THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 9



Iris hitam itu beradu, berusaha saling meyakinkan. Namun, si gadis masih sangat ragu. Ada beberapa hal yang harus ia pikirkan sebelum mengambil keputusan yang nanti justru membuat banyak hati tersakiti. Ia menggeleng menahan sesak yang tiba-tiba menekan kuat.


"Hey? Syah ...." Melambai-lambai tangan Yusuf tepat di depan wajahnya.


"Maaf, Suf. Tapi ... aku gak bisa," lirihnya seraya menahan genangan di pelupuk mata.


Genggaman tangan lelaki itu melonggar bersamaan dengan semangatnya yang tak lagi gentar.


"Tatap saya, Syah."


Aisyah menggeleng berulang kali.


"Apa memang harus sampai di sini?" tanya Yusuf lemah dengan mata memanas.


"Hubungan kita aneh, Suf!" tukas Aisyah, menerawang kejadian bulan lalu.


"Aneh?" ulang Yusuf tak mengerti.


Mengangguk, Aisyah menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Dari pertama bertemu dan tiba-tiba menikah."


"Saya langsung melamar kamu, karena cinta itu sebuah fitrah yang harus dijaga, bukan menjadikannya fitnah di hati manusia," jelas Yusuf.


"Tapi, gak ada yang namanya cinta pandangan pertama, yang ada cuma rasa kaum lalu di salah artikan menjadi jatuh cinta."


Aisyah menurunkan lengannya, netra berlinang airmata, membuat Yusuf mengelos seketika. Hilang sudah janji yang takkan membuat sang pujaan menderita.


"Apa sekarang kamu menyesali perhikahan ini?"


Menggeleng, bukan maksud menyalahkan status hanya saja Aisyah bimbang harus lanjut atau udahan. Sedangkan bunda dan mertuanya sudah terikat dalam suatu kebencian.


"Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kita ini, Syah?" lanjut Yusuf bertanya tak sabaran.


Aisyah mendongak, menatap iris hitam yang pernah membuatnya mabuk kepayang. Hingga sekali lamar tanpa perkenalan lebih, berhasil membuatnya melayang.


"Bagaimana dengan Umi?"


Entah kenapa ia teringat wanita paruh baya tersebut, yang selalu memberinya kasih sayang tulus. Namun, dibalas menyakiti tiada batas. Disekanya lagi cairan bening yang kian mengalir deras.


"Umi sayang kamu. Dia sering melamun, berapa kali Abi melihat Umi membuat dua sarapan seperti yang biasa kalian lakukan, dulu. Dia sangat merindukan menantunya, Syah," jelas Yusuf panjang pendek. Hatinya hancur mengingat malaikat buminya terlihat rapuh.


Aisyah mengepalkan tangan, ada sesak yang semakin menghimpit, tapi lagi-lagi ia goyah ketika teringat permintaan bunda dan saudarinya itu, Abel.


"Saya tanya sekali lagi, apa benar kamu mau bercerai" Ragu Yusuf bertanya. Ia sudah hampir putus asa. Wanitanya ini seolah nggak menginginkan kehadirannya.


Suara pintu terbuka lebar, sontak membuat dua insan yang tengah dilanda kekacauan itu, langsung menoleh dengan mimik wajah yang semula sedih berubah tegang.


Namun, detik berikutnya lega seketika, di ambang pintu terlihat Rama menatap geram ke arah mereka. Perlahan ia melangkah, berdiri tepat di hadapan sepasang suami-istri baru itu.


"Yuf, bawa Aisyah pulang. Masalah Bunda, biar ayah yang bicara," kata Rama sekali tarikan napas.


Rama sungguh jengah mendengar putra-putrinya berseteru demi mementingkan kebahagian orang lain. Sementara mereka harus berpisah, hanya karena masalah sepele yang seharusnya sudah damai dari pertama kelalaian terjadi.


Tersenyum senang, tanpa aba-aba Yusuf menarik Aisyah dalam rengkuhannya, sebagai bentuk syukur atas segala kemudahan yang diberikan Allah secara bertubi-tubi.


""Lahawla walaqouwata illabillah"


--


*


Suara murrotal menggema di seluruh penjuru ruangan, gadis itu terenyuh mendengar alunan merdu ayat-ayat Al-Qur'an yang jarang ia baca. Ada rasa mal mendera.


Yusuf menepuk pelan pundak Aisyah, kemudian membawa masuk ke sebuah kamar. Terlihat sang umi sedang membereskan beberapa buku si kembar di karpet tebal depan TV.


Sudut bibir Yusuf terangkat, lantas menarik lengan Aisyah membimbing agar bertemu Sari. Meski wanita berkerudung hitam itu setengah nggak enak hati, tapi ia harus berani menghadapi bagaimana sikap Sari nanti, setelah menyadari keberadaannya.


