
Tang Hao memandang sekelilingnya yang telah porak-poranda seperti bekas sayatan pedang. Bahkan tempat duduknya berkultivasi sudah seperti sebuah kawah yang cukup dalam. Tang Hao juga memandang kakek Lian dan memperhatikan dengan seksama mencari jawab dari kakek Lian.
"Bagaimana perasaanmu saat ini?" Tanya kakek Lian yang melihat Tang Hao seperti mencari sebuah jawaban setelah melihat sekitarnya yang porak-poranda.
Tang Hao bangkit berdiri.
"Kakek apa yang telah terjadi di sini, baru sebentar aku berkultivasi tempat ini sudah seperti ini? Apa terjadi pertempuran di sini kek?" Tanya Tang Hao bertubi-tubi.
"Hah..."
Kakek Lian membuah nafas berat sambil menggeleng kepala.
"Tidak ada apapun yang terjadi di sini. Ini semua ulahmu." Ucap kakek Lian sambil menunjuk ke arah Tang Hao.
"Ulahku kek?" Tang Hao menunjuk dirinya dengan penuh kebingungan.
Kakek Lian mengangguk.
"Bukan sebentar kamu berkultivasi, tapi sudah lima tahun berlalu." Ucap kakek Lian sambil melangkah menjauhi Tang Hao.
"Apaaaa?? Li li lima tahun?" Tang Hao terperanjat kaget sambil melompat ke belakang lalu berlari mengikuti kakek Lian.
Kakek Lian diam saja menanggapai ucapan Tang Hao. Dia sudah menebak bahwa Tang Hao tidak dirinya telah berkultivasi tanpa henti selama itu, dan tadi adalah reaksi yang wajar untuknya.
Tang Hao lalu memeriksa tubuhnya, dan benar saja. Tingginya sekarang seperti anak remaja berusia belasan tahun, tubuhnya yang semakin besar memperlihatkan otot-otot gagah yang senang di pandang. Tang Hao juga baru merasakan kini rambutnya sudah sepanjang punggungnya. Dan tiba-tiba dia teringat dengan pria tampan berambut perak sampai pinggang.
"Apa yang sebenarnya terjadi" Tanya Kakek Lian membuyarkan lamunan Tang Hao tentang pria tampan yang mengajarinya berpedang hingga tahap tertinggi.
Tang Hao terdiam sejenak sambil memikirkan jawabab seperti apa yang harus diucapkannya. Dia masih teringat dengan seorang pria tampan berjubah hitam dan mata hitam yang memanggilnya tuan muda. Pria misterius itu mengatakan untuk tidak menceritakan tentang dua manual yang telah didapatnya entah dari mana kepada siapapun sekalipun itu adalah kakeknya.
"Sebenarnya begini kek,..." Tang Hao menceritakan bahwa ketika mulai berkultivasi, tiba-tiba kesadarannya masuk ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan awan. Di tempat itu ada seorang pemuda yang tampan namun sedikit mirip dirinya. Pemuda itu mengajari Tang Hao teknik berpedang yang sangat hebat tanpa ada kecacatan sama sekali. Pemuda itu mengajari Tang Hao setiap teknik berpedang hingga tahap tertinggi dari setiap jurusnya.
Meskipun ada beberapa hal yang disembunyikan Tang Hao dari kakek Lian dan merasa sedikit tidak enak, namun itu karena dirinya terpaksa. Tang Hao juga menceritakan bahwa dirinya seperti mendapat kasih sayang seperti seorang orang tua terhadap anaknya yang dicintainya. Itu terbukti karena setiap ucapan dan tingkah laku pemuda itu tidak pernah kasar, tidak pernah memarahinya meskipun sering berbuat kesalahan saat berlatih pedang. Dan bahkan Tang Hao juga dapat merasakan ada tatapan kerinduan dari pandangan pemuda itu saat menatap dirinya.
Tang Hao terdiam saat dia teringat bahwa dirinya bermimpi. Mimpi yang seolah nyata. Tang Hao yang ketiduran dalam pelukan pemuda tampan, dirinya di bawa ke sebuah istana yang sangat megah dan mewah. Bahkan istana-istana dalam film fantasi yang pernah dilihatnya di bumi, tidak ada satupun yang dapat menyaingi istana itu.
