
Selesai dengan segala urusan administration dan segala hal di rumah sakit. Akhrinya Yusuf diperbolehkan pulang, tetapi perawatan tetap berjalan. Yusuf masih dalam pantauan olwh Dokter, dan harus sering melakukan chek-up agar dapat sembuh total. Namun, Aisyah tidak senang mengetahuinya. Ia merasa masih begitu canggung ketika nanti akan sering berjumpa sang mertua. Hanya saja, ia tidak tahu lagi harus mambawa suaminya pulang ke mana selain rumah milik orangtua Yusuf. Bisa saja ia membujuk suaminya untuk kembali tinggal di kontrakan, tapi akan ketauan Dona bahwasannya mereka adalah orang kaya. Aisyah tidak mau itu terjadi.
Lama Aisyah melamun menatap Yusuf yang tengah memakan potongan buah. Beberapa kali ia menghela napas panjang, membuat Yusuf cukup terganggu, tapi lelaki itu memilih diam membiarkan istrinya berperang dengan pikirannya sendiri.
Setengah jam kemudian hingga buah dipangguan Yusuf habis. Aisyah tidak kunjung mengajaknya berbicara.
"Apa sih yang dipikirin?" Akhirnya Yusuf buka suara.
Aisyah mencebikkan bibir, mukanya terlihat lesu. "Aku ...."
Hening lagi. Aisyah tidak tahu mau menjawab apa.
"Gamau pulang ke rumah?" tebak Yusuf tepat sasaran
Diam saja Aisyah, tapi tubuhnya yang semula duduk berubah sedikit tegak. Perlahan kepalanya mendongak, lantas mengecup bibir Yusuf seperkian detik. Sontak saja lelaki itu kaget dengan pergerakan yang diluar ekspektasinya.
Berbeda dengan Aisyah yang kembali duduk dengan perasaan biasa saja seperti tidak melakukan hal-hal aneh. Malah Aisyah menunduk, kembali mencari jalan keluar terbaik versinya, yang pasti tidak ingin merugikan siapa pun lagi.
"Syah?" panggil Yusuf.
Terdengar helaan napas dari mulut Aisyah, wajahnya setengah mengadah meliahat Yusuf yang balik menatapnya begitu dalam.
"Pinginnya sih aku bilang ke kamu. Aku gapapa, aku baik-baik aja. Aku nggak ada pikiran yang mengkhawatirkan. Santai aja kaya dipantai. Mau banget ngomong gitu, tapi nggak sesuai kenyataan ...." Panjang lebar Aisyah berucap.
Tentu saja Yusuf paham maksud istrinya, segera tangannya yang masih sedikit tak berdaya itu mengusap ubun-ubun Aisyah. Mencoba menenangkan.
"Maunya gimana?" Yusuf bertanya. "Balik ke rumah atau ke kontrakan?" sambungnya memastikan.
Gegas Aisyah menggeleng. Akan lebih banyak drama dan kebohongan kalau mereka kembali ke kontrakan dengan keadaan yang kurang dari kata baik.
"Pulang ke rumah aja lebih baik," putus Aisyah.
"Yakin?"
Aisyah mengangguk. "Tapi boleh nggak?"
"Apa?"
"Gini ...." Aisyah membenahi cara duduknya agar lebih leluasa menatap Yusuf. "Keputusan paling baik kamu balik ke rumah Umi. Supaya Rawat jalan kamu lancar, tapi aku ...." Aisyah menggantung kalimatnya.
Dada Yusuf bedegup lebih cepat mendengar kata 'tapi aku' maksudnya apa? Sungguh tidak sabar Yusuf menanti kelanjutannya.
Tatapan yakin Aisyah perlihatkan. "Tapi aku gabisa ...."
"Gabisa?" Bibir Yusuf membeo bingung. "Gabisa apa, Sayang?" Asumsi kepalanya berkecamuk, tapi masih berupaya memikirkan hal positif.
"Nggak perlu aku jelasin, kamu pasti paham." Senyum Aisyah mengembang, tangannya menyentuh lengan Yusuf yang masih setia mengusap puncak kepalanya memberikan kenyamanan.
"Syah ...." Mata Yusuf berembun seketika. "Kenapa seolah-olah pilihan hidup kamu nggak pernah ada yang lain kecuali ninggalin aku?" Nada lesu itu tercetuskan seiring airmata yang menetes begitu saja.
Hening merayap.
--
Bersihadap Abel dan Ratna duduk di lobby hotel. Entah apa yang tengah diobrolkan hingga membuat mimik muka keduanya terlihat gelisah. Sampai akhirnya Ahmad datang memecah ketegangan.
"Bel?" Ahmad memanggil saat kakinya berhenti tepat di sisi kiri gadis berdress hitam selutut itu.
Abel mendongak.
"Clear," ucap Ahmad ambigu.
"What?" desak Abel tertahan.
Sedikit mengehela napas, Ahmad menjawab. "Gaada ranah hukum untuk kasus kalian kali ini. Keluarga Yusuf fix menutup semua tuntutan yang seharusnya ada."
Sesungging senyum Abel tercetak jelas. "Oke!" Singkatnya, lantas berdiri bersamaan dengan Ratna hendak nelenggang pergi begitu saja tanpa rasa ingin berterimakasih.
