THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 19



Merapikan kerudung sambil menelisik muka dalam pantulan cermin. Gadis itu heran dan


pula bersyukur. Merasa aneh, dia dibawa sebagai sandera kemari, tapi tidak diberi kesulitan sama sekali. Makan teratur, disediakan fasilitas yang mewah, pun ingin sesuatu tinggal minta, setelahnya langsung ada.


Seperti kemarin, Aisyah tiba-tiba ingin memakan durian, melon dan manggis tepat pukul larut malam. Lalu tanpa banyak dirundung pertanyaan semua langsung terlaksana.


"Positif thinking aja, kali, ya," pikirnya setengah bingung.


"Astaghfirullah, jangan seudzon, Aisyah ... jangan!"


Menarik napas dalam-dalam, lalu diembuskan perlahan dengan tangan naik turun di udara. Semoga semua baik-baik saja.


Pintu terbuka, Aisyah terperanjat lantas berdiri. Terlihat Abel dan dua lelaki mengikuti.


"Tanda tangan!" Abel melempar map hitam dalam genggaman, kemudian melipat lengan di dada.


Aisyah bergeming, debar-debar mulai memenuhi rongga dada. Nggak perlu bertanya, pasti benda yang melayang tadi adalah surat perceraiannya.


"Gue males, banyak bacot ama lu. Jadi tolong kerjasamanya. Cepet tanda tangan dan semua beres," lanjut Abel ketika tak kunjung mendengar Aisyah bersuara.


Hening


"Aisyah! Jangan sampai gue hilang kendali!" sentak wanita itu lagi, giginya bergemelatuk menahan amarah.


Menggeleng, Aisyah tidak mau merespon apapun.


"Robert!" Lantang Abel memanggil.


Yang disebut, segera mensejajarkan posisi di samping bos-nya.


"Iya, Non."


"Lucuti seluruh pakaiannya!" Tanpa segan Abel memerintah, menatap tajam Aisyah.


Bergetar, Aisyah menyilangkan kedua lengan menutupi seluruh area dada. Seolah dengan begitu bisa melindungi tubuhnya.


Laki-laki tersebut lekas melangkah, tanpa rasa takut atau sekadar kasihan. Pandangannya lurus menusuk objek di depan.


"Berhenti!" seru salah seorang pria dari ambang pintu. Reflek semua menoleh.


"Jangan terlalu ganas, Sayang," sambungnya.


"Lalu?" Alis Abel terangkat.


"Main cantik, seperti caramu selama ini."


"Dengan cara apa, Hans?"


Hans beralih pandang, menatap lekat wanita yang kian memucat.


"Namamu Aisyah?" tanyanya.


Aisyah tidak menjawab. Kepala pusing memikirkan hal apa yang akan terjadi padanya.


"Pilih disetubuhi Robert atau menuruti keinginan Abel?"


Mendongak, netra hitam Aisyah berkaca-kaca lalu menggeleng lemah seraya mundur selangkah.


Abel menyeringai penuh kemenangan.


"Atau kau memiliki pilihan lain?" Hans kembali bertanya.


"Ap-- apa, boleh?" terbata-bata Aisyah menjawab, menahan getaran dasyat dalam dada.


"Tentu saja boleh. Asal intinya tetap bercerai!" sahut Abel.


"Semisal aku tidak ingin bercerai artinya aku akan--"


"Diperkosa masal!" timpal Abel asal, lalu tergelak.


Aisyah menggeleng kuat, mencoba mengusir rasa sakit yang irrasional mendera tanpa jeda.


"Ayolah, Aisyah. Kurang baik apa kami padamu selama ini?" tanya Abel tidak sabaran.


Menghela napas panjang, Aisyah harus memutuskan sesuatu.


"Aku ... akan bercerai," tukasnya kemudian.


Abel mengulum senyum, dua pengawal tadi diitruksi Hans agar meninggalkan ruangan.


"Tapi, aku meminta satu keringanan," pinta Aisyah, menghiba.


"Katakan," balas Hans dengan nada dingin.


Sesuana makin mencekam, Aisyah menatap kedua manusia itu bergantian, dan menutup mata sesaat.


"Kasih aku kesempatan seminggu saja, hidup bersama suamiku. Untuk yang terakhir kali."


Lalu hanya kebisuan dan lelehan airmata yang mengakhiri segalanya.


--


*


Mata mengedip berulang kali, seakan meyakinkan apa yang dilihatnya adalah sebuah kenyataan yang tidaklah fana.


"Masih sama," lirih lelaki itu.


Berbinar tidak bisa lepas dari wanita yang berdiri anggun dengan balutan gamis kemerahan. Di sana, tak jauh dari jangkauan, dia tersenyum manis, meski jelas terpancar banyak guratan kesedihan.


"Kamu, nggak kangen aku?" tanya Aisyah setengah kesal.


"Ummah ...."


Netra Aisyah mengabur, disusul cairan bening meluncur. Kaki jenjang itu melangkah cepat hingga menubruk dada bidang seseorang, menyalurkan ledakan tangis terpendam.


"Minta maaf, Baba ...," cicitnya pelan.


Mematung, ada sesuatu dalam diri Yusuf yang membuncah. Namun, bukan lagi duka, melainkan bahagia melanda.


Aisyah mengangkat wajah, "Suf, kamu marah? Juga kecewa sama aku?"


Sudut bibir pria itu berkedut, tidak mengakatan apa-apa hanya ingin memeluk erat wanita di depannya.


"Yusuf ...," panggil Aisyah sambil berusaha mengurai pelukan, tapi suaminya enggan.


