THE FIRST SIGHT

THE FIRST SIGHT
BAGIAN 27



Aisyah menganga, menatap wanita setengah baya mengenakan dress ungu kombinasi putih dengan santai menggenyakkan pinggul di hadapan. Ia memejamkan kelopak mata sejenak, berharap bahwa penglihatannya salah mengenali seseorang.


"Bukalah matamu, Syah?" Suara perempuan tersebut mengalun dingin, sedikit menyinggungkan senyum sinis.


Lekas beranjak Aisyah, dadanya berdetak kencang hingga menimbulkan sesak tertahan.


"Kamu bukan Bunda!" sentaknya, lalu melenggang pergi.


Ditekannya dada kuat-kuat, lelehan crystal mulai menghujani pipi. Padahal baru saja dirinya mendapat pesan dari sang bunda, yang katanya rindu ingin berjumpa. Namun, mengapa sikap wanita itu sungguh berbeda. Bukan tatapan lembut penuh kasih sayang yang di dapatkan. Justru sorot menikam, bahkan cara berpakaian bukan lagi ajaran dari almarhum ayahnya.


--


Aisyah berdiri depan pintu kamar di mana Yusuf dirawat. Setelah memastikan dirinya baik-baik saja, ditekan handle pintu itu lalu didorong pelan. Betapa terkejutnya, ketika melihat pemandangan yang menunjukkan suaminya tengah duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan yang memegangi perut. Secepat kilat Aisyah mengampiri.


"Kamu ...." Aisyah tidak kuasa lagi menahan airmata untuk turun. Tangannya yang bergetar mencoba mengusap pipi Yusuf yang terlihat lebih tirus. "Beneran kamu, kan?" sambungnya masih tidak percaya.


Jemari lemah Yusuf berusaha menyentuh tangan Aisyah. Ia tersenyum penuh syukur karena sang istri tidak meninggalkannya dan sekarang berada disisinya.


"Kok kamu nggak jawab aku sih!" Sedikit kesal Aisyah berkata. Ia rindu, jelas. Namun, mengapa lelaki itu malah begitu.


Yusuf terkekeh mendengarnya, "Istrinya Baba," ucap Yusuf pada akhirnya.


Mendengar hal itu gegas Aisyah memeluk Yusuf sangat erat. "Jahat kamu ya!" balasnya merajuk. "Ngeliat kamu koma, aku mau mati rasanya!"


Yusuf tidak ingin menjawab apa-apa ia hanya menikmati pelukan yang jarang diperoleh selama menikah.


"Aku boleh cerita nggak?" Sedikit mendongak kepala Aisyah agar melihat sang suami.


Anggukan tulus diberikan Yusuf.


"Kayanya ...."


"Hmm?"


"Umi benci deh sama aku," ungkap Aisyah lesu.


"Kenapa mikir gitu?" Diusap Yusuf kepala Aisyah begitu lembut.


Aisyah diam, menarik napas panjang lalu memilih menunduk dan merengkuh suaminya lagi. Ia sangat enggan membahas hal tersebut, takut menangis tentunya.


"Aisyah ...," panggil Yusuf teramat lembut.


Aisyah menggeleng pelan.


Lelaki itu langsung peka bahwa istrinya tidak ingin menceritakan apa pun lagi.


"Mau makan?" tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan.


Seolah berpikir terlebih dulu, keseperkian detik berikutnya baru menjawab, "Makan kamu aja, boleh?"


Refleks Aisyah menarik badan menjauh, pipinya terlihat merona. "Aku nggak ngerti ya pokoknya." Seusai mengatakan itu, tunggang langgang kakinya keluar ruangan.


Sementara Yusuf hanya tertawa bahagia. "Sungguh menggemaskan," tukasnya.


--


Kalau dipikir-pikir mengapa Aisyah begitu salah tingkah saat diajak becanda oleh suami. Harusnya ia menikmati memen-momen langka tersebut, sebab quality time mereka sangat kurang, apalagi banyak konflik yang berdatangan solid berganti. Saat diberi kebersaaman yang tenang malah Aisyah keluar rumah sakit mencari cemilan demi menghilangkan rasa gugupnya.


Digeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran sendiri. Setelah mendapatkan beberapa makanan ringan ia kembali ke kamar Yusuf. Namun, ketika hendak membuka pintu samar-samar ia mendengar ada suara orang mengobrol di dalamnya. Aisyah menghela napas panjang, itu suara mertuanya. Tentu saja ia mengenali.


Hening cukup panjang.


Akhrinya Aisyah memberanikan diri untuk menemui orang-orang di dalam sana. Teramat pelan ia mendorong pintu. Benar saja di sisi kanan Yusuf terdapat Sari dan Yasiz. Aisyah membatu ditempat.


Sari menatap tajam menantunya. "Balik lagi? Umi pikir kamu mau kabur ninggalin Yusuf untuk kesekian kalinya," sindirnya begitu kejam.


Tak sanggup Aisyah membalas perkataan Sari. Ia memilih diam.


Aisyah mendongak, matanya mulai berkaca-kaca. Ingin sekali Yusuf mendekat dan menenangkan, tapi tangannya ditahan oleh Yasiz seakan mengatakan bahwa dua lelaki itu cukup menyaksikan dan mendengarkan.


"Umi ...." Akhirnya suara pelan itu keluar dari bibir Aisyah. Panas dingin tubuhnya kian ketakutan, tapi ia nekat mendekat. "Maaf Umi," lanjutnya.


"Boleh Umi nanya?" tanya Sari sambil bersedekap dada.


