The Legend Of Fighter

The Legend Of Fighter
CH 02. Dewa Terkuat



"Ughh di mana ini?" Tang Hao tersadar dan melihat sekelilingnya yang gelap gulita, dingin dan menakutkan.


"Beginikah namanya kematian."


Tang Hao memeriksa kondisi tubuhnya dengan mencoba menggerakkan kedua tangannya.


"Ughhh benar-benar menyakitkan. Seolah seluruh uratku sedang ditarik, sendi dan tulang-tulangku serasa dihancurkan."


Tang Hao mengela nafas. Dia tidak berniat menggerakkan tubuhnya karena rasa sakit yang dideritanya hingga ubun-ubunya yang belum pernah dirasakannya.


"Apa ini alam kematian? Kenapa hanya ada aku sendiri di sini, di mana yang lain? Seluruh inderaku tumpul, hanya mampu merasakan bahwa tubuhku masih utuh. Sudah berapa lama aku di sini?"


Tang Hao memejamkan matanya mencoba melupakan semua ini. Dia tau bahwa saat ini di sedang melayang di kehampaan dan sedang meluncur ke suatu tempat. Meskipun dia tidak merasakan pergerakan di sekitarnya, namun instingnya yang kuat mengatakan bahwa dia sedang menuju ke suatu tempat.


"Apakah aku akan dibawa ke Surga? Seharusnya aku memang dibawa ke Surga karena tidak pernah sekalipun aku berbuat buruk kepada siapapun bahkan kepada seekor semut. Jika aku dibawa ke Neraka maka aku akan protes kepada Dewa yang memutuskan takdirku." Tang Hao terdiam cukup lama setelah berbicara sendiri untuk menghilangkan kebosanan. Meskipun dia terlihat cukup tenang, namun sebenarnya dia sedang panik dan takut. Dia tidak tahu dengan akhir hidupnya saat ini.


Apakah akan menemukan sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan atau sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Ketenangan yang saat ini ditunjukkannta adalah hasil dari buah didik wanita paruh baya yang dipanggilnya Bibi Yang. Bagi Tang Hao sendiri, Bibi Yang sudah seperti ibu kandunganya. Dia mendapat banyak nasihat dan petuah bijak dari bibinya bagaimana seharusnya menjalani hidup. Tidak menyerah, tidak pernah putus asa dan selalu berusaha keras untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya.


Kerja kerasnya selama ini telah membuahkan hasil yang memuaskan. Dia menjadi yang terbaik di sekolahnya dalam segala bidang. Di manapun bakat terbaik berada akan selalu menghasilkan manusia-manusia yang iri dan dengki. Terlebih Tang Hao bukanlah dari seseorang yang memiliki keluarga berpengaruh. Dia hanya seorang yatim piatu melarat yang tidak memiliki siapapun di sisinya. Setiap hari di sekolah dia selalu mendapat bullian dari teman-temannya namun dia tidak pernah membalas meskipun dia adalah yang terbaik dalam seni beladiri di sekolahnya. Bahkan dia pernah menghajar beberapa preman yang mencoba merampok ibu-ibu.


Dia tidak membalas orang yang membullinya karena menganggap mereka tidak pantas mendapat perhatian darinya, dia sama sekali tidak merasakan sakit ketika dipukul sekalipun menggunakan pemukul bola bisbol yang terbuat dari baja. Sekujur tubuhnya memang lebam dan biru namun itu akan sembuh begitu setiap kali dia bangun dari tidurnya.


Dia pernah sekali bertanya kepada Bibi Yang nya kenapa hal itu bisa terjadi.


"Mungkin itu karena berkah dari Dewa." Jawab Bibi Yang nya santai seolah tidak memikirkan hal itu lebih lanjut.


Tang Hao kembali menghembuskan nafas kasarnya. Dia merasa aneh, sekelilingnya adalah suatu kehampaan bahkan dia tidak merasakan udara namun dia bisa bernafas dengan bebas.


"Sungguh tempat yang aneh."


"Hoamm" Dalam keadaan seperti ini Tang Hao pun merasa lebih aneh, bagaimana tidak saat ini dia merasa sangat mengantuk dan kedua matanya merasa lelah dan berat.


"Bagaimana orang yang sudah mati bisa mengantuk."


Tanpa disadarinya, Tang Hao telah tertidur. Cukup lama dia tertidur hingga sebuh cahaya menyilaukan menyapa tubuhnya. Tang Hao membuka matanya dan segera menutup matanya dengan kedua tangannya. Namun alangkah terkejutnya dia saat melihat tangannya yang mungil seperti bayi.


Sesuatu keluar dari barang di antara kedua pahanya tanpa bisa dikendalikannya. Dia bahkan semakin aneh ketika dia mencoba berteriak yang keluar dari mulutnya adalah tangisan yang sering didengarnya saat di bus-bus, di kereta-kereta, di taman bermain, di pantai.


Oeekk Ooeekk Ooeekk


Tangisan bayi yang keluar dari mulut Tang Hao cukup lama sampai seorang lelaki tua mendatangi Tang Hao kecil. Tang Hao kecil mencoba berbicara dengan lelaki tua itu namun justru yang keluar adalah suara bayi yang lucu.


Gugugaga


Tang Hao mencoba menutup mulutnya yang mungil dengan kedua tangannya namun dia tidak mampu untuk menggerakkan bebas kedua tangannya.


"Ah sial di mana ini?" Tang Hao mencoba berbicara dengan orang tua yang sedang membawanya saat ini.


Gugugaga..


Tang Hao terdiam dan terlihat setres memikirkan keadaannya yang sekarang. Setelah beberapa kali memastikan bahwa dia saat ini tidak sedang bermimpi dan mencoba memahami keadaannya saat ini, dia mulai mengerti keadaannya. Dia melihat sekelilingnya yang berada di tengah kawah yang cukup luas.


