THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 12



Termenung, menatap pantulan diri dalam cermin. Wajah kusam, bawah mata menghitam, bibir segan sekadar membentuk seulas senyuman. Kisah hidup berantakan. Segala harapan dalam angan telah musnah, berserakan entah kemana. Kebahagian seakan menjauh darinya.


"Allah ... hamba tau, setelah menikah surgaku telah beralih, tapi mengapa begitu berat memperiotaskan suamiku," lirih Aisyah sambil menekan dada kuat-kuat. Lagi-lagi hanya airmata yang mengisi hari-harinya.


Perlahan tangan membaca pesan bertubi-tubi dari abinya. Semua telah terbongkar, tinggal menunggu, apakah saudarinya itu ingin berhenti atau pernikahannya memang lebih pantas usai.


"Kak Ai ...!" pekik Si Kembar serempak dari balik pintu.


Aisyah segera menghapus cairan bening yang sempat membanjiri pipi, lalu beranjak menemui kedua adiknya, tak lupa dengan senyum yang dipaksakan.


"Hay ... ada apa manis-manisku?" tanya Aisyah setelah membuka pintu seraya menunjukkan mimik muka dibuat riang gembira.


Tara dan Tari cekikikan merasa lucu dengan tingkah si kakak.


"Ada Om-Om nyariin Kakak!" seru Tara memberi tahu.


"Om?" Heran Aisyah, mencoba menebak siapa yang dimaksud mereka.


"Bukan Om!" Tari memukul kepala saudara serahimnya itu.


Tara mengaduh sembari mengelus rambut yang sedikit hangat. Aisyah tertawa kecil lantas menggendong Tara, sedang Tari di sampingnya.


"Itu Aisyah!" Sari bersuara, semua yang di ruang tamu kompak menoleh.


Aisyah menurunkan Tara, kemudian memilih duduk di dekat Sari. Yusuf dan Rama sesaat saling pandang seakan mengerti apa yang harus dilakukan.


Yusuf berdehem. "Bukannya Umi tadi buat brownis?"


Yang ditanya mengangguk.


"Kebetulan Ayah ingin sekali memakannya," sambung Yusuf seraya melirik Rama yang tengah tersenyum malu.


Tawa Sari berderai. "Ya ampun. Kupikir ke sini karena rindu Aisyah ternyata cuma mau brownis. Baiklah, Umi akan mengambilnya dulu." Panjang pendek ia berkata, setelah itu melenggang ke dapur bersama dua putrinya.


Hening


"Nak ...," panggil Rama memecah kecanggungan di antara mereka bertiga.


Aisyah bergeming. Masih ingat jelas chit-chat sang ayah yang terang-terangan menolak mentah keputusannya menyerahkan suami pada saudari angkatnya tersebut.


"Maaf, aku ke toilet dulu," pamit Aisyah tanpa mendengar jawaban langsung melangkah pergi.


Menghela napas, Rama menepuk bahu menantunya yang terlihat putus asa.


"Masih ada cara lain," saran Rama berusaha membuat Yusuf kembali semangat.


"Dengan cara apa, Yah?" tanyanya lesu.


"Untuk saat ini kamu harus pura-pura tidak tau apapun, kita pantau saja dulu. Dirasa sudah melampaui batas baru bertindak."


"Ini sudah diujung batas, Yah," geram Yusuf, bayang-bayang kata cerai terlontar dari mulut sang istri kembali terngiang.


"Bersabarlah, Nak. Sekarang Abel urusan ayah. Dan tugasmu berikan yang terbaik untuk Aisyah," kata Rama masih bersikap tenang, meski dalam hati panas semakin menguasai raga.


Waullahi, Yusuf sungguh dilanda kegelisahan, tapi dengan keyakinan pada Allah. Insya Allah segala kesusahan akan berlalu begitu saja.


"Allahu akbar," gumamnya, yakin.


--


*


Hendak menghampiri Aisyah yang tengah berkutat di dapur. Namun, berhenti sejenak, ada rasa ragu menyergap.


"Sudah siap, Nak?"


Suara Umi dari belakang mengagetkan pria yang tengah berdiri di samping kulkas, mengamati sang istri yang sibuk mengiris sesuatu.


Aisyah melirik sebentar tanpa berniat bertanya mengapa suaminya berdiri di sana.


Mengembuskan napas kasar, Yusuf berbalik memandang datar sang umi.


"Astaghfirullah al-adzim ...," batinnya, meredakan amarah yang sedikit tersulut.


"Ditanyain kok malah bengong!" celetuk Sari menatap aneh anaknya, lantas kembali menata beberapa hidangan makanan di meja.


