
Termenung, gadis berparas putih nan ayu itu bertopang dagu, pandangan melayang jauh ke jalan raya. Iris hitam pekat yang dulu indah kini tak lagi memesona, warnanya ikut pudar bersamaan dengan genangan di pelupuk mata yang terus membuatnya menjelma merah delima. Sorot sendu, tapi tersirat banyak pilu.
"Kita akan ke mana, Pak?" tanya Aisyah akhirnya setelah lama bungkam.
Lelaki tua itu melirik lewat kaca spion. "Kurang tahu, Nak. Hanya mengikuti perintah Nona Abel saja."
Aisyah mengangguk, meski terperangkap dalam keadaan sulit. Namun ada rasa tenang sedikit, yang mengawasinya adalah orang baik.
"Boleh meminta satu permintaan?" kata Aisyah lembut, berharap pria paruh baya itu sedikit berempati.
"Katakan saja."
"Aku ingin menghubungi suamiku, Pak."
"Suami? Bukan Bundamu?"
Aisyah menggeleng, walau terlambat menyadari, tapi bukan berarti ia tidak mengakui bahwa sang suami sekarang tempatnya bernaung menuju jannah-Nya.
"Aku merindukan dia, Pak," lirihnya seraya kepala menengadah takut cairan bening membasahi pipi.
"Tapi, sangat beresiko untuk bapak, Nak." Ragu lelaki itu dengan tatapan terus fokus mengikuti mobil di depannya.
"Sekali saja. Setelahnya aku tidak meminta apapun lagi, meski saat malaikat pencabut nyawa menjemput." Aisyah mengiba, menahan sesuatu dalam dada yang kian menyesak.
"Tapi ...."
"Baiklah, aku paham. Ada keluarga yang Bapak jaga. Maaf terlalu memaksa." Disekanya airmata yang hampir tumpah. Kembali Aisyah melempar pandangan ke luar jendela.
Hening
Ponsel mantan supir Rama bernama Faizal itu berbunyi, secepat kilat diangkatnya.
"Aman. Iya, bisa nanti saja, Bos."
Panggilan dimatikan.
Faizal menggenggam kuat ponselnya, laju mobil diperlambat. Lantas sedikit mengangkat bokong mengambil sesuatu di belakang kaca spion, lalu membuka setengah jendela mobil dan membuang benda kecil tersebut.
Suara udara deras membuyarkan lamunan wanita itu, Aisyah menoleh menatap gelagat mencurigakan lelaki itu. Namun enggan bertanya hanya mengamati saja.
Ditutup kembali kaca jendela, lantas menyodorkan benda persegi di tangan ke belakang. "Cepat ambillah ini, Nak! Tapi, kau tidak boleh mengatakan dimana keberadaanmu saat ini."
"Tapi, Pak---"
"Cepatlah, jangan buang waktu."
Aisyah mengangguk, jempolnya mulai menekan beberapa nomer, dirasa sudah tepat langsung ia telpon.
Dering pertama tidak ada respon sampai suara operator terdengar. Lagi, Aisyah berusaha menghubungi.
Hasilnya sama, tidak ada jawaban.
"Kamu kemana Yusuf," ucap Aisyah menatap nanar deretan angka dalam ponsel.
"Belum diangkat juga?" tanya Faizal menoleh ke belakang sekilas.
Mengangguk lesu, Aisyah kembali menghubungi suaminya.
"Halo ...." Akhirnya suara serak lelaki mengalun.
Aisyah menutup mulut dengan satu tangan kanannya, kelopak indah itu menitikan airmata dalam sunyi yang menjadi saksi kerinduannya.
"Maaf dengan siapa?" Suara dingin nan tegas itu kembali terdengar.
Hening
"Maaf sebelumnya, jika tidak ada urusan penting berhentilah menghubungi. Saya sedang sibuk!"
Panggilan diputus sepihak. Aisyah tertawa kecil, ada hangat yang menjalar ke dada. Menenangkan.
"Kenapa tidak bicara?" tanya Faizal melirik kaca spion.
Aisyah menggeleng. Diulurkannya benda pintar tersebut ke bahu Faizal. "Benar aku merindukan suamiku, Pak. Tapi aku juga tidak mengingkan dirimu dalam bahaya, hanya karena membantuku."
Faizal tersenyum, tidak salah bila hatinya tergerak menolong gadis malang itu.
"Buang saja hape itu dijalan."
Aisyah mengernyit heran. "Kenapa?"
"Jika tidak dibuang hape itu akan membuat masalah."
"Maksudnya?" Aisyah masih tidak mengerti.
"Benda itu bisa menjadi barang bukti, jika bapak mencoba menolongmu."
Manggut-manggut paham, Aisyah segera melaksanakan instruksinya.
"Lalu apa yang Bapak buang tadi?" tanya Aisyah tidak dapat lagi membendung rasa penasarannya.
"Oh, itu. Alat penyadap suara."
Bibir Aisyah menganga.
"Cukup, Nak. Diamlah atau berpura-pura tidur, kita hampir sampai." Faizal membelokkan stir ke halaman sebuah rumah mewah.
Aisyah menyusuri sekitar, sempat berdecak kagum menatap sekeliling, tampak memanjakkan mata dengan pemandangan sawah yang baru ditumbuhi bibit-bibit padi yang terlihat menyegarkan.
Namun Aisyah heran mengapa dia dibawa ke sini, sedangkan biasanya jika disandera pastilah di tempat menyeramkan seperti rumah tua kemarin.
"Jangan heran. Ini salah satu tahtik psyco profesional agar tidak mudah dilacak." Faizal menjelaskan sambil mencari tempat yang pas untuk parkir.