Tang Hao kecil terkejut saat dibawa melompat oleh seorang laki-laki tua yang sedang menggendongnya ini. Tang Hao baru sadar bahwa pakaian yang dikenakan laki-laki tua seperti pakaian yang pernah dilihatnya dalam drama-drama kolosal China di teater-teater maupun di TV.


Tang Hao jelas melihat orang-orang yang sering dilihatnya di TV sedang menggendongnya dan melompat dari dahan pohon satu ke dahan yang lain. Tang Hao tidak merasa tekanan dari udara yang dihasilkan lompatan kakek tua yang mengaku dirinya bernama Kakek Lian. Tang Hao dibuat terkejut saat melihat secara samar seperti ada cahaya biru yang membungkus tubuhnya selain kain sutra yang menutupi tubuhnya. Tang Hao tahu bahwa saat ini dia sedang dibawa dengan kecepatan tinggi, karena melihat hutan sekelilingnya yang bergerak sangat cepat. Tang Hao juga tidak merasakan pusing dengan kecepatan seperti, padahal semasa hidupnya di bumi Tang Hao langsung merasa mual begitu naik kereta bawah tanah yang cepat bersama Bibi Yang nya.


"Apakah ini yang namanya reinkarnasi? tapi aku dapat merasakan bahwa ini adalah tubuhku yang lama." Tang Hao bergumam sendiri.


"Dari beberapa literatur yang kubaca, reinkarnasi adalah perpindahan jiwa dari satu tubuh ke tubuh yang lain dengan ingatan yang sama. Sedangkan kondisiku saat ini tubuhku mengikuti jiwaku, apa ini masih disebut reinkarnasi? Lalu dunia apakah ini? Apakah dunia masalalu sebelum peradaban maju, ataukah dunia paralel seperti yang kubaca dari novel-novel dan komik-komik?"


"Haisshh nanti aku bisa bertanya banyak kepada kakek ini begitu aku dewasa. Yah setidaknya aku tidak sendirian di dunia ini."


Tak lama kemudian kakek Lian telah sampai di rumah kecilnya yang terlihat sederhana dari luar.


Tang Hao memperhatikan rumah kecil yang beratapkan daun rumbia itu.


"Kenapa dari tadi yang kulihat hanya hutan lebat?" Gumam Tang Xiao.


Gugugaga


Kakek Lian memandang senyum Tang Hao kecil dalam gendongannya yang sedang memandangi rumahnya.


"Ya inilah rumah kakek nak Tang. Maaf hanya rumah sederhana ini yang kakek miliki." Kakek Lian mencoba menjawab celotehan Tang Hao kecil.


Gugugaga


"Ya selama ini kakek sendiri hidup di sini. Sekarang sudah ada kamu, jadi hanya kita berdua. Kakek sudah tua untuk mengurusi kehidupan dunia." Jawab asal kakek Lian.


"Dasar kakek tua, aku tanya apa dia jawab apa." Batin Tang Hao yang geram dengan jawaban Kakek Lian. Namun meskipun begitu, Tang Hao tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menerima nasibnya. Dia harus bersabar untuk beberapa tahun lagi, ini hanya masalah waktu agar mereka bisa saling berkomunikasi.


Gugugaga...


"Ya ya kakek akan menjadi keluargamu mulai sekarang, dan kamu juga adalah keluarga kakek. Kakek akan melindungimu dan mengajarkanmu bela diri pada waktunya tiba. Walaupun kakek terlihat lemah begini, namun dulunya adalah Dewa terkuat pada zamannya. Ah sudah lah jika ada waktu kakek akan menceritakannya padamu." Kakek Lian menghela nafas dan mulai memeriksa kondisi Tang Hao kecil.


Tang Hao yang mendengar ucapan Kakek Lian memiringkan kepalanya mencoba memahami perkataan kakek tua di depannya ini.


Dewa? Terkuat?


"Jika Dewa terkuat kenapa bisa berakhir menyedihkan seperti ini?" Ucap Tang Xiao sambil memperhatikan Kakek Lian dengan keterkejutannya.


Tang Hao kecil dapat mendengar semua ucapan Kakek Lian yang terkejut dengan kondisi tubuhnya. Tang Hao sudah tahu bahwa dia memiliki tanda Naga Emas kepala sembilan di lengan kanannya dan Teratai Biru di lengan kirinya serta Pedang Sembilan warna di dadanya. Sebelumnya tanda lahirnya itu disembunyikan oleh Bibi Yang sejak dia masih kecil, sehingga tidak ada satupun orang yang mengetahuinya selain mereka berdua. Saat Tang Hao menanyakan hal itu, jawab Bibi Yang cukup sederhana.


"Setiap orang punya tanda lahir. Dan ini adalah tanda lahirmu. Bibi juga punya tanda lahir di belakang punggung." Bibi Yang santai menjelaskan pada Tang Hao.


Namun yang membuat Tang Hao kecil heran adalah kalung giok yang mengalung di lehernya. Sebelumnya dia tidak memakai kalung apapun sejak di bumi sebelum ditabrak. Terlebih di kalung itu terukir namanya dengan jelas.


"Siapa yang memakaikan kalung di leherku? Sejak kapan kalung ini berada di leherku? Ah sudahlah jika memikirkannya lebih dalam bisa membuatku gila." Celoteh Tang Hao kecil.


Gugugaga..


"Yah kondisimu untuk saat ini cukup stabil namun aku tidak tahu beberapa tahun ke depan. Kakek tidak sabar menunggumu besar dan mewarisi seni beladiri kakek nanti."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...