"Aku capek!" keluhnya.


"Yusuf ... pliiiss ...."


"Baba, Sayang. Baba. Bukan Yusuf."


Aisyah bergidik geli, embusan napas lelaki itu membuat bulu kuduknya meremang berdiri.


"Oke, Babaku sayang, Babaku cinta. Nurut, ya?"


Melonggarkan pelukan, Yusuf mengerutkan kening. "Selama ini kurang nurut apa baba sama Ummah?"


Aisyah melepaskan diri sedikit memberi jarak. "Aku mau kita tinggal di kontrakan selama seminggu aja."


"Kontrakan?"


"Iya."


"Kenapa?" tanya Yusuf masih tidak mengerti dengan permintaan tiba-tiba dari istrinya.


Menghela napas, Aisyah mulai menjelaskan keinginannya. Alasan pertama, ingin seatap berdua saja dengan suami, walau sebentar. Kedua, belum siap bertemu sang bunda, dan ketiga supaya Sari dan Ratna kembali rukun seperti awal besanan.


Yusuf mengganguk paham. "Kontrakan atau apartemen?" tanyanya sekali lagi, meyakinkan.


"Kontrakan, Baba sayang! Aku itu pengen banget nemenin kamu dari nol. Kaya orang-orang merantau gitu." Aisyah terkikik pelan.


Gemas, lelaki tersebut mencoel hidung bangir sang istri. Lantas tawa itu menular.


--


*


Bibir Aisyah melengkung, menikmati suasana baru kontrakan yang hanya berukuran tiga petak. Seusai mencari tempat tinggal yang cocok dan berbelanja macam-macam perabotan rumah tangga. Keduanya baru bisa istirahat pukul dua dini hari. Namun, si wanita tidak ingin menyia-nyiakan pemandangan malam yang menurutnya sangat memanjakan mata, ditambah angin sepoi yang menyegarkan kepala.


"Kompornya udah dipasang. Masuk, yuk." Yusuf datang dari dalam, berhenti tepat di samping Aisyah.


Wanita itu mengulurkan kedua lengan, "gendong, ya," renggeknya manja.


Dengan senang hati sang suami mengangkat Aisyah dalam pangkuan, lalu berdiri. Kaki menggeser sedikit pintu, kemudian membaringkan wanita itu di karpet lebar, bergambar hello kitty setelah dibentangkan dua kasur tebal di bawahnya.


"Aku kunci pintu dulu, ya."


Aisyah mengangguk.


Menit berjalan, Yusuf ikut serta tidur bersebelahan.


"Kamu selama ini kemana, Syah?" Yusuf memulai pembicaraan.


Pandangan Aisyah lurus ke langit-langit kontakan. "Hanya menenangkan diri."


Hening


"Tentang Bima ...." Aisyah merubah posisi menjadi terlungkap, menatap lekat sang suami yang tidur terlentang.


Alis Yusuf terangkat. "Kenapa?"


"Yang di hotel itu."


Yusuf mengangguk.


Menghela napas, Aisyah tersenyum getir mengingat kilatan-kilatan empat tahun silam.


"Malam itu, acara promnight, Abel dan Salsa memaksa aku yang berjilbab mengenakan dress sexy, biar couple kata mereka. Karena enggak mau buat mereka kecewa, ya, aku ... lepas penutup kepala dan mengikuti mereka."


Jeda sesaat, Aisyah menarik napas lagi.


"Tiba-tiba pesta itu heboh, dan Kak Bima narik paksa aku keluar dari sana. Awalnya mau marah, tapi ternyata dia nyelamatin aku dari murkanya Ayah. Malam itu kami, aku dan dia menyusuri trotoar hingga larut malam. Dirasa lelah, entah pikiran dari mana kami memilih menginap di hotel yang murah. Paginya, aku udah di rumah, Bunda bilang Ayah yang bawa pulang. Setelah itu aku nggak pernah lagi ketemu Kak Bima, isu beredar dia pindah enggak tahu kemana."


Hening


"Yusuf ...."


Tidak ada sahutan.


"Baba ...."


Ada senyum tipis di bibir lelaki itu.


"Kamu percaya?"


"Percaya. Akan selalu percaya sama Ummah."


Yusuf segera memalingkan wajah ke sembarang arah, yang penting tidak bertatap dengan mata lentik penuh harap itu.


"Kamu bilang setuju, tapi bahasa tubuhmu tidak mendukung itu," rajuk Aisyah.


Meski kacau antara percaya atau tidak. Tetap saja. Ngambeknya Aisyah adalah kelemahannya, ia kembali menatap Aisyah.


Wanita itu sedikit merangkak ke atas dada sang suami, menindih pria itu dengan bertopang dagu.


"Butuh bukti?"


"Memang ada buktinya?"


"Lakukanlah!"


Yusuf mengernyit bingung. "Apanya?"


Berdecak sebal, Aisyah mengerling malas.


"Apa yang ada di otak kamu, saat tahu ada dua manusia dihotel tidur seranjang."


Mata Yusuf terbelalak. "Maksud kamu ...."


Aisyah mengangguk mantap. "Biar sepenuhnya percaya, Baba!" serunya gemas.


Cup!


Aisyah menjulurkan lidah, setelah mencium kilat bibir kemerahan yang menggiurkan itu.


Kepala Yusuf sedikit terangkat mendekat, memangkas jarak. Ditatapnya lekat Aisyah, lalu mulai mengulum bibir ranum sang istri dengan penuh kelembutan. Tangan lekas mendekap pinggang ramping Aisyah. Hingga keduanya saling hanyut dalam pusaran itu.


--


*