Aisyah hanya mengangguk.


"Umi punya salah apa sama kamu?"


Menggeleng kepala Aisyah.


"Terus kenapa kamu bersikukuh mau keluar dari rumah itu?"


Diam, Aisyah pun tidak tahu apa alasannya selama ini.


"Kalau kamu cuma butuh kebebasan kenapa nggak bilang dari awal? Umi pasti kabulin apa aja mau kamu, pernah Umi larang Aisyah ngapa-ngapain? Enggak, kan! Kamu masih mau hidup seperti saat masih gadis? Umi gapapa Nak, terserah kamu mau keluar main sama teman kuliahmu berangjat jam berapa pulang jam berapa silahkan yang penting jangan pernah lupa ijin sama suamimu atau Umi yang di rumah. Supaya kami nggak khawatir. Lagi, palagi? Coba bilang sama Umi, hal apa yang bikin kamu pengen banget jauh sama mertuamu ini?"


Hening.


Benar-benar merasa bersalah Aisyah selama ini, tingkahnya sungguh kekanak-kanakan. Ia tidak berunding dengan siapapun, asal cari solusi kabur. Benar-benar merugikan pihak keluarga suaminya.


"Gimana perasaan kamu waktu Umi nggak bolehin kamu ketemu Yusuf? Sakit nggak? Itu yang dirasain Yusuf waktu kamu pulang ke rumah orangtuamu tanpa mengabari Yusuf dan tidak mau bertemu sama sekali. Umi sampe berpikir cerai saja sekalian karena Umi nggak tega liat Yusuf yang terlalu mengemis. Umi sakit hati banget Syah, tapi ditahan cuma demi melihat Yusuf memperjuangkan bidadarinya." Panjang lebar Sari berkata dengan napas tersengal menahan kesal, membayangkan figur anaknya yang begitu memilukan hingga harus koma di rumah sakit berhari-hari.


"Syah ...." Kali ini Yusuf yang memanggil, ia sudah tidak tahan lagi melihat Aisyah yang kini mengusap genangan air sudut matanya.


"Maaf Umi, Aisyah minta maaf ...." Hanya itu, Aisyah tidak mampu membela diri secuil pun.


"Jadi?" Sari meminta jawaban.


"Apa?" Aisyah tidak mengerti.


"Tetep disisi Yusuf atau ingin pergi?"


Hening.


"Tetap di rumah bersama Umi atau pindah?"


Aisyah meremas kedua tangannya yang bertautan. Ia sungguh kehilangan kata-kata.


"Misalnya kamu dirumah itu Umi dibabuk-babuin ya wajar kamu ngerasa nggak nyaman, karena kan kamu jadi princess dirumahmu yang dulu. Lah ini? Mana ada Umi nyuruh-nyuruh Aisyah? Masak aja Umi selalu bilang gapapa Aisyah duduk aja. Karena Umi nggak mau Aisyah capek, nggak mau Aisyah bau dapur. Umi maunya Aisyah jadi ratu aja. Cuma temanin Umi makan, ngobrol, gitu-gitu aja Syah. Umi nggak minta lebih. Ada Yusuf Umi kasih kalian waktu berduaan. Kalian ada masalah mana Umi pernah ikut campur? Umi pantau dari jauh, sesekali Umi nasehatin Yusuf supaya nggak nyakitin hati kamu. Jadi ... letak jahatnya Umi ini di mana, Nak?"


Hening


"Maaf kalau Umi harus perjelas semuanya. Umi pamit, kamu pikirkan matang-matang langkah apa yang harus kamu pilih selanjutnya." Setelah menyelesaikan kalimatnya. Sari melenggang pergi, disusul Yazis di belakang mengikuti. Meninggalkan sepasang suami-istri tersebut.


"Aisyah?" Kembali Yusuf memanggil.


Aisya mendekat. Ia tidak berbicara apa-apa, hanya mendaratkan kepalanya di dada Yusuf seolah-olah mencari ketenangan di sana, lantas memejamkan mata sembari menangis dalam diam. Yusuf yang pengertian tidak ingin bertanya keadaannya. Ia mengusap punggung dan puncak kepala istrinya bergantian. Berharap dengan begitu sesak yang dirasakan Aisyah bisa berkurang.


--


Di dalam mobil. Sari diam, begitu pun Yasiz yang tenang menyisir kota menuju rumah.


"Umi jahat banget ya?" Tiba-tiba Sari bersuara memecah kesunyian.


Yasiz menoleh, lalu tersenyum. "Sedikit," jawabnya.


"Umi nggak tega banget tadi ngomong gitu, tapi kalau dipendam terus malah yang ada Umi dendam sama Aisyah. Jadi, menurut perspective Umi alangkah lebih baik diomongin semuanya, tapi ... Umi salahnya nggak ngobrol baik-baik sama Aisyah. Harusnya nggak kaya tadi kan, ya, Bi?"


"Umi, selalu jadi Umi yang terbaik," puji Yasiz. "Dengan Umi seperti tadi saja sudah mampu membuka pikiran Aisyah yang selama ini nggak dia tau. Aisyah itu masih terlalu muda untuk mengerti keadaan, dia masih sangat-sangat perlu bimbingan." Sebelah tangan kiri Yasiz mengusap punggung tangan Sari. "Umi hebat mau terang-terangan soal masalah tadi. Sekarang jangan dibawa pikiran ya, kita perbaiki semuanya melalui Jalur saling memaafkan."


Mengangguk kepala Sari, kini sedikit lega hatinya.