.


"Selamat pagi tuan muda." Tiga orang pelayan memasuki kamarnya. Seseorang menyapanya dengan membungkukkan badan. Tang Hao mengenal siapa gadis itu.


"Nona Ji Yan.." Gumam Tang Hao.


"Beberapa hari tidak bertemu sekarang nona sudah berada di tingkat Pendekar Emas."


"Terima kasih banyak tuan muda. Jika bukan karena tuan muda, maka saya tidak bisa seperti ini." Balas Ji Yan sopan. Dia lalu menyuruh dua orang pelayan di belakangnya untuk segera membersihkan kamar Tang Hao.


"Ah sudahlah nona, itu semua berkat usaha nona, saya hanya mendukung nona." Tang Hao melambaikan tangannya.


"Maafkan saya baru bisa menyapa anda hari ini saat anda hendak pergi dari sini. Beberapa hari lalu saya diangkat menjadi kepala pelayan istana ini saat Yang Mulia Raja mengetahui saya sudah berada di tingkat Pendekar Emas tahap akhir sehingga ada beberapa hal yang harus saya lakukan, seperti pengangkatan dan pelantikan." Ji Yan mengikuti Tang Hao melangkah ke beranda jendela kamar yang menghadap ke belakang.


"Saya tidak menyangka bahwa saya akan mendapat anugrah seperti ini setelah saya bertemu anda tuanku. Saya tidak bisa membalas kebaikan tuanku, saya hanya bisa memberikan jiwa raga saya kepada tuanku." Ji Yan melangkah ke depan Tang Hao lalu menunduk malu. Wajahnya terlihat kemerah-merahan menambah kecantikan gadis itu.


Tang Hao merasa ada yang aneh dengan sikap gadis itu melihat seluruh kamarnya, dia tidak menemukan dua pelayan yang bersama Ji Yan dan Tang Hao juga mendapati kamarnya telah tertutup rapat.


Tang Hao lalu melihat ke arah Ji Yan, gadis di depannya ini perlahan mulai membuka ikatan bajunya dari atas hingga ke bawah masih tetap menunduk malu dan wajahnya semakin memerah.


Tinggi Ji Yan hanya sebatas dada Tang Hao namun wajahnya yang memerah menahan malu terlihat jelas di mata Tang Hao. Semakin lama pakaian Ji Yan terbuka lebar dan pakaian bagian dalamnya mulai terlihat jelas.


Tang Hao mengumpat dalam hati, dia tidak tahu harus berbuat apa menghadapai situasi saat ini. Apakah dia harus menunggu Ji Yan membuka seluruh pakaiannya dan menerima rasa terima kasih gadis itu kepadanya, mumpung dia tidak diminta untuk bertanggung jawab dan menikmati kegadisan gratis di depannya? Atau dia menolak gadis itu berterima kasih dan menyuruh gadis itu keluar?


Tang Hao melirik pakaian gadis di depannya, seketika jantungnya berdegup kencang, dan seperti ada sesuatu yang melonjak naik di bawah selangkangannya, sesuatu yang keras dan panjang saat melihat pakaian Ji Yan hanya tersisa dua helai saja, atas dan bawah.


Tang Hao membuang muka dan dengan cepat menotok aliran darah gadis di depannya, sehingga membuat Ji Yan tidak dapat bergerak sedikitpun.


Dengan menutup mata dan jantung berdebar, Tang Hao memakaikan kembali pakain Ji Yan sehelai demi sehelai. Gadis itu menerutkan dahinya melihat sikap Tang Hao namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tang Hao menggerakkan tangannya pelan, tubuh Ji Yan perlahan melayang ke atas kasur Tang Hao.


"Nona Ji Yan, maafkan aku. Aku memahami maksudmu untuk berterima kasih, namun cara mu salah dalam membalasnya. Ketahuilah nona, kamu boleh melakukan hal yang sama kepada pria yang kamu cintai dan dia juga mencintaimu serta bertanggung jawab dengannya.


Aku adalah pria normal yang takut mati, aku pengecut, pecundang bahkan tidak mampu bertanggung jawab jika aku mengikuti kemauan nona.


Aku menerima terima kasih anda nona Ji Yan. Dan tetaplah menjadi seorang gadis yang baik untuk kedua orang tuanya. Teruslah berusaha untuk menjadi kuat nona Ji Yan, hanya dengan begitu kita bisa hidup sedikit lebih lama." Tang Hao membuat segel tangan dan sebuah pola emas muncul di atas di atas ranjang Tang Hao.


Pola emas itu bergerak turun ke bawah, begitu pola emas mengenai tubuh Ji Yan, seketika gadis itu menghilang dari hadapannya bersamaan dengan pola emas. Segel pola emas yang dibuat Tang Hao memindahkan Ji Yan ke kamarnya meskipun Tang Hao tidak tahu di mana kamar Ji Yan. Segel pola emas langsung memasuki alam bawah sadar Ji Yan dan mencari tempat terbaik untuk memindahkan tubuhnya dalam sekejap mata. Tang Hao sudah memodifikasi segel itu sedemikian rupa sehingga bisa memindahkan orang atau benda dalam sekejap.


Tang Hao menghembuskan nafas lega, dia tidak menyangka begitu bangun dari tidur terbaiknya langsung mendapat pemandangan terbaik dari dua kehidupannya. Tang Hao bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuh serta jiwanya.