"Nyokap gue ...." Suara Ahmad menghentikan pergerakan Abel. "Cerai." Setelah menuntaskan perkataannya, justru Ahmad lebih dulu meninggalkan dua wanita itu yang menatap punggungnya tidak terima. Pasalnya, jika pacarnya tidak lagi menjadi suami dari janda kaya itu, bagaimana Abel akan hidup mewah seperti biasanya.
--
Saat Yazis ke rumah sakit berniat menemui putra semata wayangnya. Ia melihat Aisyah keluar ruangan Yusuf menunduk sambil sesekali menyeka sudut mata membuat lelaki paruh baya itu menggeleng tidak habis pikir.
Ada apalagi?
Dibiarkannya Aisyah pergi begitu saja, ia memilih masuk ke ruangan Yusuf.
"Nak?" panggilnya.
Yusuf menoleh, senyumnya merekah.
"Kamu gapapa?" tanya Yasiz basa-basi, padahal ia jelas bisa menebak apa yang terjadi.
"Aisyah," sebut Yusuf. "Sepertinya dia takut bertemu Umi," sambungnya sedikit menjelaskan.
"Abi sudah menebak." Kekehan Yasiz terdengar tidak heran lagi. "Maka dari itu, Abi dan Umi sudah memutuskan untuk kamu dan Aisyah sementara untuk tinggal di apartemen yang dekat dengan rumah sakit ini."
Pugung Yusuf menegak dadakan, seakan tubuhnya disergap udara segar. Ia menatap intens abinya.
"Semua demi kebaikan kita. Untuk Aisyah menenangkan dirinya, begitu juga Umi. Dan tentunya kita berdua, Syuf. Emang nggak capek ngadepin dua perempuan beda usia, tapi tingkah kekanankannya sama saja?" lanjut Yasiz tertawa ngakak, berusaha mencairkan suasana.
Yusuf ikut menyengir bahagia. Padahal dia baru saja hampir putus asa. ia baru saja berpikir bahwa dirinya akan kembali terpisahkan dengan Aisyah. Tetepi ia lupa bahwa dirinya mempunyai seorang ayah yang begitu dewasa dan bijaksana di setiap pola pikirnya.
"Tapi jangan senang dulu." Tiba-tiba ungkapan Yasiz membuat Yusuf tidak nyaman, "Abi dan Umi tidak bisa ikut mengantar kalian, karena siang ini temannya si kembar ada yang ulang tahun. Jadi seperti biasa kami akan menemaini mereka."
Yusuf pikir tadi apalagi? Ternyata .... Ah! Terserah ada acara apa yang pasti kini perasaannya tengah membuncah bahagia.
Dia dan Aisyah akan kembali satu atap! itulah point paling penting.
No debat!
--
Begitu supir pergi. Yusuf merebahkan diri di kasur, sementara Aisyah berdiri mengamati setiap pergerakan suaminya. Ia sungguh merasa bersalah ingin meminta maaf, tapi super gengsi Karena terlalu sering dimanjakan Yusuf jadi apa-apa Aisyah ingin Yusuf terus yang mengalah. Hanya saja kali ini berbeda, Yusuf tampak diam seribu bahasa. Dimobil pun sama, sepanjang perjalanan lelaki itu hanya menghadap ke arah jendela dan memejamkan mata tanpa memedulikan istrinya. Tentu saja hal itu membuat Aisyah kesal bukan main.
Segara Aisyah merangkak ke atas kasur, segera memposisikan diri menempel ke dada Yusuf yang tidur telentang. Membuat Yusuf tidak kuasa menahan senyuman, sungguh apapun tingkah yang Aisyah lakukan selalu berhasil membuat Yusuf gemas bukan main.
Aisyah mengeratkan dekapan beberapa detik, lalu sikunya menopang dirinya agar bisa menatap Yusuf dengan leluasa.
"Hmm?" Suara Yusuf membuat jantung Aisyah berdegup.
Bukannya menjauh, justru Aisyah memajukan wajahnya, lalu mengecup bibir Yusuf beberapa kali dengan cepat. Membuat Yusuf tidak tahan lagi menahan tawa bahagianya.
"Jangan cuekin aku. Aku gamau dan gasuka!" pungkas Aisyah tak terbantahkan. Yusuf hanya mengangguk tidak berdaya ingin merespons bagaimana.
Lagi, Aisyah mengecup bibir Yusuf. Namun kali ini cukup lama. Seperkian detik berikutnya Aisyah menarik kepalanya, membuat Yusuf membuka mata seperti merasa hampa tiba-tiba.
"Syah?" Yusuf memanggil.
"Apa?" balasnya acuh tak acuh.
"Haus."
Aisyah menarik napas panjang, sambil mencebikkan mulutnya. "Oke bentar."
Ketika Aisyah ingin beranjak, ditahan Yusuf pinggangnya. Dahi Aisyah berkerut bingung. "Mau ambil apa?" Aneh, Yusuf malah bertanya, bukannya tadi lelaki itu yang mengode ingin minum.
"Menurut kamu?" Sedikit sebal Aisyah menjawab.
Bibir Yusuf dimanyukan lantas berujar, "Aku mau susu."
Bibir Aisyah terbuka seketika.
Bukan soal perkataan Yusuf barusan, tapi sebab tangan lelaki itu tanpa izin mengusap dadanya.
NEXT?