"Umi ...," panggil Yusuf sembari mengambil posisi duduk di samping wanita paruh baya itu, diikut Aisyah di belakangnya sedikit menyembunyikan diri.


Tersenyum tipis umi melirik, kemudian kembali fokus memasukkan alat tulis ke dalam tas anak-anaknya.


"Umi ...." Aisyah menyapa walau terdengar serak setengah gemetar menahan isak tangis yang meronta ingin keluar.


Menghentikan aktifitas, Sari menajamkan pendengaran memastikan apa yang ia dengar benar nyata atau sekadar rindu berupa halusinasi belaka.


Mengembuskan napas panjang, Sari berdiri hendak mencari kesibukkan lain, berharap bayang-bayang sang menantu segera menghilang.


"Aisyah minta maaf, Umi ...," ucap Aisyah di sela tangis diamnya. Lelehan airmata terus berkucur membasahi pipi.


Sari mematung, perasaan senang bersorak gembira, tapi sesuatu yang tak kasat mata pun meremas kuat hatinya.


"Aisyah, peluk umi, Sayang ...," pintanya memejamkan mata seraya merentangkan tangan tanpa menoleh sedikit pun.


Lekas Aisyah berdiri lalu menabrak tubuh wanita yang sangat ia rindukan belaian hangatnya. Keduanya tersedu sedan. Yusuf tersenyum lebar.


"Aisyah gak bakalan ninggalin Umi lagi."


"Aisyah juga sayang Umi."


"Minta maaf, Umi. Minta maaf ...."


Hening


Sari pingsan seketika, membuat Aisyah berteriak histeris. Secepat kilat Yusuf menangkapnya lalu dibaringkan di karpet. Aisyah panik, segera mengambil bantal di ranjang, kemudian sedikit mengangkat kepala sang umi menyelipkan benda persegi itu di lantai.


--


*


"Istighfar, Syah. Umi baik-baik saja." Diulurkan segelas air putih pada sang istri.


Sudah satu jam lebih Aisyah nggak berenti menangis, mungkin rasa khawatir lebih mendomisili. Berulang-ulang kali ia menghapus sudut mata yang tak kunjung mengering juga.


"Suf ...," panggilnya setelah dirasa mulai tenang.


"Hmm ...."


"Tinggal di sini gapapa kok," ungkapnya, jelas terlihat tak rela.


Mata Aisyah tak bisa berbohong, Yusuf tau betul kata demi kata yang wanita itu ucapkan tak lain hanya rasa iba semata.


Hal itulah yang membuat Yusuf mencintainya, meski belum tau seluk beluk Aisyah, tapi hati sepenuhnya telah yakin. Gadis polos dengan banyak kebaikan hati. Walau sering labil, tapi Yusuf harus mengerti.


"Yakin?" Yusuf mendekatkan wajahnya memangkas jarak.


Seolah sedang berfikir Aisyah diam seribu bahasa.


"Syah ...."


Menghela napas Aisyah menjawab, "Sebenernya aku mau kita hidup mandiri, tapi kalo kaya gini apa mungkin semua ridha mereka ikhlas untuk kit---"


Cup!


Diciumnya bibir ranum istrinya, Yusuf tak tahan melihat benda kenyal itu terus bergoyang di depannya.


Aisyah mendelik melihat mata mereka tak ada jarak sesenti pun. Didorong kuat-kuat dada Yusuf sampai membuat pria itu terhuyung ke belakang.


Tawa Yusuf berderai. Bahagia kembali beredar seiring darah mengalir.


"Mesum!" hardik Aisyah murka.


Bagaimana bisa suaminya mengambil kesempatan di tengah kesedihan mendalam.


"Lebih dari itu juga saya berhak, bukan?" goda Yusuf lagi, langsung dihadiahi pelototan.


"Aku gak mau tidur sama kamu. Sama Umi aja!" Aisyah berdiri, lantas ngacir keluar kamar meninggalkan Yusuf yang melongo di tempat.


--


*


Bulu kuduk Aisyah merinding melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Namun, nggak ada alasan untuk mengabaikan.


Lekas ia terima.


"Assalamualaikum, Bel."


Hanya terdengar perempuan sesegukan.


"Kamu kenapa?" Aisyah mulai panik.


"Ka-- kamu kembali sama Yusuf, kan? Ak-- aku nggak nyangka, Syah! Kamu kejam!" terbata-bata suara Abel sambil terus menangis.


"Dengerin dul--"


Belum sempat Aisyah menjelaskan panggilan telah diputus sepihak.


Tak lama kemudian chat Abel datang, saat dibuka betapa terkejutnya Aisyah, melihat foto yang Abel kirimkan.


Tiga garis torehan pisau di pergelangan tangan dengan darah bercecer di lantai. Disusul isi pesan.


[Lebih baik aku mati, dari pada harus memikul derita lagi]


--


*