Dalam mimpi, Tang Hao dapat melihat bahwa dirinya di bawa ke sebuah ruangan yang mana di dalam ruangan itu telah berdiri seorang gadis yang sangat jelita. Tang Hao kaget melihat gadis itu, bukan karena kecantikannya tapi karena sesuatu yang ada di dahi wanita itu persis dengan tanda lahir di lengan sebelah kirinya, yaitu teratai biru.
Gadis itu berlari ke arah Xiao dan langsung mengambil Tang Hao lalu memeluknya erat. Tang Hao dapat melihat bahwa gadis itu menangis dan terdapat kerinduan yang mendalam di kedua matanya. Gadis itu mencium pipi dan kening Tang Hao berkali-kali sambil mengelus rambutnya.
"Hao'er ini ibu nak, maaf baru bisa mendatangimu saat ini karena beberapa hal yang terjadi." Ucap gadis itu sesenggukkan.
"Lihatlah Xiao gege, Hao'er lebih banyak mengambil bagian darimu daripada dariku." Sambung gadis itu masih sesenggukkan.
"Yah di masa depan Hao'er akan terkena masalah besar dengan wajahnya itu jika dia tidak pandai menutupinya." Balas orang yang dipanggil Xiao sambil mengecup pelan rambut Tang Hao.
Tang Hao seketika menangis saat itu dalam mimpinya karena tidak pernah diperlakukan selama ini, namun dia juga cepat-cepat menghapus air matanya karena dia tahu bahwa semua itu hanya mimpinya.
Dia sadar, bahwa dirinya yang tertidur dalam pelukan Xiao dan menganggap bahwa pemuda itu adalah ayahnya sesuatu yang terlalu berlebihan.
"Kamu kenapa Hao'er?"
Suara kakek Lian membuyarkan lamunan Tang Hao, dia segera menghapus air mata di ujung matanya.
"Apa ini efek gravitasi di sini?" Tanya Tang Hao pelan.
Kakek Lian menoleh ke arah Tang Hao lalu mengangguk pelan.
"Apa kamu baru merasakannya sekarang?" Tanya Kakek Lian tidak percaya karena melihat Tang Hao masih terlihat seperti biasa. Dengan gaya gravitasi sepuluh kali lipat dari dunia luar, anak berumur sepuluh tahun tidak akan mampu untuk berbicara. Namun Tang Hao terlihat santai, melompat, berjalan, berlari seolah dia tidak merasa terbebani sama sekali.
Tang Hao mengangguk.
"Ya kek, baru kali ini aku merasa tertekan seperti ini. Jika di domain sebelumnya aku bisa melompat lebih tinggi dari ini, berlari lebih cepat dari ini. Namun ketika di sini kekuatanku seperti di tekan hingga tidak bisa keluar maksimal." Jelas Tang Hao sambil memperagakan melompat dan berlari.
Kakek Lian menahan nafas melihat setiap tingkah Tang Hao itu. Dia saja yang sudah ratusan tahun tinggal di Lembah Kematian masih tetap tidak bisa memiliki kecepatan berlari seperti yang diperagakan Tang Hao.
"Seberapa cepat anak ini jika tidak di Lembah Kematian. Batin kakek Lian memikirkan tentang kekuatan Tang Hao saat ini meskipun masih berada di ranah Elite bintang dua atau tingkat pendekar perak tahap awal.
Kakek Lian dan Tang Hao memasuki kediamannya dan berbincang-bincang di sana. Tang Hao dapat melihat bahwa selama lima tahun ketiadaan dirinya, rumah yang mereka tempati jauh lebih baik dan prabotannya juga terlihat baru. Namun Tang Hao dapat melihat wajah kakek Lian yang semakin menua, bahkan Tang Hao baru sadar bahwa kakek Lian terlihat lebih bungkuk dari sebelumnya. Garis-garis keriput juga telah memenuhi wajah kakek Lian.
