The Legend Of Fighter

The Legend Of Fighter
CH 17. Assasin



Jung mengepalkan tangannya dengan kuat, dia merasa seperti orang bodoh di hadapan dua saudara perguruannya yang telah membohonginya dengan mentah-mentah.


Saat ini dia sudah tidak memikirkan bagaimana kabur atau lari dari situasa yang rumit ini. Dia pun merasa mustahil bisa keluar hidup-hidup dari kepungan para prajurit dua Kerajaan target mereka sebelumnya.


Bahkan kedua saudara perguruan Jung lainnya juga tidak pernah menyangka akan berada pada situasi ini. Mereka kini merasa menyesal mengapa mengikuti perintah kakak seperguruan mereka. Padahal mereka baru-baru saja naik tingkat ke Pendekar Berlian, namun kini harus berjuang mati-matian untuk menyelamatkan hidup. Mereka juga berpikir hal yang sama dengan Jung.


Tanpa menunggu banyak waktu, Jung segera menghunuskan kapaknya dan berlari kencang ke arah para prajurit yang mengepungnya. Targetnya bukanlah melukai atau membunuh Kapten Han ataupun Kapten Zhang, itu hal mustahil dilakukannya hanya dengan kekuatannya saat ini karena perbedaan tingkat kekuatannya yang cukup jauh dan juga senjatanya yang sudah di ujung tidak mampu bertahan lama, melainkan para prajurit yang mengepungnya dan mengambil nyawa mereka sebanyak yang dia bisa.


Dua orang pembunuh lainnya juga melakukan hal yang sama dengan Jung. Mereka yakin malam ini adalah malam kematian mereka namun mereka tidak ingin mati sendiri, setidaknya mereka harus mengurangi kekuatan para prajurit istana.


Kapten Han dan Kapten Zhang yang melihat arah meyerang tiga saudara perguruannya itu sedikit terkejut dan tidak menyangka mereka akan melakukan hal senekat ini. Sebenarnya Kapten Han dan Kapten Zhang hanya ingin menangkap saudara seperguruannya itu jika mereka mau menyerah dan mau menerima hukuman karena berniat melakukan percobaan pembunuhan terhadap Raja. Paling tidak hukuman mereka adalah penjara beberapa puluh tahun, namun jika mereka menyerang para prajurit istana yang berada di bawah undang-undang Kerajaan, maka tidak ada hukuman yang pantas bagi mereka selain kematian.


Kapten Han dan Kapaten Zhang menghembuskan nafas pelan dan segera menghilang dari tempat mereka saat melihat beberapa prajurit mulai terluka berat.


Trangg...


Kapak Jung pecah berhamburan ketika kapaknya beradu dengan pedang Kapten Han.


Jlebbb...


Secepat kilat pedang putih kapten Han menusuk jantung Jung hingga tembus punggungnya. Jung memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya dan mengenai adik seperguruannya yang matanya mulai terlihat berair.


"Setidaknya... Aku..mati di..tangan..adik seperguruanku..." Ucap Jung lemah dan terbata-bata. Ada sedikit senyum di mulutnya yang penuh darah itu.


Dengan segera Kapten Han menangkap tubuh lemah kakak seperguruannya itu dan membaringkannya di pangkuannya. Nafas Jung mulai putus-putus.


"Tidak.... usah cengeng...kakak pernah...bi..lang... Laki-laki...harus..kuat..." Tangan Jung menyentuh pundak Kapten Han yang bergetar hebat karena menangis dalam diam.


Kapten Zhang mendekati Kapten Han dan ikut menangis dalam diam di dekatnya. Kapten Zhang sudah terlebih dulu menangis karena membunuh adik seperguruannya yang pernah sangat akrab dengannya sebelum keluar dari Sekte mereka. Kini ditambah kematian kakak seperguruannya yang sudah dianggap seperti kakak sendiri, menambah kesedihan hatinya.


"Zhang....Aku..titip..Han..padamu..kakak...sungguh..bangga dengan....kalian....." Ucap Jung diiringi dengan nafasnya yang putus dan tubuhnya yang mulai dingin dan tangannya terkulai lemas dari pundak Han.


Air mata Kapten Han dan Kapten Zhang mengalir begitu saja tanpa bisa dibendung.


Awalnya Kapten Han dan Kapten Zhang memang mendapat laporan dari mata-mata akan ada pembunuhan terhadap kedua Raja oleh sekte Black River yang berspesialis dalam pembunuhan. Namun tidak disebutkan dalam laporan nama-nama para Assasin yang hendak melakukan pembunuhan, namun hanya jumlahnya saja yang disebutkan.


