
Kembali ke rumah, Aisyah menemui Abel dengan perasaan gelisah. Otak berputar-putar mencari cara bagaimana menjelaskan semua tanpa harus menyakiti perasaan wanita tersebut.
Aisyah memegang daun pintu dengan napas memburu, lalu membukanya lebar, mulut terbuka melihat ke dalam sana, Abel tergeletak di lantai dengan sang bunda yang menangis histeris di sampingnya.
"Bunda ...!" pekiknya, lekas berlari kemudian mengangkat Abel ke ranjang dengan susah payah.
Gadis itu ternyata masih sadar, tapi hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Tangan bergetar menyentuh lengan Abel yang berlumuran darah.
"Bel ... kenapa kamu lakuin ini?" Aisyah mulai terisak, sementara bunda masih luruh di sebelah ranjang.
Mimik wajah Abel berubah dingin, menepis lengan Aisyah. Seolah tak sudi dipegang secuil pun.
"Gak usah sok peduli!" kata Abel datar.
Aisyah menggeleng membuat airmatanya ikut meleleh.
"Turuti saja mau Abel, Syah!" saut Ratna berteriak di sela tangisnya.
Aisyah tersentak kaget, bunda berteriak padanya? Aisyah kembali tersedu, tak menyangka mendapat perlakuan seperti itu. Ia sangat ingat meski membuat masalah sebesar apa pun bundanya itu takkan pernah marah atau memaki barang sekali saja. Namun, kali ini, Aisyah benar-benar sakit hati.
Abel menyeringai, merasa puas dengan keadaan, lantas mengubah posisi menjadi duduk.
"Gue gak tau rasa itu kapan datang, tapi ... suami lu buat gue bener-bener sayang," lirih Abel lemah sambil menundukkan kepala, seolah dirinyalah yang paling menderita.
Aisyah termagu, isi hatinya bak benang kusut sulit diuraikan. Ia ingin menuruti keinginan Abel, tapi sisi lain Aisyah juga nggak mau mengulangi kesalahan yang nanti membuat umi kembali terpuruk.
"Syah ...." Bunda menggenggam pergelangan tangan putrinya, seakan memohon supaya Aisyah menuruti perkataannya.
Aisyah bergeming, kepalanya mendadak pening.
"Kita buat perjanjian, gimana?" tawar Abel seraya menatap Aisyah dan Sari bergantian.
Bunda mengangguk, kemudian berdiri tegap di dekat anaknya, tapi Aisyah masih setia diam.
"Gue kasih lu kesempatan tinggal sama Yusuf, tapi dengan catatan gak ada sentuh-menyentuh sedikit pun," terang Abel santai seraya bersedekap dada. Mengabaikan sakitnya sayatan yang bahkan belum mereda.
"Terus?" tanya Aisyah kemudian, menghapus pelan sudut mata.
"Anggep dia gak ada di hidup lu, setelahnya ceraikan dia."
Hening
Bunda menarik Aisyah dalam pelukan. Mereka kembali tersedu sedan.
"Turuti saja, Sayang. Bunda terlalu sakit ngeliat Abel seperti ini terus-menerus," bisik Sari lembut takut menyakiti hati sang putri.
Aisyah yang mengerti betapa traumanya bunda akan kejadian Abel, hanya bisa mencoba sabar menghadapi segalanya.
Ini bukan kali pertama Abel melakukan hal gila, setiap mencinta lalu gagal, pasti beginilah jadinya. Sari sangat paham akan hal itu, sebagai sesama sebatangkara ia tak ingin Abel hidup lebih sengsara.
Mengurai pelukan, Aisyah duduk di bibir kasur. Tangan terulur menjabat tangan Abel, seakan menerima rencana gadis itu secara keseluruhan. Meski sesak, perih dan hancur melanda, tapi ia takkan lupa budi Abel padanya sedari kecil.
"Gue janji gak bakalan bertahan lama lagi, tapi lu jangan gini, lagi ...."
Berbinar mata sayu Abel, secepat kilat merengkuh saudara angkatnya.
"Terimakasih, Syah! Lu emang yang terbaik!"
Kadang, sengaja membuat diri di posisi menderita, agar melihat seseorang bahagia. Walau jelas tahu apa dampaknya.
--
*
Mondar-mandir seperti setrikaan, Yusuf memandang cemas gerbang. Istrinya bilang akan segera pulang, tapi sudah dua jam lebih tak kunjung muncul batang hidungnya. Ditelepon berulang kali pun nihil hasilnya.