"Tidurlah, saya akan menemui mereka dulu." Faizal menghentikan mobil, lalu dengan terburu-buru menghampiri Abel dan tiga pria tegap yang baru turun dari mobil.
Aisyah tidak ingin memperumit keadaan, lekas ia membaringkan tubuh penatnya.
--
*
"Gimana?" Yusuf yang bersandar di tembok segera bertanya ketika melihat Ahmad menyembul keluar.
Mengembuskan napas, Ahmad menggeleng. "Shellina masih ketakutan. Dia bahkan enggak natap bisa Dokter."
Hening sesaat.
"Bima kemana?" lanjutnya saat menyadari sepupunya hanya sendirian.
Adzan berkumandang, dua pria itu saling pandang, lantas terukir senyum tipis di antara mereka.
"Allah sebaik-baiknya penolong!" seru Yusuf penuh keyakinan.
Ahmad mengangguk setuju.
--
*
Bima menyambar pergelangan tangan Salsa yang nyaris menyentuh bel. Membuat wanita itu tersentak kaget.
"Jangan *****! Ini bukan hal main-main! Lu mau cepet masuk kuburan, hah?!" hardik Bima lalu menghempaskan tangan Salsa.
Gadis itu meringis. "Gue cuma--"
"Pulang! Cewek jahat itu enggak ada di dalem," potong Bima sambil mengayun langkah.
Salsa pun berusaha menyamai langkah lebar pria yang tengah marah tersebut.
"Maaf, Bim. Tapi gue cuma mau ikut ban--"
"Diem, Sal. Gue enggak mau makin memaki lu," balas Bima penuh penekanan.
Salsa berdigik ngeri.
"Mudah sekali dibaca." Abel tertawa mengejek.
"Salsa ... Salsa .... Rencana lu terlalu gampang ditebak." Tangan lentiknya mengetuk-ngetuk dua muka yang tertampang jelas di ponselnya.
"Apa yang membuatmu terlalu bahagia?" Suara barington menggema.
Abel mendongak, wajahnya berseri. "Mendengar obrolan sepasang saudara dari cctv apartemen."
Tawa pria jangkung berusia tiga puluh delapan tahun itu berderai.
"Memang apa yang mereka lakukan, honey?" tanyanya semakin mendekat.
Abel meletakkan ponsel di meja, lalu menyenderkan punggung di sofa. "Entahlah, malas membicarakan dua manusia bodoh yang sok berkedok pahlawan seperti mereka."
--
*
Lelaki paruh baya itu celingak-celinguk menatap dalam rumah yang seolah tidak berpenghuni. Sepi.
"Kok nggak langsung masuk, Bi?" tanya anak lelakinya dari belakang.
Yazis menoleh. "Aneh aja, tumben enggak ada orang sama sekali," jawab Yazis. Lalu mengulurkan paper bag ke depan putranya.
Mengerutkan dahi, tapi Yusuf tetap menyambut.
"Itu barang-barang Ayah mertuamu," kata Yazis sambil melangkah ke dalam, lantas duduk di salah satu kursi.
Yusuf ikut menghempaskan pinggul dekat sang abi.
"Oh, ya? Dari mana?"
"Polisi."
"Lho, kenapa baru dikasih sekarang, dua hari sebelumnya saya tanya, mereka bilang tidak ada apapun."
Malas bermasalah, Yazis mengendikkan bahu. "Sudahlah, biarkan saja. Dan bagaimana dengan pertemuanmu hari ini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Dengan Shellina?"
Yazis mengangguk.
Menghela napas, pikiran Yusuf kembali teringat kejadian di rumah wanita tersebut. "Sedikit susah komunikasi dengannya, Bi."
"Kenapa?" Yazis menggeser posisi menyamping supaya lebih leluasa melihat putranya.
"Mentalnya terganggu, setiap kali nama Abel disebut."
Yazis mengangguk, memaklumi. "Hal yang wajar. Memangnya benar dia melihat sendiri?"
"Kata Ahmad seperti itu, bahkan dia sempat merekam," jawab Yusuf seadanya.
"Merekam?" Yazis membeo.
"Iya."
Hening
Yusuf mulai membongkar isi dalam paper bag, seakan mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk.
"Aneh, kenapa video bukti itu tidak diberikan ke kantor polisi," ucap Yazis keheranan.
Menghentikan aktivitas, Yusuf diam sejenak, lalu menggeleng. "Entahlah, Bi. Mungkin Shellina terlalu takut."
"Pasti ada sesuatu, Nak. Coba kamu berunding sama Ahmad. Kapan bisa berbicara dengan Shellina lagi."
"Nanti, Yusuf tanyakan."
Yazis mengangguk.
"Oh, iya. Tolong jemput si kembar, ya, di rumah Kakekmu."
"Memangnya Umi kemana?" Heran Yusuf biasanya tiga wanita itu selalu lengket.
"Mengantar Ratna mengambil pakaian, selama Aisyah belum ditemukan, dia akan tinggal di sini."
Setelahnya Yazis berdiri, melangkah ke kamar ingin mengistiratkan diri, tubuhnya amat lelah hampir tiga hari jarang menyentuh kasur.
Mengangguk paham, Yusuf meluncur ke bagasi. Namun terhenti oleh getar ponsel dari kantung celana jeansnya. Lekas dirogohnya.
Matanya menyipit, isi chat itu dari nomer baru yang mengirimkan sebuah titik lokasi terkini, dengan pesan menyusul di bawahnya.
[Aisyahmu, disekap di sana]
--
*