THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 21



Bahagia, Aisyah tersenyum melihat simpul ikatan dasi yang membelit rapi leher sang suami. Perlahan meraih lengan Yusuf, lantas mengecup punggung tangannya takdzim.


Berdebar-debar, seakan ada sesuatu yang membuncah dalam diri lelaki itu. Sedikit ia membungkuk, mencium mesra kening istrinya.


"Baba berangkat kerja, ya, Sayang," pamit tersenyum semringah.


Mengangguk, Aisyah mengusap lembut pipi Yusuf. "Pergilah, cari uang yang banyak. Aku banyak mau soalnya," balasnya tertawa kecil.


"Iya, ibu rumah tangga." Pria itu mencoel hidung sang pujaan.


Lagi, tawa Aisyah berderai.


"Udah kerja sana, nanti telat ...." Aisyah mendorong tubuh suaminya supaya lekas melenggang pergi.


--


*


Berulang kali Aisyah menyapu sudut mata yang kembali berair, ada banyak luka, perih, dan sakit seakan ada benda tak kasat mata yang meremas kuat hatinya.


Abel, wanita durjana itu, tidak pernah berhenti membuat perasaan tegang. Hampir setiap detik mengirim pesan-pesan yang memancing emosi tersulut.


"Aku harus gimana lagi, ya, Allah? Ingin mempertahankan keutuhan pernikahan, tapi di sisi lain ada nyawa yang harus dijaga," lirih Aisyah seraya membuka mukena, menyudahi shalat duhanya.


Ponsel di sajadah berdering, Aisyah menarik napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri melihat si menelepone.


Tangan meraba benda pipih itu, mengangkat tepat depan muka. Lalu saat melihat, ternyata nama 'Baba' yang tertera.


Menghela napas lega, Aisyah dengan senyum mengembang langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan di telinga.


Terdengar salam dari seberang, Aisyah mengulum senyuman. Membiarkan pria tersebut berkali-kali memanggil namanya.


Wanita itu berdiri, kemudian meletakkan hape di kasur. Memilih mengganti pakaian yang cocok untuk memberi suprise ke kantor sang suami.


"Lima hari lagi," gumam Aisyah sambil menimang-nimang gamis mana yang akan dikenakan.


"Seperti halnya rezeki, jodoh pun sama. Tidak akan tertukar," sambungnya berusaha memulihkan semangat yang nyaris gentar.


--


*


Menghempaskan pinggang tepat di sebelah Nita. Wanita tersebut berada di kantin bukan untuk mengisi perut, tapi justru sibuk dengan laptop dipangkuannya. Aisyah mengetuk pelan meja. Namun, tidak ada respon.


"Hay ...." Melambai-lambai jemari Aisyah berusaha membuyarkan konsentrasi Nita.


Tidak ada jawaban, mungkin suara Aisyah tenggelam oleh bising orang berlalu lalang.


Berfikir sejenak, lalu menjentikkan jari. Kaki Aisyah yang di bawah meja dilayangkan mencari sepasang sepatu yang tak terlihat. Bermodalkan asal bergerak.


"Aw ...," pekik Nita merasakan tendangan di betisnya.


Spontan Aisyah menarik kembali kaki. Kemudian cecengesan ketika tatapan mereka beradu.


"Astaga, Ummah!" geram wanita itu, hampir saja memaki, tapi urung karena lebih dulu melihat siapa sang pelaku.


"Namaku Aisyah, bukan Ummah," ralat Aisyah menghentikan tawa.


"Ah, terserah. Lagi pula kau ini kenapa? Ganggu saja," ketus Nita, lantas melanjutkan pekerjaan, merilik kertas dalam genggaman, lalu mengetik sesuatu dengan sangat lihai.


Menit berjalan, tak ada yang bersuara di antara keduanya. Mata Aisyah mengelilingi setiap sudut kantin. Namun sang suami belum juga muncul. Sesekali ia melihat arloji, seharusnya sudah jam makan siang. Lantas kemana perginya pria itu.


Menutup laptop, Nita sungguh terusik oleh wanita yang terlihat bergerak-gerak gelisah.


"Kau ini kenapa?" tanyanya.


Menoleh, Aisyah tersenyum kikuk. "Nyari Yusuf."


Nita memutar bola mata kesal. "Datangi saja ruangannya. Bukan malah bengong di sini, makan kaga ngerecokin iya."


Menghela napas, Aisyah harus bersabar. Entah arwah apa yang sedang merasuki gadis itu, tapi yang pasti ia tidak boleh semakin memperkeruh keadaan.


"Oke, aku pergi. Maaf telah merusak mood-mu." Aisyah beranjak, meninggalkan Nita yang mengelos, merasa bersalah.