Kapten Han dan Kapten Zhang mengerutkan dahinya saat melihat laporan hanya tiga orang yang akan datang, namun mereka segera memahami bahwa ketiga orang itu adalah pendekar tingkat tinggi.


Dan kini sekali mendapat kabar ternyata mereka telah mati di tangan Kapten Han dan Kapten Zhang, keduanya juga sulit menerima kenyataan yang benar-benar memukul hati mereka.


Para prajurit yang melihat kapten mereka sedang tidak baik-baik saja, hanya diam berdiri tidak menjauh maupun mendekat. Kejadian ini juga termasuk hal langka bagi mereka saat melihat kapten yang begitu berwibawa dan disegani kawan serta ditakuti lawan sedang menangis tersedu-sedu tanpa suara. Menangis tanpa suara adalah Another Level of Pain.


Setelah cukup lama melimpahkan sedih mereka, Kapten Han dan Kapten Zhang bangkit dari duduk mereka. Kapten Han membawa jasad Jung dengan kedua tangannya dan Kapten Zhang membawa jasad kedua adik seperguruannya.


Kedua kapten itu memerintah para prajuritnya untuk membuat makam di pemakaman prajurit istana. Kapten Han dan Kapten Zhang membawa ketiga jasad itu ke pemakamannya masing-masing.


Tang Hao menghembuskan nafas pelan, dia menyaksikan semua kejadian tadi dari udara dengan menghilangkan hawa kehadirannya bahkan orang setingkat Kapten Zhang dan Kapten Han tidak menyadari kehadirannya padahal dia melayang tepat di atas mereka.


Dia merasakan hal yang sama dan memahami kesedihan mereka. Tang Hao dari awal memang berniat hanya menyaksikan saja. Dia juga tidak menemukan pembunuh lainnya di luar istana.


Tang Hao telah memindai seluruh area istana dengan kesadaran spiritualnya dan menghitung seluruh penghuni istana, tidak ada satupun dari mereka yang menjadi penyusup.


Tang Hao kembali terbang ke kamarnya melalui jendela seperti saat dia keluar. Dia kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba terlelap, namun kejadian tadi membuat kantuknya menguap begitu saja.


Tang Hao memilih untuk berkultivasi, dia mengonsolidasi fondasinya agar lebih stabil dan lebih dalam. Meskipun tingkat kultivasinya saat ini hanya berada di ranah Master bintang sembilan atau pendekar perak tahap akhir, namun dia dapat merasakan bahwa kekuatannya jauh melebihi tingkat kultivasinya.


Tang Hao bahkan mampu mengira-ngira jika dia bertarung dengan Kapten Han dan Kapten Zhang dengan kekuatan mereka saat ini dan mengeroyoknya, dia merasa masih bisa menang dengan mudah.


Meskipun hanya simulasi dalam pikirannya saat menilai kekuatan kedua orang itu bertarung dan membandingkannya dengan kekuatannya saat ini, Tang Hao yakin dirinya bisa menang.


Meskipun begitu Tang Hao tetap hati-hati. Dia lebih memilih nyawanya dari pada bertarung mempertahankan sesuatu yang tidak berharga atau hanya untuk memamerkan kemampuan yang malah berakhir dengan kematian. Semenjak hidup kembali, Tang Hao terlihat seperti pengecut, pecundang, penakut, namun semua itu demi dirinya agar bisa hidup lebih lama.


Baginya, tidak ada gunanya memiliki kekuatan besar bahkan bisa menghancurkan gunung-gunung hanya dengan lambaian tangan seperti cerita Kakek Lian, namun tidak mampu menghindar dari kematian. Bagi Tang Hao semua itu adalah sia-sia.


Namun Tang Hao juga berprinsip, jika dengan menghancurkan gunung-gunung mampu membuat hidupnya lebih lama, maka dia akan menghancurkan gunung-gunung di seluruh dunia.


Tang Hao tersenyum kecut saat membuka matanya. Hari audah pagi, dan diia tidak mengalami peningkatan dan tidak mendapat apa-apa dengan enam akar spiritualnya. Sebanyak apapun Tang Hao mengkultivasi enam akar spiritualnya, tetap saja mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kenaikan.


Tang Hao berjalan ke pintu kamarnya saat merasakan Kapten Han dan Kapten Zhang berjalan mendekati kamarnya.


"Selamat Pagi tuan Tang"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...