Melihat hal ini Tang Hao menjadi sedih, hatinya sedikit sakit memikirkan bahwa kakek Lian mungkin akan meninggalkannya selamanya dari dunia ini. Memikirkan itu saja, Tang Hao tidak sanggup menahan gejolak di dadanya.
"Ada apa Tang Hao? Apa kamu memikirkan sesuatu?" Kakek Lian yang melihat gelagat aneh Tang Hao menegur anak itu. Semenjak Tang Hao berkultivasi, kakek Lian tidak dapat menebak pikiran dan sikap apa yang sedang dipikirkannya. Jika dulu anak itu seperti kertas putih dengan halaman terbuka, maka sekarang dia ibarat kedalaman samudra yang tidak diketahui dasarnya. Begitulah yang saat ini dirasakan Kakek Lian saat ini.
Tang Hao menggeleng pelan lalu tersenyum tulus ke arah kakek Lian. "Tidak ada apa-apa kakek, aku hanya memikirkan betapa singkatnya hidup ini."
Kakek Lian mengerutkan dahinya mendengar jawaban Tang Hao.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan ke depannya jika hidup ini singkat?" Kakek Lian membuka percakapan dengan Tang Hao. Orang tua itu merasa Tang Hao bukanlah anak kecil seperti lima tahun yang lalu. Dia merasa pemikiran Tang Hao lebih dewasa.
Tang Hao terdiam sejenak memikirkan pertanyaan kakek Lian. Dia terpikirkan kehidupannya yang pertama, meskipun saat itu dia masih remaja, namun pengalaman hidupnya di dua kehidupan memberinya secercah harapan.
Dia baru merasakan bahwa hidup ini begitu berharga, hidup ini akan terasa lebih indah jika kita melihat dari kacamata yang berbeda. Sebuah gunung yang sama akan terlihat berbeda di pandangan orang tergantung dari sudut mana dia melihatnya.
Tang Hao memikirkan itu dalam perenungannya saat mulai mengetahui kehidupan keduanya merupakan sebuah kesempatan besar yang diinginkannya sejak dahulu.
"Aku hanya ingin hidup lebih lama." Ucap Tang Hao mantap. Dia kini telah menetapkan tujuannya. Tujuan yang menurutnya mulia dan harus dipertahankannya.
Kakek Lian menaikkan alisnya tidak menyangka jawab Tang Hao akan seperti itu.
"Jika begitu kamu harus menjadi tidak terkalahkan agar kamu bisa hidup abadi. Berarti kekuatanlah yang menentukan hidupmu." Balas Kakek Lian yang memahami keinginan Tang Hao.
"Untuk menjadi kuat, kamu butuh waktu yang tidak sedikit dan kerja keras yang tidak ada habisnya. Apakah kamu siap dengan itu semua?" Lanjut kakek Lian.
"Tentu aku harus siap kakek. Bahkan jika aku harus menghancurkan surga agar aku hidup lebih lama, maka aku akan menghacurkannya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku untuk hidup lebih lama." Jawab Tang Hao tegas dan penuh keyakinan. Bagaimana dia tidak yakin, sedangkan dia mempunyai teknik kultivasi yang mampu mampu menghancurkan surga.
Kakek Lian tersenyum puas mendengar jawaban Tang Hao. Dia memang merasa bahwa Tang Hao adalah orang jauh berbeda dari Tang Hao yang dikenalnya.
"Bagus, kakek suka dengan pilihanmu. Namun jalanmu ke depannya benar-benar akan panjang dan melelahkan. Banyak orang-orang kuat di dunia yang kekuatannya tidak terbayangkan." Kakek Lian menghembuskan nafasnya.
"Kakek tidak bisa bersamamu selamanya. Alih-alih selamanya, kakek mungkin hanya bisa melatih dan menemanimu beberapa tahun lagi. Kakek sudah merasa usia kakek tidak lama lagi. Andaikan kakek dulu punya seseorang yang benar-benar tulus menyayangi kakek." Kakek Lian terdiam sambil teringat dengan masa lalunya ketika berada di puncak kekuatan. Tanpa diminta, kakek Lian mulai menceritakan masa lalunya pada Tang Hao.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...