[Syah ... kamu di mana?]
Baru dikirim, terdengar gerbang dibuka. Netra hitam Yusuf langsung menangkap wanita yang sedang berjalan di sana.
Senyum tipis terukir di bibirnya, gundah gulana telah sirna bersamaan hadirnya sang istri.
"Syah ...." Dikejarnya, tapi wanita itu tetap bungkam.
"Tara ... Tari ...." Aisyah berlari ke arah mereka.
Keduanya menoleh sembari bersorak gembira menyambut Kakak ipar yang selama ini mereka rindukan.
"Kakaaak!" jerit keduanya, berlomba-lomba memeluk Aisyah.
Sedih hilang sekejap, Aisyah nggak akan meninggalkan rumah ini. Ia akan terus tinggal sampai nanti tak ada hak menginjakkan kaki di sini.
Pelupuk matanya memanas, tapi segera menengadah berharap agar tak akan ada lagi air mata. Mulai sekarang ia hanya akan bersenang-senang bersama si kembar dan umi mertuanya. Tidak lebih.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Aisyah sembari mencubit pelan pipi gembul anak kecil itu.
"Sini, Kak. Siniiii." Antusias Tari menarik baju Aisyah, sedang Tari memegang buku gambar menunjukkan hasil mereka mewarnai berbagai macam bunga.
Serempak ketiganya duduk di karpet depan TV, Aisyah berdecak kagum memandang coretan indah si kembar, sesekali mengacak rambut pendek mereka bergantian.
Sementara di ambang pintu Yusuf hanya mengamati, bahagia melihat kesayangannya tertawa lepas tanpa beban. Namun, di hati ada nyeri mendapati sikap dingin sang istri.
--
*
Keadaan sunyi, hanya dentingan sendok dan garpu yang berbunyi. Sesekali mata Yusuf mencuri pandang pada sang istri. Namun, selalu diacuhkan. Semua tampak sibuk dengan makanannya masing-masing.
"Kamu jadi ikut ngantar Si Kembar?" tanya Umi setelah menyelesaikan makan, lalu berdiri menarik lembut tangan dua putri kecilnya.
"Tentu saja, Umi," balas Aisyah tersenyum semringah.
Yusuf mengernyit bingung lantas bertanya. "Kamu ikut mereka?"
Aisyah mengangguk samar tanpa menatap siapa yang bicara, lantas mengekor di belakang Sari sembari menenteng dua tas ransel berwarna merah maroon.
"Ada masalah lagi?" tanya Abi sambil mengelap mulut dengan tissue.
Yusuf bergeming, bingung mau menjawab apa, menurutnya semua baik-baik saja, tapi entah dengan istrinya tersebut, tampak ada yang mengganjal. Namun, lagi-lagi tak dapat terpecahkan.
"Wanita memang seperti itu," ucap Abi terkekeh pelan.
"Apa Umi juga sama?"
"Lebih parah malah!"
Tawa Abi berderai, mengingat betapa susahnya mendapatkan hati Sari. Usaha takkan menghiati hasil, bukan?
"Parah gimana, Bi?" Yusuf semakin penasaran.
"Kami dijodohkan, dan kamu taulah bagaimana cara hidup dua manusia serumah yang dipaksa nikah."
"Berantem terus, gitu?" Terka Yusuf langsung mendapat jempol.
"Sekitar dua tahun bersama, Abi gak pernah menyentuh Umimu." Abi seolah menerawang ke dinding masa lalu.
"Lalu?" tanya Yusuf tak sabaran.
"Singkat cerita, Nenekmu meninggal lalu menyuruh Abi agar selalu menjaga Umi dan seiring berjalannya waktu Umi ikhlas menjalani pernikahan ini," jelas Abi panjang pendek.
"Seklasik itu?" Heran putranya.
"Tidak juga, Abi selalu berusaha yang terbaik untuk Umi, memenuhi kebutuhannya, perhatian setiap waktu dan sering-sering mengajaknya ngobrol atau jalan-jalan."
"Banyak-banyak pelajari kegemaran perempuan saja, Suf," sambung Abi tersenyum meyakinkan, sebelum melengang pergi.
Yusuf manggut-manggut, akhirnya ada secercah harapan dan sekarang ia tahu apa yang harus dilakukan.
--
*