Aisyah menoel sedikit tubuh tegap lelaki yang berdiri kaku di depannya.


"Mana dasinya!"


Yusuf yang sempat menegang langsung mencair seketika, senyum terbit di bibirnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, segera ia memutar badan dan mengulurkan benda yang diminta istrinya.


"Nunduk dikit, Suf!" suruh Aisyah sambil cemberut. Suaminya itu sudah sekian kali dipakaikan dasi, tapi nggak paham-paham juga jika tubuhnya itu terlalu jangkung.


Senyum Yusuf lebih semringah sembari membungkuk.


Mengangguk, Aisyah mulai memasangkan dasi dengan cekatan.


Cup!


Aisyah mendelik, Yusuf tersenyum lebar merasa puas, akhirnya bisa mencium kening istrinya lagi.


"Sekali saja. Pengganti sarapan. Saya ada rapat pagi. Assalamualaikum!"


Mencari aman, Yusuf cepat berlari ke luar sebelum mendengar amukan sang istri.


--


*


"Syah! Kita dapet tawaran ngajar di SMA Tawakal!" Kencang suara Salsa dari seberang, membuat Aisyah menjauhkan ponsel dari telinga.


"Terima, kuy!" Lagi suara melengking sahabatnya itu terdengar.


"Syah ...! Kok diem sih?"


"Woy!"


Aisyah bungkam, membiarkan Salsa terus berteriak. Pikirannya jadi kalang kabut. Masalah rumah tangga belum mendapat titik cerah, sekarang bertambah lagi kebimbangannya.


Mengajar?


Hal yang paling ia cita-citakan sebelum masuk kuliah. Membayangkan bagaimana ia mengajar murid-murid tampan dengan usianya yang masih muda. Bahkan terkadang terlintas kalau-kalau bisa cinta lokasi dengan berondong. Memikirkan itu membuatnya mendadak pening. Haruskah ia bernegosiasi pada sang suami. Atau membiarkan impiannya berlalu begitu saja.


"Syah ....! Aisyaaaaah! Anak kurang ajaaar! Mati aja sekalian! Cuekin aja terus!"


Berbagai sumpah serapah Salsa membuyarkan lamunan Aisyah. Sebentar ia menetralkan kegugupannya.


"Sorry, tapi aku mau istirahat dulu, bye!"


"Heh ...! Tunggu! Gimana kelanjutan ini? Terima atau enggak?"


Aisyah malas berdebat, dimatikannya telepon sepihak.


Mengembuskan napas pelan, pikiran melayang dengan berbagai khayalannya semasa SMA dulu.


--


*


"Jangan datang lagi cinta, kutak mau ada yang terluka bahagiakan dia, aku tak apa. Biar aku yang pura-pura lupa ...."


Menikmati suara indah sang pujaan yang tengah menyisir rambut sambil bernyanyi. Tanpa mengetahui keberadaannya. Yusuf tersenyum miris, mengingat rumah tangga yang dengan susah payah ia jaga. Malah dengan mudah akan dilerai oleh orang yang bahkan belum begitu ia kenal.


Gadis yang ia nikahi, gadis yang sekali pandang langsung membuat jantung berdebar, gadis yang manis nan lugu, sangking polosnya gampang diperdaya dan ditipu. Bisakah ia mempertahankan semuanya, tanpa menyakiti hati sesiapa.


Mengacuhkan kekacauan, Yusuf tak mau ambil pusing lagi, lantas berjalan memeluk Aisyah dari belakang membenamkan wajah di ceruk leher istrinya.


"Saya rindu, Syah! Saya ingin selalu memeluk kamu. Mencium kamu sesuka hati saya. Layaknya suami-istri pada umumnya. Seperti Abi dan Umi atau Ayah dan Bunda. Saya menginginkan itu, Syah. Aisyah milik Yusuf, kan? Aisyah mencintai Yusuf, kan? Aisyah---"


Ucapan panjangnya terjeda bersamaan dengan baju Aisyah mulai basah.


Yusufnya menangis?


Aisyah bergeming, melepas sisir beralih menggenggam tangan Yusuf. Entah untuk apa, yang ia tahu hanya keheningan yang menyiksa.


Keduanya sama-sama terluka.


"Akuu--"


"Yusuf mencintai Aisyah, begitu juga sebaliknya, kan?" tanya Yusuf setengah bergetar.


Aisyah mengangguk samar.


"Kita menikah karena saling cinta, kan, Sayang?"


"Jawab, Syah ...."


"Jangan katakan pisah ...."


"Saya sakit, Syah ...."


"Saya mohooon."


Aisyah memejamkan mata, tak tahan dengan luka yang kian menganga.


--


*