Ditepuknya jidat. "Duh, gimana nih. Gue hilang kendali lagi. Kalo dia ngadu sama Pak Yusuf, bisa berabe urusan," sesal Nita menghentak-hentakkan kaki.


--


*


"Gendong ...," renggek Aisyah sembari menyenderkan kepala di punggung tegap sang suami.


Mengelus dada, Yusuf nyaris kehilangan detak jantungnya.


"Ya Allah, Syah. Kamu mau buat saya tersungkur?"


Aisyah terkekeh, lalu melepas pelukan. "Salah sendiri, pintu enggak ditutup," balasnya tak mau kalah.


Menegakkan badan, lelaki itu berbalik, sedetik berikutnya terperangah.


"Kamu---"


Lekas Aisyah membekap mulut suaminya. "Ssttt ... aku tau, aku cantik. Enggak perlu kaget dong," ucapnya sambil meniup khimar.


Menggeleng kepala Yusuf, merasa heran mengapa kekasih hatinya itu merias wajah yang bisa dikategorikan ... menor.


"Pasti kamu mau tanya aku mau kemana, kan? Ya, pasti ke sinilah. Mengunjungi suami yang berlelah, letih, lesu-ria. Mencari nafkah untuk istrinya tercinta, tenang aja aku berdandan hanya untuk Baba seorang, yang lain mah bodo amat," cerocos wanita bergincu merah menyala itu panjang pendek.


Menggaruk tengkuk yang tak gatal, Yusuf bingung mau berbicara apa. Kalau ia berkomentar lalu secuil saja menyakiti perasaan sang istri. Malah jadi malapetaka nantinya, mending cari aman saja.


"Udah makan?" tanya Aisyah.


Yusuf mengangguk.


"Dimana? Kok aku tungguin di kantin enggak ada. Terus makan sama siapa?" Mata Aisyah menyipit, menatap penuh selidik.


Mengerling malas, Aisyah menarik badan menjauh dari pria itu, melangkah cepat ke arah kursi kebesaran sang suami.


"Kunci aja terus itu mulut, nanti aku jahit sekalian. Ditanya malah diem," sindir Aisyah setelah bokongnya menyelip di antara kursi dan meja, sambil menyilakan kaki dan bersedekap dada.


Menganga, Yusuf berpikir keras tentang hal ini. Bukankah tadi bibirnya ditutup rapat-rapat oleh telapak tangan Aisyah? Lalu, bagaimana ia menjawab. Kalaupun bersuara, pasti tidak sulit ditafsirkan.


"Tuh ... kan. Malah makin membeku. Dasar, laki-laki mah dimana aja sama, nggak peka!" Kembali Aisyah mendumel.


Seolah tuli, Yusuf membiarkan istrinya berceloteh, memilih menghampiri Aisyah yang terlihat jelas pipinya bersemu merah padam, menahan amarah.


Membungkuk sedikit, lalu mencium puncak kepala Aisyah yang dilapisi kerudung. "Kenapa, ya, kebanyakan cewek kalo lagi marah sama pasangannya. Selalu bilang begitu."


"Adun entah, ya!" ketus Aisyah, menggeser sedikit kepala, risih dengan kecupan bertubi-tubi yang Yusuf daratkan.


Menjatuhkan diri di lantai, Yusuf duduk menyila, lalu memangkas jarak, kemudian membenamkan wajah di pangkuan Aisyah.


"Pusing, Sayang ...," adunya.


Aisyah tidak menggubris.


"Capek banget."


"Tadi ketemu Ahmad di kafe sebelah, sekalian makan siang."


"Syah ...."


"Ummah ...."


Aisyah mengulum senyum, tidak berniat merespon. Cukup menikmati suara rengek manja dari sang suami.


"Kamu kenapa make-up kaya gitu?"


"Nggak usah dandan, udah manis kok. Perempuan cantik mau digimanain juga tetep menawan. Nggak akan berubah."


"Percayalah, Syah ...."


Hening


Berdecak kesal, Yusuf memiringkan muka lalu menggigit perut Aisyah. Membuat si empunya berteriak kencang sambil memukul-mukul pundak Yusuf.


Tersenyum puas, Yusuf lekas berdiri. "Lain kali--" Perkataannya terhenti saat Aisyah hendak melakukan bogem mentah untuknya.


"Awas aja, ya. Minggu depan aku kabur," ancam Aisyah. Meski mata terlihat menyorot tajam, tapi jauh di dalam lubuk hati ada nestapa yang menggerogoti.


"Aisyah ...." Suara lirih mengalun lembut, menyalur ke dalam ruangan.


Sepasang suami istri yang tengah berseteru langsung menoleh. Aisyah tergagap seketika, memandang siapa yang berada di ambang pintu sana.


--


*