Setelah mandi cukup lama, dia keluar kamar dan mengganti pakainnya dengan jubah warna hitam. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja. Tang Hao berjalan ke luar kamarnya dan berjalan ke depan istana seperti yang disampaikan Kapten Han sebelumnya.


Sebelum pergi, Tang Hao memberikan dua buah apel ke dua penjaga pintu kamarnya dan memberikan instruksi seperti yang dikatakannya kepada Ji Yan setelah itu dia bergegas ke aula utama mengenakan seragam prajuritnya.


Tak lama berselang, rombongan Kapten Han meninggalkan istana Kerajaan Haitan setelah beberapa hari menginap.


Tang Hao mendapat banyak cerita dari Kapten Han mengenai lamaran Putra Mahkota Kerajaan Haitan kepada Putri tertua Kerajaan Niao. Tidak hanya itu saja, kedua Keraajan juga membahas mengenai kerjadian yang semakin memanas di dunia pesilatan.


Dan kabar yang paling menggemparkan dunia pesilatan saat ini adalah, Tiga Sekte Super bintang sepuluh ikut turun tangan dengan kejadian ini, dan dikabarkan mereka juga mengincar harta yang ada di makam kultivator kuno.


Berita itu juga benar-benar menarik minat Tang Hao, dia tertarik karena membayangkan pasti akan ada pertarungan dahsyat di antara tiga Sekte Super bintang sepuluh itu dan Tang Hao ingin menyaksikan pertarungan itu.


Tang Hao hanya ingin belajar dan memperdalam pengalamannya dalam bertarung dengan melihat orang lain bertarung. Tang Hao mampu membuat simulasi dari setiap pertarunga yang disaksikannya dan memperaktikkannya dalam pertarungan yang dijalaninya.


Dia juga bisa sedikit mencuri jurus-jurus dari pertarungan yang disaksikannya. Semakin banyak pertarungan yang disaksikannya, semakin banyak pula jurus-jurus yang bisa dicurinya.


Membayangkan itu saja Tang Hao tersenyum lebar.


Kapten Han mengentikan kudanya saat mengetahui Tang Hao akan segera berpisah dari rombongan mereka. Tang Hao turun dari kudanya diikuti Kapten Han dan para prajuritnya.


Kapten Han terlebih dahulu memberi hormatnya kepada Tang Hao. Kapten Han tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Kapten Han juga sempat bertanya apakah Tang Hao membawa peta dan kotak kayu yang berisi lembaran uang.


Tang Hao menjawab sudah membawa barang-barangnya dan mengatakan bahwa dia punya cara sendiri untuk membawa barang-barangnya tanpa diketahui orang lain.


Raja dan Ratu serta Putra Mahkota juga keluar dari kerta kuda mereka dan berterima kasih kepada Tang Hao. Kapten Han telah mengatakan tentang Tang Hao yang paling berjasa membantunya naik tingkat sedemikian rupa. Mereka memberi hadiah masing-masing kepada Tang Hao.


Raja dan Ratu telah menganggap Kapten Han sebagai keluarga sendiri sejak lama bahkan sejak Kapten Han masih muda. Dari itu, mereka sangat menghargai Tang Hao atas jasanya itu.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat, Tang Hao pamit duluan dan melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Kapten Han sangat terkejut saat Tang Hao mengatakan tujuan utamanya adalah pergi ke Kekaisaran Zhou.


Kapten Han hanya berpesan agar Tang Hao menjaga diri, Kapten Han bahkan mengatakan bahwa jika dirinya di sana juga tidak mampu berbuat banyak dikarenakan banyaknya pendekar tingkat tinggi di sana.


Tang Hao hanya mengangguk-angguk paham. Dari awal dia memang tidak berniat ikut campur dalam perebutan warisan kultivator kuno sedangkan dia sendiri seorang kultivator dan mempunyai guru yang pernah berada pada puncak Kedewaan. Tang Hao bahkan yakin, barang-barang warisan kakeknya jauh lebih hebat dari pada yang ada di makam kultivator kuno.


Setelah berjalan cukup jauh, Tang Hao melesat cepat ke udara. Dia segera menuju barat membelakangi matahari terbit. Arah barat adalah arah Kekaisaran Zhou dan sangat jauh dari tempatnya saat ini.


Dia harus melewati beberapa Kerajaan, maupun sekte dari kecil, menengah hingga besar. Sedangkan Tiga Sekte Super tidak dimiliki oleh Kekaisaran manapun. Hanya tiga sekte itu yang terbebas dari aturan Kekaisaran maupun Kerajaan.


Setelah cukup lama terbang dengan kecepatan tinggi, dia tiba di sebuah sekte yang lumayan luas. Dari atas Tang Hao dapat melihat bahwa sekte itu sedang melakukan pertandingan di arena.


Di sana telah berkumpul ratusan orang dengan seragam yang sama. Tang Hao melihat bahwa yang bertarung di atas arena saat ini adalah dua orang gadis remaja seusia dirinya tingkat mereka sudah mencapai Pendekar Besi tingkat menengah. Tang Hao dapat melihat bahwa pertarungan berat sebelah meskipun sama-sama berada pada satu tingkat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...